Alami Low Vision Sejak Lahir, Pemuda Disabilitas Ini Sukses Masuk UGM
Merdeka.com - Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Terkadang, kekurangan yang dimiliki seseorang tampak begitu nyata dan membuat orang itu kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Namun bukan berarti hal itu membuat seseorang menyerah begitu saja dalam meraih mimpi.
Hal itulah yang dirasakan seorang anak muda bernama Akhlaqul Imam (18). Sejak kecil ia telah memiliki gangguan mata berupa low vision (disabilitas netra). Walau begitu Imam tak pernah mengendurkan semangat hidupnya. Bahkan, ia berhasil membuktikan pada orang-orang di sekitarnya bahwa penyandang disabilitas-pun dapat menuai sederet prestasi.
Berikut selengkapnya:
Anak Pertama Setelah 6 Kali Keguguran

©Ugm.ac.id
Imam merupakan putra tunggal dari pasangan Yasril (62) dan Erlis Idris (59). Ayahnya berprofesi sebagai karyawan swasta, sedangkan ibunya berprofesi sebagai guru SMA. Walaupun anak tunggal, sebenarnya Imam merupakan anak ke-7 setelah ibunya mengalami 6 kali keguguran.
Imam diberi kekurangan di mana ia telah menyandang low vision sejak bayi. Hal ini dikarenakan dia terlahir prematur di usia 6 bulan 10 hari sehingga menyebabkan terjadi gangguan mata Retinopati Prematuritas (ROP).
“Dengan kondisi ini menjadikan jarak pandang maksimal 1,5 meter dan jarak baca 5 cm,” kata Imam dikutip dari Ugm.ac.id pada Senin (7/9).
Gunakan Alat Bantu
Agar matanya dapat berfungsi dengan baik, Imam harus rutin melakukan kontrol dan konsultasi ke dokter spesialis mata di Jakarta. Sementara itu untuk membantu aktivitasnya sehari-hari ia harus menggunakan alat bantu seperti teropong, kaca pembesar, dan kacamata silinder.
“Mulai SMP sudah bisa adaptasi sehingga saat baca buku sudah tak perlu lagi pakai kaca pembesar. Jadi hanya pakai teropong untuk melihat tulisan di papan tulis dan kalau sekarang pakai layar handphone lalu diperbesar,” ungkapnya.
Tidak Merasa Minder

©Ugm.ac.id
Walau memiliki keterbatasan fisik, Imam mengaku tidak pernah minder. Bahkan dia berhasil mengikuti berbagai kompetisi selama menjalani pendidikan dari SD hingga SMA. Hal ini tak lepas dari peran orang tuanya yang terus memotivasi Imam untuk terus bersemangat dan berpikiran positif. Begitu pula dengan orang sekitar, guru, dan juga teman-temannya.
“Jangan jadikan keterbatasan sebagai penghalang dan membuat kita hanya fokus meratapi keterbatasan itu. selalu berpikiran positif dan yakinlah dari kekurangan pasti ada kelebihan yang menyertai di baliknya,” kata Imam.
Cita-cita Imam
Selepas lulus sarjana, Imam ingin mengambil gelar master di luar negeri. Setelah itu ia akan mewujudkan impian menjadi seorang akademisi.
“Pengen jadi akademisi, tapi ada juga keinginan kerja di institusi atau jadi wirausaha. Masih belum begitu mengerucut sih, tergantung peluang gimana besok,” ungkap Imam.
Seorang Motivator
Di samping itu, Imam berhasil mendirikan 3 pondok tahfidz untuk penghafal Al-Qur’an di daerah Payakumbuh, Sumatera Barat dan 1 pondok tahfidz di daerah Pasaman Barat. Pendirian pondok pesantren itu adalah hasil kerja kerasnya dibantu oleh kerabat serta para guru. Di samping itu, dia juga kerap kali diundang menjadi pembicara dalam berbagai kegiatan maupun kelas-kelas motivasi.
“Sempat khawatir juga dengan keadaan yang sekarang. Tapi kembali lagi saya serahkan pada Allah. Semoga Imam lancar kuliahnya dan apa yang dicita-citakan bisa berhasil,” ujar Yasril, Ayah Imam, dikutip dari Ugm.ac.id pada Senin (7/9).
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya