Etika jadi salah satu hal terpenting yang harus dijunjung manusia, termasuk saat bekerja. Dampaknya, usaha yang tengah dijalankan akan berakhir baik seperti yang selalu dilakukan oleh warga di wilayah Kabupaten Bandung Barat.
Warga di sana selalu menggelar upacara adat Pamitan saat hendak menambang batu untuk membuat cobek sebagai mata pencaharian mereka. Tradisi tersebut bahkan telah dilakukan selama bertahun-tahun oleh warga Kampung Pojok, Desa Jaya Mekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.
Setiap menempati lahan baru, para penambang dan pembuat alat memasak ini wajib melakukan tradisi turun temurun sebagai sarana meminta izin kepada Allah SWT. Mereka meyakini apa yang terdapat di alam merupakan milik Tuhan, tak boleh sembarangan memanfaatkannya.
Acara kemudian digelar meriah dan didampingi tokoh adat setempat untuk memimpin doa. Berikut informasi selengkapnya.
Advertisement
Dilakukan saat Akan Mulai Menambang
Mengutip Disparbud Bandung Barat, tradisi Pamitan ini menjadi budaya turun temurun yang dilakukan oleh warga Kampung Pojok. Biasanya, Pamitan digelar saat akan memulai kegiatan menambang batu.
Pamitan ditandai sebagai upaya meminta izin kepada Tuhan pemilik alam perbukitan yang batunya akan diambil untuk dijadikan cobek. Seluruh warga biasanya terlibat untuk memeriahkan tradisi yang sudah mulai jarang diadakan ini.
“Tradisi Pamitan ini sebenarnya punya arti untuk memohon kepada Tuhan agar diberi kelancaran untuk mencari nafkah (menambang batu),” kata pemangku adat Kampung Pojok, Abah Amid.
Advertisement
Menyiapkan Air 7 Warna
Sebelum memulai upacara adat, Abah Amid akan meminta kepada penambang batu untuk menyiapkan sesajen seperti air 7 warna, dupa, kelapa muda, kopi manis dan pahit, nasi tumpeng, rempah-rempah dan lain sebagainya.
Kemudian, upacara tersebut bisa dilaksanakan satu hari sebelum memulai menambang dengan dihadiri oleh seluruh penambang. Warga yang bekerja membuat cobek itu, kemudian berjalan menuju lokasi tambang batu baru untuk memulai ritual.
Selama berjalan, alat musik seperti kendang dan terompet Sunda baru diberhentikan saat sampai di lokasi. Untuk air 7 warna digunakan perwarna alam seperti hijau, merah, jingga, putih, kuning, biru dan hijau.
Advertisement
Berkomunikasi dengan Batu
Merujuk RRI, ritual kemudian dilakukan beberapa menit setelah beristirahat sejenak. Seluruh penambang berkumpul di depan batu yang nantinya akan diambil. Abah Amid sebagai tokoh adat setempat kemudian memimpi doa di sana.
Setelah selesai, ia mendekati batu dan berkomunikasi sembari menyiramkan air 7 warna ke dinding-dinding bukit yang siap ditambang. Terakhir, alat palu, pemahat sampai penampung batu dicipratkan dengan air suci agar bisa digunakan secara maksimal
“Adanya 7 air ini supaya kita semua yang menambang bisa diberi rida oleh Allah SWT dan diberi keselamatan selama 7 hari bekerja setiap harinya,” katanya.
Advertisement
Etika Terhadap Alam
Tujuan utama dari upacara ini sebenarnya merupakan etika manusia yang tidak bisa lepas dari alam. Seluruh unsur kehidupan selalu melibatkan alam, termasuk sekedar untuk makan.
Ritual Pamitan jadi salah satu jalan manusia agar bisa lebih bijak dalam memanfaatkan apa yang ada di alam termasuk batu. Ketika batu ditambang dengan baik, tanpa berlebihan maka manfaatnya akan baik juga terhadap penambang dan pembeli batu cobek.
Untuk pertanda apakah upacara adatnya diterima atau tidak bisa dilihat dari hasil menambang pertama. Jika bongkahan batu pertama tidak bisa terbentuk cobek, artinya semesta tidak meridai dan harus berpindah ke tempat baru serta kembali melaksanakan ritual pamitan.