Buktikan Perempuan Berdaya, Ini Perjuangan KWT Sumber Boga Tamanan Ubah Lidah Buaya Jadi Bisnis Sukses
KWT Sumber Boga Tamanan turut mendapatkan dukungan dari Bank BRI dalam mengembangkan produk dan meningkatkan ekonomi desa.
Di Padukuhan Tamanan, Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, sekelompok perempuan membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari tangan-tangan sederhana. Melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Sumber Boga, para ibu rumah tangga di desa ini berhasil mengubah potensi lokal lidah buaya menjadi produk bernilai tinggi, yaitu minuman Aloeta.
Didirikan pada tahun 2018, KWT Sumber Boga lahir dari semangat memberdayakan perempuan desa untuk aktif berkontribusi pada perekonomian keluarga. Dipimpin oleh figur-figur inovatif, kelompok ini menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah hambatan. Dari hanya sebidang kecil lahan pinjaman, mereka mengembangkan budi daya lidah buaya yang kemudian diolah menjadi minuman segar, inovatif, dan kini menjadi kebanggaan warga.
Kerja sama erat dengan Kelompok PKK, dukungan dari Bank BRI, serta semangat gotong royong menjadi kunci kesuksesan mereka. Produk Aloeta yang berbahan dasar lidah buaya segar ini tidak hanya menyehatkan, tetapi juga mengangkat nama desa mereka hingga dikenal di pasar lokal dan nasional.
Dalam perjalanannya, KWT Sumber Boga tidak luput dari tantangan. Mulai dari terbatasnya lahan, kesulitan produksi, hingga mencari formula produk yang tepat.
Namun tekad untuk terus belajar, memperbaiki, dan berinovasi membawa mereka bertahan dan berkembang. Semangat kolektif ini pula yang mengubah wajah Desa Tamanan menjadi “Kampung Aloevera” — sebuah bukti nyata bahwa perempuan desa mampu menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus inspirasi perubahan sosial.
Awal Mula Terbentuknya KWT Sumber Boga Tamanan
Kelompok Wanita Tani (KWT) Sumber Boga resmi dibentuk pada 18 Oktober 2018. KWT dibentuk karena keinginan ibu-ibu rumah tangga di Desa Tamanan agar memiliki kegiatan produktif di sela aktivitas sehari-hari mereka.
Ketua KWT, Nurul Komariyah, menjelaskan bahwa ide ini muncul dari diskusi bersama Pak Dukuh tentang bagaimana memanfaatkan potensi alam desa. “Kami ingin memberikan kesempatan bagi ibu-ibu untuk beraktivitas yang tidak hanya produktif, tetapi juga dapat meningkatkan pendapatan keluarga,” kata Nurul ketika ditemui di kediamannya pada Jumat (25/4/2025).
Setelah menimbang berbagai kemungkinan, akhirnya pilihan jatuh pada budi daya lidah buaya, tanaman yang relatif mudah dirawat serta kaya manfaat untuk kesehatan dan kecantikan. Dengan penuh semangat, mereka mengawali program ini dengan membeli sekitar 200 bibit lidah buaya dari luar daerah untuk ditanam di lahan yang dipinjamkan oleh Pak Dukuh.
Namun, usaha ini langsung dihadapkan dengan tantangan awal, yakni keterbatasan lahan yang tidak memadai untuk menampung seluruh tanaman. Tanaman lidah buaya yang berkembang pesat membuat mereka harus mencari solusi agar budi daya tetap berlanjut.
“Tanaman kami harus segera dipindahkan ke lokasi yang lebih luas agar tidak rusak,” kata perempuan asal Solo mengenang masa-masa sulit itu.
Di tengah keterbatasan tersebut, semangat ibu-ibu tidak surut, justru semakin tumbuh keyakinan bahwa upaya ini bisa menjadi sesuatu yang besar bila dikelola secara serius. KWT Sumber Boga pun mulai menata langkah mereka lebih terorganisir, mulai dari perawatan tanaman hingga rencana pengolahan hasil panen.
Langkah demi langkah ditempuh dengan kesabaran dan kerja keras, menjadikan KWT Sumber Boga bukan sekadar kelompok tani biasa, melainkan motor penggerak ekonomi kreatif berbasis potensi lokal di Desa Tamanan.
Belajar dari Kegagalan dan Inovasi Produk
Setelah satu tahun penuh menanam dan merawat lidah buaya, tibalah saat panen pertama yang ditunggu-tunggu oleh seluruh anggota KWT Sumber Boga. Namun, hasil panen itu ternyata membawa tantangan baru, karena mereka tidak langsung berhasil mengolah lidah buaya menjadi produk siap jual.
“Awalnya banyak produk yang gagal, kami harus terus belajar dari setiap kesalahan,” kata Nurul kepada merdeka.com.
Dalam proses panjang tersebut, anggota KWT aktif mengunjungi berbagai tempat belajar, berguru kepada praktisi yang berpengalaman dalam pengolahan lidah buaya. Kegagalan demi kegagalan justru memupuk semangat mereka untuk terus berinovasi dan mencari formula yang tepat. Di tengah eksperimen inilah lahir minuman lidah buaya berlabel “Aloeta” yang kini menjadi andalan mereka.
Aloeta hadir dengan varian rasa unik, termasuk rasa rempah yang menjadi ciri khas tersendiri dibandingkan produk sejenis. “Kami ingin produk kami punya karakteristik berbeda, tidak hanya sekadar manis, tetapi juga menyehatkan,” jelas Nurul dengan bangga.
Tak berhenti di situ, mereka juga mengembangkan produk turunan seperti keripik lidah buaya yang menambah ragam produk unggulan desa.
Berulang kali kegagalan terjadi, namun KWT Sumber Boga tetap bertahan, membuktikan bahwa konsistensi dan keinginan kuat untuk terus belajar adalah kunci sukses. “Kami tidak pernah berhenti mencoba hingga akhirnya bisa menghasilkan produk yang benar-benar layak dipasarkan,” tambah Nurul.
Inovasi menjadi napas utama KWT, membuat mereka tidak hanya bergantung pada satu produk, tetapi terus mencari peluang baru untuk mengolah lidah buaya menjadi lebih bernilai ekonomi.
Dukungan dari Bank BRI dan Lembaga Usaha Tamanan Sadar Wisata (Lemah Asri)
Perjalanan KWT Sumber Boga semakin menemukan momentumnya ketika mereka mendapat dukungan besar dari Bank BRI. Bantuan ini bukan hanya berupa pembiayaan, tetapi juga pelatihan intensif tentang berbagai aspek usaha, mulai dari legalitas, pengemasan, hingga pemasaran.
“Bank BRI sangat mendukung kami, tidak hanya secara finansial tetapi juga dalam pengembangan keterampilan,” kata Nurul.
Selain itu, hadirnya Lembaga Usaha Tamanan Sadar Wisata (Lemah Asri) juga memberi dorongan signifikan dalam memperkenalkan produk-produk KWT ke khalayak lebih luas. Lemah Asri memfasilitasi keikutsertaan KWT dalam berbagai pameran, baik tingkat lokal maupun nasional, memperbesar peluang pemasaran produk Aloeta.
“Lemah Asri membantu kami tampil di banyak event, membuat produk kami semakin dikenal,” tambah Nurul.
Berbagai pameran dan event promosi seperti di Kantor Pertanian Prambanan hingga event nasional, membuka mata banyak pihak terhadap kualitas produk KWT Sumber Boga. Bahkan, beberapa instansi pemerintahan dan swasta mulai melirik produk mereka untuk kerja sama.
Dengan strategi yang tepat dan dukungan tersebut, Aloeta berhasil menembus pasar tidak hanya di Yogyakarta, tetapi juga di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. “Kami bersyukur. Dulu hanya mimpi, sekarang Aloeta sudah dikenal di luar Sleman,” ungkap Nurul haru.
Kerja sama erat antar pihak ini menjadi salah satu faktor vital yang membawa KWT Sumber Boga dari skala desa menjadi pemain yang patut diperhitungkan di pasar minuman herbal lokal.
BRI Salurkan Bantuan CSR untuk KWT Sumber Boga Tamanan
Bank BRI menyalurkan bantuan program Corporate Social Responsibility (CSR) melalui inisiatif Aspire to Uplift, Revive and Achieve (AURA) kepada KWT Sumber Boga di Tamanan, Kalasan, Sleman. Bantuan senilai Rp100 juta tersebut diserahkan pada Selasa (15/4/2025) dengan tujuan untuk memberdayakan perempuan di daerah setempat dan mendorong peningkatan ekonomi keluarga melalui kegiatan pertanian dan kewirausahaan.
“BRI memberi bantuan berupa sarana dan prasarana alat produksi KWT Sumber Boga Tamanan,” kata Nurul.
AURA merupakan program pengembangan pemberdayaan perempuan yang memiliki klaster atau usaha dengan anggota seluruhnya adalah kaum wanita. Sebagai bentuk dukungan bagi kelangsungan dan pengembangan usaha di KWT Sumber Boga Tamanan, BRI Peduli menyalurkan pelatihan dan peralatan usaha bagi kelompok perempuan.
Mengutip situs resmi BRI, program AURA diharapkan bisa mendorong pemberdayaan dan produktivitas usaha sehingga KWT Sumber Boga Tamanan bisa terus bertumbuh dan berkembang, sehingga bermanfaat bagi perekonomian anggota kelompoknya.
Corporate Secretary BRI, Agustya Hendy Bernadi mengungkapkan, perempuan memiliki peran kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan keluarga, terutama di sektor mikro dan ultra mikro.
Produksi dan Pemasaran Aloeta
Dalam hal produksi, KWT Sumber Boga menetapkan jadwal produksi rutin setiap bulan, menyesuaikan dengan permintaan pasar yang terus meningkat. Produksi Aloeta dilakukan di kediaman Nurul, tepatnya di dapur.
“Kami bisa memproduksi 20 kilogram per hari, tergantung dari jumlah anggota yang bisa hadir,” kata Nurul.
Setiap langkah pengolahan lidah buaya dijalankan dengan standar ketat untuk menjaga kualitas produk tetap tinggi.
Salah satu tantangan yang mereka hadapi adalah pasokan bahan baku, terutama saat permintaan mendadak melonjak. Untuk mengatasi hal ini, KWT menginisiasi program edukasi warga sekitar agar menanam lidah buaya di pekarangan rumah masing-masing.
“Kalau ada kekurangan bahan, kami beli dari warga sekitar, jadi ekonomi mereka juga ikut tumbuh,” jelas Nurul.
Untuk strategi pemasaran, KWT Sumber Boga menggunakan kombinasi antara penjualan langsung di event, pemasaran online, hingga kerja sama dengan toko oleh-oleh dan komunitas UMKM. Minuman Aloeta dijual bersamaan dengan produk keripik lidah buaya, sehingga memperluas pilihan konsumen.
“Kami memanfaatkan media sosial dan marketplace untuk memperluas jangkauan,” tambah Nurul.
Perjalanan pemasaran Aloeta penuh tantangan, namun berkat kerja keras tim, kini pesanan bahkan datang dari luar provinsi, menunjukkan tingginya potensi produk lokal jika dikelola dengan serius.
Melalui inovasi terus-menerus dalam produksi dan pemasaran, KWT Sumber Boga semakin mengukuhkan diri sebagai pionir usaha berbasis lidah buaya di Yogyakarta.
Jadi Anggota di KWT Bisa Punya Usaha Sampingan Sendiri
Umi Hani Indriasari (50) merupakan salah satu anggota KWT Sumber Boga yang sudah bergabung sejak 2018. Umi sudah merasakan berbagai manfaat dari keterlibatannya dalam kelompok usaha perempuan di desanya.
Selain berperan dalam produksi minuman kesehatan Aloeta, ia juga berinovasi dengan mengolah lidah buaya menjadi keripik renyah dan bernilai jual tinggi. Keripik lidah buaya buatan Umi memiliki label produk Bernama Loena.
"Saya juga buat keripik sendiri di rumah. Semenjak gabung menjadi anggota KWT Sumber Boga, saya sudah bisa memperoleh penghasilan sendiri," ungkap Umi bangga ketika ditemui di kediaman Nurul pada Jumat (25/4/2025).
Tak hanya itu, produk keripik lidah buaya hasil olahan Umi kerap dipasarkan bersamaan dengan minuman Aloeta yang diproduksi bersama anggota KWT lainnya. Strategi ini tidak hanya memperkuat nilai jual produk, tetapi juga memperluas jangkauan pasar mereka.
Keterlibatan Umi menjadi contoh nyata bahwa pemberdayaan perempuan melalui kelompok usaha dapat memberikan dampak langsung pada kemandirian ekonomi dan inovasi di tingkat desa.
Harapan dan Masa Depan KWT Sumber Boga
KWT Sumber Boga kini telah mencapai banyak pencapaian, namun Nurul dan anggota KWT lainnya tidak merasa puas. Mereka berharap dapat terus berkembang dan memperkenalkan lebih banyak produk berbasis lidah buaya.
“Kami ingin terus berinovasi dan membuat produk baru yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat Tamanan,” ujar Nurul.
Ke depan, mereka berharap bisa mengembangkan usaha ini lebih besar lagi dengan bantuan dari Bank BRI dan dukungan dari berbagai pihak. “Kami ingin agar KWT Tamanmartani menjadi lebih dikenal, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri,” harapnya.
Dengan semangat gotong royong dan tekad yang kuat, KWT Sumber Boga siap untuk menghadapi tantangan dan terus berkembang di masa depan.