Bagi Agus Nuryanto (53), melukis tak hanya sekadar hobi, melainkan juga tanggung jawab moral. Ia tetap melukis di tengah pekerjaan utamanya sebagai desainer mebel. Setiap tahun ia punya komitmen untuk selalu mengadakan pameran. Begitu memutuskan keluar dari pekerjaannya dan membuka usaha wedang uwuh, ia tetap menekuni hobi melukis. Agus rela berutang dengan bank agar bisa terus mengadakan pameran lukisan.
Sejak kecil, Agus sudah punya hobi menggambar. Hobi itu terus berlanjut saat ia duduk di bangku kuliah. Demi meneruskan hobinya, ia masuk jurusan Seni Lukis Institut Seni Indonesia (ISI) di Solo pada tahun 1992.
Saat itu untuk pertama kali dalam hidupnya, Agus ditunjuk untuk menjadi ketua panitia dalam sebuah pameran lukis. Pameran itu mengangkat tema soal wayang. Walaupun belum punya pengalaman sebelumnya, pameran itu berjalan sukses.
“Sejak saat itu saya ketagihan membuat pameran,” ujar Agus saat ditemui Merdeka.com pada Minggu (4/6).
Advertisement
Rela Berutang di Bank Demi Pameran
Setelah lulus kuliah pada tahun 1997, Agus tetap rutin menggelar pameran bersama teman-temannya. Saat itu, ia bergabung dengan berbagai komunitas lukis. Ia juga membuat komunitas sendiri dan menginisiasi berbagai pameran lukis.
Bahkan di sela-sela pekerjaannya sebagai seorang desainer produk di sebuah perusahaan, Agus tetap meneruskan hobi melukisnya.
“Selama dua puluh tahun, saya bekerja di perusahaan mebel. Di tahun 2020, saya putuskan untuk selesai. Setelah dua puluh tahun saya merasa sudah mentok. Karier tidak akan naik. Seharusnya saya tidak menunggu selama itu,” katanya.
Agus sebenarnya sudah punya rencana untuk keluar pada tahun 2013. Pada tahun itu ia harus mengadakan pameran tunggal di Jakarta. Demi pameran itu, ia minta izin tiga minggu kepada atasannya untuk cuti.
“Kalau tidak diizinkan artinya saya harus nekat, dan itu konsekuensinya besar. Tapi ternyata saya diizinkan. Saya dapat surat cuti. Karena saya boleh kerja lagi, saya nggak enak kalau keluar. Saya sudah terlanjur jadi anak emas perusahaan. Semuanya pasti nggak boleh cuti selama itu kecuali aku. Akhirnya saya harus berbaik hati dengan perusahaan,” kata Agus.
Untuk mengadakan pameran di tahun 2013 itu, Agus pertama kali berutang pada bank. Tiga tahun berhasil melunasi, ia kembali meminjam bank untuk modal mengadakan pameran berikutnya.
“Karena bank percaya dengan saya, jadi saya harus bisa menjaga hubungan dengan mereka agar jangan sampai terputus. Jadi saya punya rencana seperti ini, anggarannya sekian, jadi saya pinjam sekian, sesuai dengan kebutuhan. Dan nanti pembayarannya jangan sampai nunggak. Di situ bank akan semakin percaya,” katanya.
Advertisement
Arti Melukis bagi Agus Nuryanto
Agus sudah dua kali mengajukan pinjaman uang dari KUR BRI. Menurutnya, proses peminjaman dari KUR BRI akan semakin mudah apabila pihak bank sudah percaya. Dengan peminjaman itu, Agus punya modal untuk mengadakan pameran dan membangun studio seni lukis di rumahnya.
Bagi Agus, sebuah pameran merupakan suatu hal yang penting bagi pelukis untuk membangun dan mempertahankan reputasi. Apalagi namanya sudah terlanjur terkenal dengan branding “Wayang Jewer”. Setiap lukisannya punya ciri khas selalu menyelipkan tokoh wayang.
“Sejak kuliah wayang selalu menjadi sudut pandang lukisan saya. Kata ‘jewer’ itu kan maknanya telinga ditarik. Tapi di tiap lukisan, wayang yang di’jewer’ itu ditarik pipinya. Saya membuat narasi mencintai wayang itu dengan cara menjewer. Kalau kita sayang dengan anak, yang dijewer pipinya. Kalau lukisan saya, wayang itu dijewer pipinya,” terangnya.
Bagi Agus, melukis adalah “passion”. Namun di sisi lain, melukis juga merupakan tanggung jawab moral karena dia sudah memilih terjun ke dunia seni rupa. Melalui lukisan, ia menyampaikan berbagai gagasan yang ingin diungkapkan.
Selepas berhenti dari perusahaan mebel, Agus menjalani usaha UMKM dengan produk Wedang Uwuh bersama istri dan anaknya. Namun di samping itu ia tetap melukis demi menuangkan ide serta gagasan kreatif agar tidak hilang terpendam.
“Dalam dunia kesenian itu kita tidak boleh putus berkarya. Kalau kita sudah tidak produktif lagi, ini akan menjadi nilai buruk baik di mata kolektor maupun teman-teman seniman lain. Jadi seniman itu pekerjaan yang tidak boleh berhenti,” ungkapnya.