Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengunjungi Kaligesing, Sentra Peternakan Kambing Etawa Sejak 1924

Mengunjungi Kaligesing, Sentra Peternakan Kambing Etawa Sejak 1924 Kaligesing. ©jatengprov.go.id

Merdeka.com - Di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, ada sebuah daerah bernama Kaligesing. Letaknya berada di atas ketinggian Perbukitan Menoreh. Walau letaknya di pedalaman, sejak dulu tempat itu sudah terkenal sebagai sentra peternakan kambing etawa. Hal itu terus berlanjut hingga kini.

Padahal pada tahun 1800, Kaligesing masihlah hutan lebat. Namun pada 1838, dua puncak bukit tertinggi di sana, mulai dieksploitasi.

Hingga seiring waktu, pada tahun 1924 Bupati Purworejo membuat suatu dorongan untuk memajukan peternakan rakyat di wilayahnya dengan mendatangkan kambing ras etawa dari India. Dipilihlah daerah Kaligesing untuk tempat peternakan.

Lantas seperti apa perkembangan wilayah Kaligesing dari waktu ke waktu? Berikut selengkapnya:

Keadaan Kaligesing Sebelum Abad ke-20

kaligesing

©purworejo-connect.org

Dilansir dari Purworejo-connect.org, wilayah Kaligesing memiliki karakter perbukitan dengan populasi penduduk yang tidak terlalu tinggi. Pada tahun 1838, wilayah yang sebelumnya merupakan hutan lebat itu mulai dieksploitasi.

Di sana para Pangeran Yogyakarta mendapatkan pasokan kayu pohon sanakeling. Kayu-kayu pohon di sana mereka manfaatkan untuk gagang tombak dan konon memiliki kualitas lebih bagus dari pada pohon sejenis di tempat lain.

Selain pohon sanakeling, di sana juga ditanam pohon-pohon kopi yang dipasok secara eksklusif untuk Keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Kedatangan Kambing Etawa

kaligesing

©purworejo-connect.org

Pada tahun 1924, Pemerintah Kabupaten Purworejo membuat suatu dorongan dengan mendatangkan kambing ras etawa dari India. Seiring berjalannya waktu, usaha peternakan menjadi salah satu mata pencaharian penting bagi penduduk di sana.

Keberadaan kambing etawa di Kaligesing berkembang menggeser kambing ras lokal. Bahkan kambing-kambing ras etawa yang diternakkan di Kaligesing diekspor ke seantero Hindia Belanda.

Peternakan kambing itu pun memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Kaligesing. Bahkan pada tahun 1936, nilai ekspor kambing etawa mencapai hampir 2 juta gulden.

Sumber Pendapatan Lain

kaligesing

©purworejo-connect.org

Selain dari beternak kambing, sumber pendapatan lain warga Kaligesing adalah pertanian buah-buahan, khususnya buah manggis dan durian. Pada waktu itu, terdapat 40.000 pohon manggis dalam 1489 buow tanah.

Pada Januari, biasanya masyarakat di sana menggelar pesta panen raya. Bahkan saking dekatnya kehidupan masyarakat Kaligesing dengan pertanian, mereka menilai usia seorang anak berdasarkan musim petik buahnya.

Dilansir dari Purworejo-conncet.org, karena hasil pertanian dan peternakannya, perputaran uang di Kaligesing menjadi sangat tinggi. Mereka mampu membayar cicilan bank dalam tempo singkat. Rumah-rumah pendudukpun relatif bagus untuk ukuran pedesaan.

Harga Kambing setara Mobil

kaligesing

©jatengprov.go.id

Hingga kini, kualitas kambing etawa Kaligesing tetap diakui di seluruh pelosok negeri. Tak heran apabila kambing-kambing itu harganya cukup mahal. Bahkan untuk satu ekornya bisa setara dengan satu unit mobil.

“Saya pernah dengar belum lama ini ada yang jual kambing satu ekor Rp100 juta. Jadi memang di sini sudah biasa orang jual kambing harga segitu,” kata Mujoko, Kepala Desa Tlogoguwu, Kaligesing, dikutip dari Jatengprov.go.id pada tahun 2019.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP