7 Proses Terjadinya Bayi Tabung, Calon Orang Tua Wajib Tahu dan Paham
Merdeka.com - Anak merupakan salah satu anugerah dari Tuhan yang selalu dinantikan oleh setiap pasangan yang telah menikah. Kehadiran buah hati dipercaya akan menambah kebahagiaan dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Maka tidak heran apabila pasangan suami istri selalu ingin segera memiliki seorang anak.
Akan tetapi, tidak jarang pasangan suami istri kesulitan memiliki seorang anak. Dalam dunia kedokteran hal ini bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor, salah satunya karena gangguan kesuburan. Hal ini dapat dipicu karena faktor usia, kebiasaan merokok, mengonsumsi alkohol, berat badan hingga kelainan bawaan.
Salah satu cara alternatif yang paling banyak digunakan dalam menyikapi gangguan kesuburan ini ialah menjalankan program bayi tabung. Prosedur ini dipercaya menjadi cara paling efektif dalam usaha mencapai pembuahan. Hal ini biasanya dilakukan oleh pasangan suami istri yang kesulitan memiliki momongan.
Meskipun demikian, program ini hanya usaha dalam mencapai pembuahan. Sehingga, kemungkinan kegagalan dan munculnya gangguan pada kehamilan masih ada. Oleh karena itu, sebelum menjalani program bayi tabung sebaiknya mempelajari proses bayi tabung beserta risiko yang mungkin dapat ditimbulkan.
Lantas seperti apa proses bayi tabung beserta risiko yang mungkin ditimbulkan? Simak penjelasan program bayi tabung yang perlu diketahui berikut ini.
Pengertian Bayi Tabung
Bayi tabung atau dalam ilmu kedokteran disebut in vitro fertillization (IVF) merupakan sebuah metode reproduksi yang pembuahannya di luar rahim. Seseorang yang menjalani program bayi tabung, sel telur dari rahim akan dikeluarkan serta pembuahan dengan sperma akan dilakukan di labolatorium.
Dilansir dari Healthline, dalam proses terjadinya bayi tabung sel telur yang berhasil dibuahi atau embiro akan dimasukkan kembali ke dalam rahim, agar dapat berkembang menjadi janin. Meskipun demikian, saat embiro ditanamkan kembali ke rahim, belum tentu terjadi. Hal ini dikarenakan perempuan berusia di bawah 35 tahun tingkat keberhasilan prosedur bayi tabung lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan yang berusia di atas 40 tahun.
Proses Terjadinya Bayi Tabung
Setiap pasangan suami istri yang ingin menjalani program bayi tabung sebaiknya memahami prosedurnya terlebih dahulu. Pasalnya banyak rangkaian prosedur yang harus dipersiapkan, salah satunya yang wajib dilakukan ialah pemeriksaan oleh beberapa dokter spesialis. Hal ini perlu dilakukan untuk melihat kondisi sel telur serta sperma yang digunakan sebagai pembuahan.
Dilansir dari jurnal Therapeutics and Clinical Risk Managements, berikut ini proses terjadinya bayi tabung yang perlu diketahui.
1. Proses Seleksi Pasien

©©2013 Merdeka.com/shutterstock.com/Dragon Images
Proses terjadinya bayi tabung yang pertama ialah seleksi pasien. Setiap pasangan yang akan menjalani program bayi tabung akan diperiksa terlebih dahulu kelayakan fisik maupun mental. Apabila pasangan dianggap layak, maka program bayi tabung dapat menjalani proses berikutnya.
2. Proses Stimulasi
Setelah mengikuti seleksi pasien, proses selanjutnya ialah melakukan stimulasi. Proses ini dimulai dengan merangsang indung telur untuk memastikan banyaknya sel telur. Pasalnya untuk dapat menjalani program bayi tabung diperlukan sel telur lebih dari satu sel telur, hal ini untuk memperoleh embiro.
Kemudian untuk ovarium dilakukan dengan cara menyuntikkan obat kesuburan pada tubuh. Berapa banyak suntikkan yang harus dilakukan hal ini tergantung aturan pengobatan dari dokter. Akan tetapi, umumnya akan diminta menyuntikkan 1-4 obat setiap haro selama tujuh sampai sepuluh hari.
3. Pemantauan Pertumbuhan Folikel

©©2012 Shutterstock/somersault18:24
Proses terjadinya bayi tabung berikutnya ialah pemantauan pertumbuhan folikel. Selama stimulasi ovarium, dokter ahli akan memantau pertumbuhan dan perkembangan folikel dengan cara melakukan tes darah dan USG setiap beberapa hari. Apabila ukuran folikel telah besar atau sekitar 16-18 mm, maka perlu dipantau setiap hari.
4. Proses Pematangan Sel Telur

©Pixabay
Mematangkan sel telur dilakukan dengan menyuntikkan hormon agar siap dipanen. Dalam proses penyuntikkan ini hanya dilakukan satu kali dan harus dilakukan pada waktu yang tepat. Hal ini karena apabila terlalu cepat dapat menghasilkan telur yang tidak cukup matang.
Sementara itu, apabila disuntikkan terlalu lama, maka telur tidak bisa berbuah dengan baik. Sehingga harus dilakukan secara tepat dalam melakukan suntikan.
5. Pengambilan Sel Telur
Proses terjadinya bayi tabung berikutnya ialah pengambilan sel telur. Dalam proses pengambilan ini dilakukan sekitar 34-36 jam setelah suntikan hCG. Saat pengambilan sel telur ini USG transvaginal dilakukan untuk memandu dokter dalam pengambilan sel telur.
6. Proses Pengambilan Sperma

©Shutterstock/Alex Mit
Pengambilan sperma ini dilakukan pada hari yang sama. Meskipun demikian, pengambilan ini dapat dilakukan dengan cara masturbasi. Selain itu, juga dapat dilakukan dengan mengambil secara langsung dari buah zakar melalui operasi.
7. Pemindahan Sel Telur

©Pixabay/predvopredvo
Apabila telah dibuahi, maka telur akan disimpan selama 3-5 hari di tempat khusus sebelum dipindahkan ke rahim. Pemindahan telur yang telah dibuahi embiro ini biasanya dilakukan pada hari kelima setelah pembuahan atau embiro sudah berada di fase blastosit.
(mdk/jen)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya