Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Niat Shalat Istisqa dan Tata Caranya, Amalan Meminta Hujan

Niat Shalat Istisqa dan Tata Caranya, Amalan Meminta Hujan Ilustrasi hujan. ©Pixabay/PublicDomainPictures

Merdeka.com - Hujan merupakan salah satu berkah dari Allah yang memberikan banyak manfaat bagi kehidupan. Turunnya hujan, dapat menyuburkan tanah dan memudahkan tumbuhan untuk berkembang dan berbuah. Bukan hanya itu, hujan juga memberikan persediaan air yang berguna bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Dengan itu, dapat dikatakan bahwa hujan merupakan salah satu hal penting yang dibutuhkan manusia dan makhluk hidup di bumi. Tanpa turunnya hujan, kondisi lingkungan bisa menjadi kering, persediaan air untuk kebutuhan sehari-hari semakin menipis, dan risiko kekeringan yang mengancam keselamatan makhluk hidup akan meningkat.

Baca juga: Tata cara shalat istiqa untuk meminta turun hujan

Ini merupakan kondisi sulit yang sering terjadi dalam waktu tertentu, termasuk di Indonesia saat musim kemarau panjang melanda. Namun, terdapat amalan yang bisa dilakukan untuk memohon turunnya hujan dari Allah, yaitu shalat istisqa. Dengan shalat istisqa, Anda bisa memohon rahmat hujan dan memohon perlindungan Allah dari risiko kekeringan dan kemarau panjang.

Seperti amalan sholat sunah lainnya, terdapat lafal niat yang harus dibaca dalam shalat istisqa. Amalan shalat sunah ini dilakukan dengan dua rakaat, yang memiliki tata cara mirip seperti shalat Idul Fitri. Lalu seperti apa niat, tata cara, dan doa khusus untuk meminta hujan.

Dilansir dari NU Online, berikut kami merangkum niat shalat istisqa beserta tata cara dan doanya yang bisa Anda praktikkan.

Mengenal Shalat Istisqa

ilustrasi sholat

©2021 Merdeka.com/pexels-ali-arapoğlu

Shalat istisqa merupakan amalan shalat sunah yang dianjurkan bagi umat muslim untuk memohon turunnya hujan. Amalan ini dapat dilakukan ketika mengalami kemarau panjang, di mana persediaan air minum, air untuk mengairi sawah, dan air untuk keperluan sehari-hari semakin menipis dan langka.

Kondisi kemarau panjang ini juga bisa meningkatkan risiko kekeringan yang mengancam keselamatan manusia, makhluk hidup lainnya, dan lingkungan. Dengan begitu, umat muslim dalam menunaikan amalan shalat istisqa dua rakaat untuk memohon rahmat turunnya hujan dari Allah.

Tata cara shalat sunah ini mirip seperti shalat Idul Fitri yang melibatkan pembacaan khutbah dan pembacaan takbir. Meskipun begitu, terdapat beberapa hal rukun dalam tata cara shalat istisqa yang membedakan dari shalat Id. Penjelasan lebih lengkap akan dirangkum pada halaman berikutnya.

Niat dan Tata Cara Shalat Istisqa

Sama seperti amalan shalat lainnya, shalat istisqa diawali dengan membaca bacaan niat terlebih dahulu. Membaca niat shalat, termasuk dalam shalat sunah, merupakan hal wajib yang harus dilakukan. Dengan membaca niat, Anda bisa menyampaikan maksud pelaksanaan ibadah dengan jelas. Membaca niat shalat juga menunjukkan sikap baik saat hendak menghadap dan memohon kepada Allah. Berikut lafal niat shalat istisqa yang perlu dibaca:

Ushallī sunnatal istisqā’i rak‘ataini ma’mūman lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja shalat sunnah minta hujan dua rakaat sebagai makmum karena Allah SWT.”

Setelah membaca niat, terdapat beberapa tata cara shalat istisqa yang perlu diperhatikan. Mulai dari membaca takbir pada setiap rakaatnya, melaksanakan khutbah, hingga membaca doa. Berikut tata cara shalat istisqa yang perlu Anda perhatikan:

  • Membaca lafal niat shalat istisqa.
  • Rakaat pertama takbir tujuh kali sebelum membaca surat Al-Fatihah.
  • Rakaat kedua takbir lima kali sebelum membaca surat Al-Fatihah.
  • Melaksanakan khutbah sebanyak dua kali atau sekali sebelum (atau setelah) shalat. Namun lebih diutamakan pelaksanaan khutbah setelah shalat.
  • Sebelum masuk khutbah pertama khatib membaca istighfar sembilan kali.
  • Sebelum masuk khutbah kedua khatib membaca istighfar tujuh kali.
  • Perbanyak doa dalam khutbah kedua.
  • Doa-Doa Meminta Hujan

    ilustrasi sholat

    ©2021 Merdeka.com/pexels-tima-miroshnichenko

    Setelah mengetahui niat dan tata cara shalat istisqa, berikutnya terdapat doa-doa khusus yang dapat dibaca setelah selesai menunaikan shalat istisqa. Pembacaan doa istisqa untuk meminta turunnya hujan dianjurkan sebanyak mungkin saat musim kemarau atau paceklik. Dalam hal ini, ada baiknya mengawali doa istisqa dengan doa kurab, yaitu doa Rasulullah SAW dibaca saat menghadapi kesusahan secara umum, yaitu sebagai berikut:

    Lā ilāha illallāhul ‘azhīmul halīmu, lā ilāha illallāhu rabbul ‘arsyil ‘azhīmi, lā ilāha illallāhu rabus samāwāti wa rabbul ardhi wa rabbul ‘arsyil karīmi.

    Artinya, “Tiada Tuhan selain Allah yang agung dan santun. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Arasy yang megah. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan langit, bumi, dan Arasy yang mulia.”

    Doa saat kemarau panjang untuk memohon turun hujan adalah sebagai berikut:

    Yā hayyu, ya qayyūmu, bi rahmatika astaghītsu.

    Artinya, “Wahai Zat yang maha hidup dan maha tegak, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan,”

    Kemudian doa istisqa bisa dilanjutkan dengan sejumlah rangkaian doa yang diriwayatkan Imam As-Syafi’i, Abu Dawud, dan parawi lainnya, yaitu sebagai berikut:

    Allāhummasqinā ghaitsan mughītsan hanī’an marī‘an (lan riwayat murī‘an) ghadaqan mujallalan thabaqan sahhan dā’iman.

    Artinya, “Ya Allah, turunkan kepada kami air hujan yang menolong, mudah, menyuburkan, yang lebat, banyak, merata, menyeluruh, dan bermanfaat abadi.”

    Allāhummasqināl ghaitsa, wa lā taj‘alnā minal qānithīn.

    Artinya, “Ya Allah, turunkan kepada kami air hujan. Jangan jadikan kami termasuk orang yang berputus harapan .”

    Allāhumma inna bil ‘ibādi wal bilādi wal bahā’imi wal khalqi minal balā’i wal juhdi wad dhanki mā lā nasykū illā ilaika.

    Artinya, “Ya Allah, sungguh banyak hamba, negeri, dan jenis hewan, dan segenap makhluk lainnya mengalami bencana, paceklik, dan kesempitan di mana kami tidak mengadu selain kepada-Mu .”

    Allāhumma anbit lanaz zar‘a, wa adirra lanad dhar‘a, wasqinā min barakātis samā’i, wa anbit lanā min barakātil ardhi.

    Artinya, “Ya Allah, tumbuhkan tanaman kami, deraskan air susu ternak kami, turunkan pada kami air hujan karena berkah langit-Mu, dan tumbuhkan tanaman kami dari berkah bumi-Mu.”

    Allāhummarfa‘ ‘annal jahda wal jū‘a wal ‘urā, waksyif ‘annal balā’a mā lā yaksyifuhū ghairuka.

    Artinya, “Ya Allah, angkat dari bahu kami kesusahan paceklik, kelaparan, ketandusan. Hilangkan dari kami bencana yang hanya dapat diatasi oleh-Mu.”

    Allāhumma innā nastaghfiruka, innaka kunta ghaffārā, fa arsilis samā’a ‘alainā midrārā.

    Artinya, “Ya Allah, sungguh kami memohon ampun kepada-Mu, karena Kau adalah maha pengampun. Maka turunkan pada kami hujan deras dari langit-Mu.”

    (mdk/ayi)
    Geser ke atas Berita Selanjutnya

    Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
    lihat isinya

    Buka FYP