Berada di Lokasi Terpencil, Ini 3 Fakta Unik Candi Selogriyo di Magelang

Di kaki Gunung Sumbing, berdirilah sebuah candi yang telah berusia ratusan tahun. Namanya Candi Selogriyo. Konon, candi ini dibangun pada masa kejayaan Hindu di abad ke-8 Masehi. Terletak di puncak sebuah bukit, lokasi keberadaan Candi Selogriyo bisa dibilang cukup terpencil.

Shani Ramadhan Rasyid
Oleh Shani Ramadhan Rasyid - Reporter
Berada di Lokasi Terpencil, Ini 3 Fakta Unik Candi Selogriyo di Magelang
Candi Selogriyo. ©Kemdikbud.go.id

Di kaki Gunung Sumbing, tepatnya di Desa Kembangkuning, Kecamatan Windusari, Magelang, berdirilah sebuah candi yang telah berusia ratusan tahun. Namanya Candi Selogriyo.

Konon, candi ini dibangun pada masa kejayaan Hindu di abad ke-8 Masehi. Terletak di puncak sebuah bukit, lokasi keberadaan Candi Selogriyo bisa dibilang cukup terpencil. Lokasi di sekitar candi cukup dingin karena berada di ketinggian 740 mdpl.

Untuk menuju ke sana, pengunjung harus berjalan kaki melalui jalan setapak selebar 1 meter yang membelah area persawahan. Sebagian jalan sudah dipaving, sebagian lagi masih dibiarkan sebagai jalan tanah.

Lantas apa saja fakta menarik tentang candi ini? berikut selengkapnya:

Penemuan Candi Selogriyo

Dilansir dari idsejarah.net, Candi Selogriyo pertama kali ditemukan oleh Hartman pada tahun 1835. Saat pertama kali ditemukan, kondisi candi itu tidak utuh dan hanya berupa pecahan-pecahan candi. Melihat hal ini, Hartman membentuk sebuah tim yang bertugas ulang untuk menyusun ulang Candi Selogriyo.

Pada tahun 1998, Candi Selogriyo sempat hancur karena bukit tempat bangunan itu berdiri mengalami longsor. Proses rekrontuksi ulang baru rampung pada tahun 2005.

Keunikan Candi Selogriyo

Dilansir dari Perpusnas.go.id, Candi Selogriyo merupakan peninggalan Hindu abad ke-9 Masehi. Hal ini ditandai dengan adanya arca Ganesha, Durga, dan Agasta di candi tersebut. Selain itu, di empat sisi dinding bangunan candi terdapat lima relung tempat arca-arca perwujudan dewa.

Salah satu keistimewaan candi tanpa perwara ini adalah puncaknya yang berbentuk buah keben yang disebut amakala. Karena pelatarannya yang luas, candi ini juga sering digunakan untuk pementasan kebudayaan Jawa.

Biasanya pementasan itu dilakukan setiap malam suro, malam Jumat Kliwon, Selasa Kliwon, dan penanggalan khusus lainnya pada kalender Jawa. Pementasan yang ditampilkan antara lain tarian dan metode pengobatan tradisional Jawa.

Kepercayaan Masyarakat

Hanya berjarak 10 meter dari Candi Selogriyo, terdapat mata air berbentuk mirip pancuran. Menurut keyakinan warga setempat, mata air itu dipercaya dapat mengobati berbagai penyakit dan memberi awet muda.

Menurut sesepuh warga sekitar, candi itu sering digunakan untuk tempat ibadah dan pemujaan pemuka agama Hindu. Walaupun berada di lokasi terpencil, Candi Selogriyo selalu ramai dikunjungi terutama setiap akhir pekan. Tak hanya warga sekitar, banyak pula turis mancanegara yang berkunjung ke candi ini.

Rekomendasi