Sempat Hidup Menderita di Wilayah Konflik, Begini Cerita Masa Kecil Jeremy Teti

Selain kariernya yang menarik untuk dibahas, Jeremy Teti punya masa kecil yang jarang orang tahu. Ternyata masa kecil Jeremy Teti cukup menderita.

Denny Marhendri
Oleh Denny Marhendri - Reporter
Sempat Hidup Menderita di Wilayah Konflik, Begini Cerita Masa Kecil Jeremy Teti
Jeremy Teti. Instagram/tetijeremy ©2020 Merdeka.com

Jeremy Teti dikenal masyarakat sebagai pembawa berita di stasiun televisi SCTV dalam acara Liputan6. Kemudian, di tahun 2013 ia resmi pensiun sebagai pembawa berita dan memutuskan untuk terjun ke dunia hiburan.

Selain kariernya yang menarik untuk dibahas, Jeremy Teti punya masa kecil yang jarang orang tahu. Ternyata masa kecil Jeremy Teti cukup menderita.

Jeremy Teti menceritakan kenangan-kenangan masa kecilnya. Ia juga bercerita mengenai bagaimana kondisi wilayah konflik yang ditinggalinya pada saat itu.

Perang Timor Timur

Hal itu diungkapkan Jeremy Teti dalam video perbincangannya bersama Helmy Yahya yang diunggah di kanal Youtube Helmy Yahya pada beberapa hari lalu. Dalam kesempatannya tersebut, Jeremy menceritakan kisah masa kecilnya.

Seperti yang diketahui, Jeremy Teti lahir dan besar di Atambua, Nusa Tenggara Timur. Pada saat Jeremy kecil, wilayah tersebut menjadi wilayah yang berdekatan dengan konflik Timor Timur dengan Protugis.

"Tahun 1975 tuh aku SD kelas 3 apa 4 gitu dan aku juga waktu itu sekolahnya waktu perang Timor Timur itu, aduh hidup menderita sekali di sana," ungkap Jeremy Teti.

Zaman Sekolah

Jeremy Teti membagikan kisahnya tentang bagaimana ia harus berpindah-pindah sekolah. Tak hanya berpindah-pindah sekolah, pada saat itu ia terpaksa bersekolah di tempat pengungsian.

"Duduknya di atas karung-karung beras, di atas mie instan, di atas kaleng-kaleng susu," tambah Jeremy.

Ternyata kondisi di masa kecilnya tersebut memberikan pengaruh terhadap mental Jeremy Teti. Di kemudian hari, Jeremy Teti merasa lebih berani dengan kondisi yang kacau seperti saat ia harus melakukan liputan konflik di Timor Leste pada tahun 1999.

"Ya kayaknya aku jadi lebih berani deh. Jadinya terbiasa dengan darah, luka, tentara kena tembak segala macam," ucap Jeremy Teti.

Rekomendasi