Mendidik anak merupakan suatu tantang yang tidak mudah bagi setiap orang tua. Di mana orang tua harus mendampingi perkembangan anak dari masa ke masa. Terutama saat masih dalam tahap kanak-kanak, pendampingan dan pengawasan khusus perlu diberikan dengan baik.
Selain memberikan pendampingan dan pengawasan, penting juga bagi orang tua untuk mengenal ciri-ciri atau karakter anak pada masa kanak-kanak. Dalam hal ini setiap anak mempunyai sifat atau karakter yang bermacam-macam. Mulai dari anak yang memiliki sifat ramah, penutup atau tidak mau banyak berinteraksi, pemalu, hingga anak yang pemarah.
Sebagian orang percaya bahwa seorang anak dapat mewarisi sifat dari orang tua. Di mana faktor genetik bertanggung jawab tentang hal ini. Penyataan ini tentu tidak salah, namun perlu dipahami bahwa genetik bukan satu-satunya faktor pada sifat dan karakter anak.
Dalam hal ini, terdapat beberapa faktor lain yang memberikan pengaruh pada sifat dari anak. Di mana faktor lingkungan, termasuk budaya, lokasi geografis, hingga pendidikan juga memberikan pengaruh pada pembentukan dan perkembangan sifat anak. Lalu sifat apa saja yang diwarisi oleh orang tua.
Dilansir dari laman Crystal Know, berikut kami merangkum berbagai alasan seorang anak dapat mewarisi sifat dari orang tua dan lingkungan yang bisa disimak.
Advertisement
Faktor Genetik
Seperti disebutkan sebelumnya, seorang anak dapat mewarisi sifat dari orang tua. Dalam hal ini, karakteristik khusus dikaitkan dengan genom yang berbeda. Tak heran, jika sifat dan karakteristik seseorang bisa bergantung salah satunya pada faktor genetik.
Faktanya, sebuah penelitian menemukan bahwa 20%-60% temperamen anak ditentukan oleh genetika. Artinya, sifat temperamen ini dapat diwarisi dari orang tua. Selain itu, gen primer spesifik terlibat dalam komunikasi sel di dalam otak, yang secara langsung memengaruhi kepribadian dan perilaku seseorang.
Memiliki gen tertentu dapat secara signifikan memengaruhi kemampuan bersosialisasi, kecenderungan kecemasan atau depresi, pengendalian diri, dan banyak lagi.
Studi yang sama menunjukkan bahwa ciri-ciri kepribadian seseorang dapat berkembang menjadi dewasa berkat pengalaman dan peristiwa hidup, namun temperamen inti umumnya tetap sama. Ini menunjukkan bahwa pada temperamen inti terdiri dari sifat-sifat spesifik yang memiliki komponen genetik.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa ciri-ciri kepribadian genetik yang diwariskan dari orang tua terdiri dari beberapa hal, yaitu sebagai berikut:
- Keteralihan
Ketidakmampuan belajar spesifik yang dihasilkan dari tingkat keteralihan yang tinggi, seperti ADHD, telah ditemukan terkait dengan banyak gen yang diturunkan. Setelah hampir 2.000 penelitian, telah ditemukan bahwa gen yang biasanya terkait dengan ADHD sering diturunkan dalam keluarga. Biasanya, jika seseorang mudah terganggu dan didiagnosis dengan kondisi seperti ADHD, kerabat darah lain atau orang tua juga sangat mungkin mengalaminya.
- Kepemimpinan
Dalam studi yang lebih baru, urutan DNA warisan spesifik ditemukan berkorelasi dengan kemampuan kepemimpinan. Dalam studi ini, genotipe tertentu ditemukan terkait dengan kemampuan kepemimpinan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Sementara sebagian orang juga percaya bahwa kepemimpinan mungkin masih dianggap sebagai keterampilan yang dapat dikembangkan.
- Neurotitisme
Selama studi kembar Minnesota, para ilmuwan menemukan bahwa sifat-sifat tertentu, termasuk neurotisisme, dapat diwariskan. Orang dengan sifat ini lebih rentan terhadap stres dan sering terlihat lebih gugup dan sensitif terhadap rangsangan, sedangkan mereka yang tidak memiliki sifat ini mungkin memiliki sikap yang lebih positif dan tenang.
Advertisement
Faktor Lingkungan
Terakhir, seorang anak dapat mewarisi sifat dari faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang dimaksud dapat berupa lokasi geografis atau tempat tinggal, budaya, masyarakat di sekitar, hingga faktor pendidikan. Beberapa hal ini dapat menjadi pengaruh seorang anak mewarisi sifat dari lingkungan tempatnya berada.
Dalam hal ini, faktor lingkungan dapat menghasilkan beberapa ciri-ciri kepribadian, seperti kesabaran, keintiman dan etiket. Pertama, lingkungan tempat anak dibesarkan dapat mempengaruhi tingkat kesabaran dan reaksi mereka terhadap stresor. Sebuah studi yang mengukur kesabaran anak-anak di luar negeri menemukan bahwa mereka yang tinggal di lokasi yang lebih terpencil dan pedesaan cenderung lebih sabar daripada mereka yang tinggal di lokasi kota yang lebih maju.
Kemampuan untuk bersabar dan toleran terhadap ketidakpastian bervariasi secara signifikan berdasarkan lokasi, menunjukkan bahwa lingkungan sangat mempengaruhi sifat ini.
Kedua, sifat kebutuhan akan keintiman juga lebih didasarkan pada lingkungan dibandingkan genetika. Para peneliti menemukan bahwa dua pertiga dari sifat kepribadian ini bergantung pada pengalaman masa lalu. Seseorang yang dibesarkan dalam lingkungan yang tidak mencintai atau individualistis mungkin memiliki kebutuhan akan keintiman yang lebih rendah.
Berarti anak dengan kondisi tersebut cenderung menjaga diri mereka sendiri dan tidak memiliki keinginan yang kuat untuk berada dalam hubungan atau situasi yang intens secara emosional. Dengan kata lain, kondisi yang memaksa mereka untuk menjadi pribadi yang kuat secara mandiri.
Terakhir, seorang anak dapat mewarisi sifat dari lingkungan yang berupa etiket. Orang-orang dalam komunitas atau budaya yang berbeda akan memiliki praktik yang kontras dalam hal sopan santun dan etiket. Seseorang yang sopan dan berperilaku baik biasanya memiliki pendidikan yang berbeda dari orang yang bertindak sebaliknya.
Misalnya, dalam budaya Amerika, adalah sopan untuk mengatakan "tolong" atau mengirim kartu ucapan "terima kasih" setelah menerima hadiah. Di Spanyol, menyapa orang lain dengan ciuman adalah sopan. Etiket bervariasi tergantung pada budaya dan karena itu memiliki efek yang berbeda pada perkembangan kepribadian.