Cerita Turun-temurun Desa Kondangjajar Pangandaran, Warga Tak Boleh Bangun Rumah Berdempetan

Dipercaya bahwa area tersebut merupakan lahan yang harus dikosongkan. Bahkan, tak sedikit dari warga yang tak berani melintas di sana.

Nurul Diva
Oleh Nurul Diva - Reporter
Cerita Turun-temurun Desa Kondangjajar Pangandaran, Warga Tak Boleh Bangun Rumah Berdempetan
Kisah Desa Kondangjajar Pangandaran (Youtube Ruli Dani)

Masyarakat Desa Kondangjajar di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, menyimpan mitos yang dipercaya secara turun temurun. Ada keyakinan warga tak boleh mendirikan rumah secara berdempet, di salah satu areanya.

Dipercaya bahwa area tersebut merupakan lahan yang harus dikosongkan. Bahkan, tak sedikit dari warga yang tak berani melintas di sana.

Meski demikian, kisah ini masih berlandaskan penuturan dari orang tua di zaman dulu dan belum dibuktikan secara pasti kebenarannya. Yuk, simak informasi selengkapnya tentang mitos tak boleh mendirikan rumah secara berdempetan di Desa Kondangjajar.

Asal-usul Desa Kondangjajar

Mengutip situs kondangjajar.desa.id, Kondangjajar merupakan salah satu desa yang sudah ada sejak akhir 1970-an.

Desa ini merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Cijulang yang saat itu masih masuk Kabupaten Ciamis dan belum menjadi provinsi sendiri.

Penamaan Kondangjajar dipercaya diambil dari seorang tokoh bernama Sembah Bojongkondang yang dulu merupakan seorang penyebar agama Islam di wilayah Ciamis, Jawa Barat.

Masyarakat sekitar sangat menghormati sosok ini, sehingga namanya dijadikan sebagai desa dan bertahan hingga sekarang. Penamaan ini juga hasil musyarawah dengan para sesepuh ataupun tokoh terkemuka pada masanya.

Membelah Desa Kondangjajar

Adapun mitos untuk tidak mendirikan rumah secara berdempetan terjadi hanya di satu titik. Titik ini membelah Desa Kondangjajar menyerupai jalan setapak memanjang.

Merujuk YouTube Trans7, area ini sebenarnya cukup berjarak dan bisa dilewati oleh seseorang pejalan kaki.

Karena tidak pernah dilewati orang-orang, kondisi titik berjarak itu kini dipenuhi semak belukar dan lumut di bangunan sekitar.

Terkait Legenda Nenek Loyeh

Dalam YouTube Ruli Dani, jalur yang membelah kawasan permukiman di Desa Kondangjajar ternyata sangat terkait dengan mitos dan keberadaan nenek Loyeh.

Sosok ini, dipercaya menjadi penjaga di sana sehingga jalan setapak diberi nama Gang Siluman.

Nenek Loyeh merupakan cerita legenda di kalangan masyarakat Pangandaran. Ia sebenarnya tidak mengganggu, namun sosok ini tidak suka terhadap seseorang yang memiliki niat tidak baik.

Wajahnya digambarkan menyeramkan, dan kerap menampakkan diri pada sore hari menjelang malam.

Tak Boleh Membangun Rumah Berdempetan

Cerita terkait jalur yang tak boleh dilewati atau didirikan bangunan rumah, merupakan pesan dari Nenek Loyeh.

Dari cerita tokoh setempat, sosok ini meminta area dikosongkan karena merupakan jalur perlintasan kalangan tak kasat mata.

Disebutkan, kalangan tak kasat mata akan menuju perbukitan di sekitar Bandara Nusawiru Pangandaran yang dipercaya sebagai kerajaan bayangan.

Berdasarkan Cerita Orang Tua Tahun 1950-an

Nenek Loyeh sudah dipercaya warga Kondangjajar sejak 1950-an, ketika itu ada seorang perempuan yang mengalami kondisi tak diinginkan. Diketahui nama perempuan tersebut adalah Rohaye, namun warga sekitar menyebutnya Loyeh.

Masa-masa setelahnya, para orang tua meminta kepada anak-anaknya agar jangan bermain di sekitar jalan setapak tersebut. Kabarnya, warga pernah menjumpai penampakan Nenek Loyeh yang menyeramkan.

Namun, sosoknya menyukai anak-anak sehingga ketika ada bayi atau balita yang tertawa sendiri saat berada di sekitar lokasi, dipastikan ia melihat sosok Nenek Loyeh.

Rekomendasi