30 Kata-Kata Bijak Sujiwo Tejo, Inspiratif dan Penuh Makna Mendalam

Selasa, 18 Januari 2022 17:00 Reporter : Jevi Nugraha
30 Kata-Kata Bijak Sujiwo Tejo, Inspiratif dan Penuh Makna Mendalam Sujiwo Tejo. ©2020 Merdeka.com/Instagram: president_jancukers

Merdeka.com - Agus Hadi Sudjiwo atau yang lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo adalah salah seorang aktor dan budayawan terkenal di Indonesia. Pria yang sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama delapan tahun ini kemudian mengubah arah kariernya menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang.

Sejak kuliah, Tedjo sudah memiliki hasrat yang besar di bidang seni. Ia mulai menjadi penyiar radio di kampus, bermain teater, dan mendirikan ludruk ITB bersama budayawan Nirwan Dewanto. Selain itu, Tedjo menjabat sebagai Kepala Bidang Pedalangan pada Persatuan Seni Tari dan Karawitan Jawa di ITB dan membuat hymne jurusan Teknik Sipil ITB pada orientasi studi 1983.

Sepanjang kariernya, pria kelahiran 31 Agustus 1962 ini telah melahirkan karya-karya buku yang fenomenal. Beberapa bukunya yang terkenal antara lain Talijiwo (2018), Lupa Endonesa (2012), Tuhan Maha Asyik (2016), dan masih banyak lagi. Melalui karya-karya tersebut, ia banyak menyelipkan kata-kata bijak yang inspiratif.

Banyak sekali kata-kata bijak Sudjiwo Tedjo yang dapat dijadikan pedoman saat menjalani aktivitas sehari-hari. Berikut kata-kata bijak Sudjiwo Tedjo:

2 dari 3 halaman

Kata-Kata Bijak Sujiwo Tejo tentang Cinta

sujiwo tejo
©2020 Merdeka.com/Instagram: president_jancukers

Melansir dari laman Jago Kata, berikut kata-kata bijak Sujiwo Tejo tentang cinta:

1. Benar dan salah tentu ada. Tegakkanlah segitiga. Pada alas ada dua sudut, sudut benar dan sudut salah.

2. Kesenian yang baik biasanya merupakan biografi senimannya, biografi yang disamar-samarkan di sana sini.

3. Sepi itu pesta jutaan kata, petasan dan kembang api dari cinta yang tak bersambut, Kekasih.

4. Kehidupan di twitland mirip prinsip demokrasi yang konon bebas: siapa boleh apa, si anu boleh anu, asal sesuai dengan apa yang sudah dianu.

5. Bahkan dalam banyak kepercayaan dan agama, hal yang musikal dianggap lebih awal dan lebih akhir ketimbang teks kata-kata maupun rupa.

6. Jangan tanya besarnya seseorang dari anaknya sendiri. Di mata keluarganya seorang ayah pasti biasa-biasa saja. Mungkin malah kerdil.

7. Kekasih, ciumanmu senyap dan tampak terlatih, apa kamu serdadu apa kamu polisi? Mataku buta disebabkan cinta.

8. Yang aku bayar pada dokter hanya keahliannya. Perasaan ku ketika ia sembuhkan tak bisa ku bayar. Itulah utang rasa.

9. Pas ditinju, refleks kita ngeles ke kiri atau ke kanan. Bagaimana kita akan mengubahnya dengan menunduk. Wong refleks itu kata para ahli gerakan tak sadar.

10. Bukankah hanya pada saat mencemooh, putus asa, marah, dan sejenis itu kita menekankan suku kata terakhir pada kata-kata yang terdiri atas empat suku kata?

3 dari 3 halaman

Kata-Kata Bijak Sujiwo Tejo yang Penuh Makna

11. Untuk menjaga perdamaian dunia, daripada repot-repot diskusi sana-sini tentang potensi konflik antar agama, antar ideologi, dan lain-lain, mending fokus ke soal rasio ketersediaan pangan dan jumlah warga dunia.

12. Sepi sebetulnya, cuma jutaan kata yang tak terucap dariku ke pintumu, Kekasih.

13. Bahasa Indonesia itu sederhana kok. Tapi bukanlah kesederhanaan adalah wujud pencapaian tertinggi manusia?

14. Orang hidup, termasuk saya, toh lebih sering memperhatikan wajah dan sifat-sifat orang lain ketimbang detail-detail selebihnya.

15. Puncak kangen paling dahsyat ketika dua orang tak saling telpon, SMS, BBM, tapi keduanya diam-diam saling mendoakan.

16. Karena hanya kebekuan yang susah memaafkan.

17. Tak ada lagi airmata yang dapat kau timba, Kekasih, karena sungguh rinduku padamu kini telah menyumur tanpa dasar.

18. Urakan berbeda dari kurang ajar. Urakan melanggar aturan termasuk aturan berfikir demi mengikuti hati nurani. Kurang ajar melanggar aturan hanya demi melanggar.

19. Kadang aku terpikir salah satu syarat menjadi presiden Indonesia adalah tidak punya riwayat minder dalam hidupnya.

20. Terdengar suara-suara tak indah dalam perjuangan menuntut hak juga tidak mengapa. kalau goverment hanya pengin mendengar suara-suara indah, berarti mereka tidak sedang membutuhkan warga negara. suruh saja para tokoh yang prejang-prejeng pakai jas dan abaju safari itu mengurus cucak rowo atau perkutut.

[jen]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini