Menunggu Dieksekusi, Ini Kisah Terpidana Mati di Rembang Jalani Keseharian di Lapas

Tersangka kasus pembunuhan satu keluarga di Rembang, Sumani (45), kini menjalani hari-hari terakhirnya di dalam sel tahanan Rutan Rembang sembari menunggu hukuman mati yang akan ia jalani. Lantas bagaimana keseharian dia di dalam sel tahanan?

Shani Ramadhan Rasyid
Oleh Shani Ramadhan Rasyid - Reporter
Menunggu Dieksekusi, Ini Kisah Terpidana Mati di Rembang Jalani Keseharian di Lapas
Terpidana mati kasus pembunuhan di Rembang. ©YouTube/Musyafa Musa

Pembunuhan satu keluarga beranggotakan empat orang yang terjadi di Rembang yang terjadi pada 3 Februari 2021 menyisakan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Hukuman mati pun dijatuhi kepada tersangka Sumani (45) yang tak lain merupakan rekan salah satu korban, Almarhum Ki Anom Subekti.

Kini, Sumani menjalani hari-hari terakhirnya di dalam sel tahanan Rutan Rembang. Demi menjaga ketenangan jiwanya, petugas Lapas mendatangkan tiga orang pembimbing yang bertugas menemani hari-harinya. Namun ternyata Rutan Rembang hanya persinggahan sementara bagi Sumani.

“Untuk Sumani, kemarin saya datangkan tiga orang. Yang pertama guru ngajinya yang mengajari dia supaya tidak melamun, yang kedua pembantu Sumani, yang satunya penjaga keamanan. Artinya semua terus kita pantau untuk menjaga Sumani,” kata Supriyanto, Kepala Rutan Rembang, dikutip dari kanal YouTube Musyafa Musa pada Senin (10/1).

Lantas bagaimana aktivitas Sumani menjalani keseharian di Rutan Rembang? Berikut selengkapnya.

Bikin Napi Lain Geram

Karena perbuatan kriminal yang dilakukan Sumani tergolong berat, pada saat pertama kali masuk rutan ia mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari napi lainnya. Mereka geram atas perbuatan Sumani. Yang membuat mereka geram adalah perbuatan Sumani yang sampai membunuh anak kecil.

“Yang bikin masalah itu anak kecilnya. Tapi apa daya. Di dalam penjara ini saya selalu tanamkan jangan menganiaya sesama teman. Semuanya di sini saudara kita,” ujar Supriyanto, mengutip dari kanal YouTube Musyafa Musa.

Keseharian di Lapas

Selama di Lapas, Sumani menghabiskan hari dengan belajar mengaji. Berkat bimbingan pihak lapas Sumani mulai rajin beribadah.

“Sumani dari awal masuk peningkatannya luar biasa. Tujuh puluh persen dia belajar ibadah,” kata Supriyanto.

Dipindah ke Lapas Lain

Namun Rutan Rembang hanya menjadi persinggahan sementara buat Sumani. Sudah sempat merasa nyaman berada di sana, akhirnya dia terpaksa dipindah ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pati.

Menurut Supriyanto, Sumani dipindah karena alasan keamanan. Hal ini karena penjaga rutan terbatas dan ancaman kekerasan dari penghuni rutan lainnya selalu muncul. Selain itu pemindahan itu juga sudah menjadi perintah pimpinan karena rutan tersebut memang bukan tempatnya untuk terpidana mati.

Sumani Menangis

Saat mulai rajin beribadah, Sumani justru harus menerima keputusan dipindah itu. Sewaktu akan dipindah, Sumani terlihat menangis karena berharap ingin belajar mengaji di Rutan Rembang hingga akhir hayatnya.

Setelah dipindahkan ke Lapas Pati, kemungkinan Sumani akan dipindah lagi ke Lapas Kelas I di Semarang. Jika upaya bandingnya ditolak dan harus menjalani eksekusi mati, ia akan dipindah ke Lapas Nusakambangan.

“Pembinaan kita sebatas pada waktu dia ada di sini. Sekarang pembinaannya kita serahkan sepenuhnya ke Lapas Pati. Jadi kita sudah tidak berhak lagi untuk membinanya,” kata Supriyanto, mengutip dari kanal YouTube Musyafa Musa pada 10 Januari 2022.

Rekomendasi