Puasa Syawal adalah salah satu jenis puasa sunah yang sangat dianjurkan bagi umat Muslim. Puasa Syawal dilakukan selama enam hari pada bulan Syawal setelah selesai melakukan ibadah puasa Ramadan. Puasa Syawal dianjurkan sebagai bentuk syukur atas nikmat dan rahmat Allah SWT yang diberikan kepada umat Muslim dalam menunaikan ibadah puasa selama Ramadan.
Selain itu, puasa Syawal juga dianggap sebagai salah satu cara untuk memperkuat komitmen dalam menjalankan perintah Allah SWT dan meningkatkan keimanan serta ketakwaan kepada-Nya. Namun, sebagian dari Anda mungkin masih bingung tentang pelaksanaan puasa di bulan Syawal.
Terutama, bagi perempuan yang memiliki tanggungan qadha puasa Ramadan yang tertinggal karena siklus menstruasi. Dengan begitu, penting bagi Anda untuk memahami seperti apa panduan puasa Syawal dan aturan pelaksanaannya. Dalam hal ini, Anda perlu mengetahui hukum pelaksanaan, waktu pelaksanaan, tata cara, hingga bacaan niat puasa Syawal yang benar.
Dengan memahami aturannya, maka Anda bisa menunaikan ibadah puasa Syawal dengan baik sesuai dengan syariat Islam. Dikutip dari laman NU Online, berikut kami merangkum panduan puasa Syawal dan niatnya, bisa Anda simak.
Advertisement
Hukum Pelaksanaan dan Keutamaan Puasa Syawal
Pertama yang akan dijelaskan dalam panduan puasa Syawal adalah hukum dari pelaksanaan puasa sunah ini. Seperti diketahui, umat Muslim dianjurkan untuk menunaikan puasa sunah setelah bulan Ramadan, yaitu di bulan Syawal selama 6 hari.
Dalam hadist riwayat Imam Muslim, dijelaskan “Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian dilanjutkan dengan enam hari dari Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun.” Dengan begitu, umat Islam yang menjalankan amalan sunah ini maka bisa mendapatkan berkah dan pahala kebaikan dari Allah.
Namun, sebagian dari Anda tentu bertanya bagaimana hukum pelaksanaan puasa Syawal bagi perempuan dan beberapa orang dalam berbagai kondisi. Dalam hal ini, perempuan yang memiliki tanggungan puasa wajib, baik qadha puasa Ramadan atau puasa nazar, maka hukum puasa Syawal adalah sunah.
Sementara bagi orang yang memiliki utang puasa Ramadan karena uzur (seperti alasan sakit, perjalanan jauh, dan lainnya) hukum puasa Syawal adalah makruh. Sedangkan bagi mereka yang tidak berpuasa Ramadan karena kesengajaan dan tanpa uzur, maka hukum puasa Syawal haram dilakukan. Dijelaskan, sebaiknya umat muslim mengutamakan terlebih dahulu puasa wajib baru kemudian puas sunah, termasuk puasa Syawal.
Advertisement
Aturan Waktu dan Bacaan Niat Puasa Syawal
Setelah mengetahui hukum pelaksanaan dan keutamaannya, berikutnya akan dijelaskan aturan waktu dan bacaan niat puasa Syawal. Waktu pelaksanaan puasa Syawal baiknya dilakukan selama 6 hari berturut-turut. Misalnya mulai dari tanggal 2 Syawal maka akan berakhir pada tanggal 7 Syawal.
Namun, dijelaskan pula, orang yang menunaikan puasa di luar tanggal itu serta tidak berurutan, maka tetap mendapat keutamaan puasa Syawal yaitu seperti berpuasa selama setahun penuh. Dengan begitu, bagi Anda yang mampu untuk puasa Syawal 6 hari berturut-turut maka itu adalah lebih utama. Jika tidak mampu, maka bisa berpuasa kapan saja selama 6 hari selama masih di bulan Syawal.
Sementara bacaan niat untuk puasa Syawal memiliki lafal tersendiri. Lafal niat puasa Syawal ini hendaknya dibaca di malam hari sebelum menunaikan puasa Syawal. Berikut lafal niat puasa Syawal di malam hari:
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ
Artinya: Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah Taala.
Namun, jika Anda lupa membaca lafal niat puasa Syawal di malam hari, maka masih diperbolehkan untuk membaca niat di siang harinya. Berikut lafal niat puasa Syawal di siang hari dan artinya:
Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ
Artinya: Aku berniat puasa sunah Syawal hari ini karena Allah Taala.
Setelah membaca niat, maka Anda dapat berpuasa seperti puasa wajib pada umumnya. Puasa sunah ini dimulai setelah subuh dan diakhiri di waktu petang, tepatnya setelah adzan magrib berkumandang. Selama berpuasa, hendaknya Anda tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menghindari berbagai hal yang dapat membatalkan puasa.
Beberapa hal yang perlu dihindari dan berisiko membatalkan puasa seperti melakukan hubungan seksual di siang hari atau saat berpuasa, memasukkan obat atau benda lain melalui dua jalan (qubul dan dubur), muntah dengan sengaja, dan keluarnya air mani yang disebabkan oleh bersentuhan kulit, onani, atau tindakan sengaja lainnya.