Varian Omicron baru saja terdeteksi di Indonesia. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunaidi Sadikin mengumumkan kasus pertama Covid varian Omicron telah ditemukan di Indonesia, Kamis (16/12). Awalnya kasus ini ditemukan saat pekerja pembersih melakukan pemeriksaan tes PCR rutin. Kemudiaan terdeteksi positif Covid-19 pada 8 Desember 2021.
Seperti diketahui semenjak November, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengkonfirmasi varian baru Omicron yang pertama dideteksi di Afrika Selatan. Kini WHO menetapkan varian Omicron atau B.1.1.529 sebagai Varian of Concern (VOC) atau varian yang menyebabkan peningkatan penularan.
Keputusan tersebut didasarkan pada bukti banyaknya mutasi yang dimiliki Omicron , yang mungkin berdampak pada perilakunya. Nah, berikut terdapat beberapa fakta dari varian Omicron ini.
1. Awal mula munculnya varian Omicron di Afrika Selatan.
Menurut WHO varian Omicron menyebar ke seluruh dunia dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Varian ini pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan. Kasus ini pun bermutasi begitu cepat dan telah dipastikan di 77 negara.
Meski jika Omicron menyebabkan sakit yang tidak terlalu parah, namun jumlah kasusnya bisa membuat sistem kesehatan kewalahan.
2. Omicron menyebar lebih cepat.
Peneliti di badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Amin Soebandrio, Menjelaskan faktor yang mendukung penyebaran varian Omicron meluas dengan cepat. Varian ini memiliki gejala klinis dialami penderitanya bersifat ringan atau hampir tidak bergejala.
"Kelihatannya saat ini yang menyebabkan dia (Omiron) menyebar justru karena orang yang terinfeksi itu hampir tidak bergejala, ringan sekali sehingga mereka tetap beraktivitas, tetap bepergian bahkan sampai ke luar negeri," kata peneliti di pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman BRIN. Demikian dikutip dari Antara, Sabtu (18/12).
Keadaan inilah menyebabkan varian ini cepat meluas dari negara satu ke negara lainnya, bahkan ke luar benua. Dari gejala yang ringan tersebut, orang yang membawa virus itu tidak merasa sakit sehingga lebih mudah untuk berkeliaran.
3. Gejala Omicron mirip pilek biasa.
Menurut Zoe Covid Study yang menganalisis gejala Covid-19 di London, ditemukan sejumlah gejala Covid-19 Omicron. Gejala-gejala, seperti pilek, sakit kepala, kelahan (ringan atau berat), bersin dan sakit tenggorokan.
Profesor Tim Spector, Ilmuwan utama di aplikasi Zoe Covid Study, mengatakan Covid-19 Omicron mirip dengan pilek bisa. Jadi bisa disalahartikan. Namun hingga kini, masih belum diketahui apakah Covid-19 Omicron lebih berbahaya daripada Delta atau tidak.
"Seperti yang ditunjukan data terbaru kami, gejala omicron didominasi gejala pilek, pilek, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan bersin. Jadi orang harus tinggal di rumah karena kemungkinan besar Covid," kata Spector dalam laporan Zoe, dikutip dari CNBC.
4. Kasus Omicron pertama di Indonesia ditemukan pada pekerja pembersih Wisma Atlet.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunaidi Sadikin mengumumkan kasus pertama Covid-19 varian Omicron yang ditemukan pada Rabu 15 Desember. Kasus tersebut pertama ditemukan pada petugas kebersihan di Wisma Atlet berinisial N. Ketika terinfeksi Omicron, N tidak mengalami gejala apapun termasuk batuk dan demam.
Budi menambahkan, sampel yang 8 diambil dari Wisma Atlet pada tanggal 8 Desember. Sampel tersebut kemudian dikirimkan ke Balitbangkes untuk pemeriksaan Whole Genome Sequencing. Dari 3 sampel yang terkonfirmasi positif, salah satunya varian Omicron.Usai melakukan tes PCR kedua, petugas pembersih itu pun telah menunjukkan hasil negatif Covid-19.
5. Pemerintah membuat strategi berlapis.
Dengan ditemukannya kasus varian Omicron, Menkes meminta masyarakat agar berhati-hati dan untuk sementara tidak berlibur ke luar negeri. Selain itu ia juga menghimbau agar tetap mematuhi protokol kesehatan, patuhi surveilans, serta melakukan vaksinasi untuk mencegah penularan.
Terkait karantina, Budi mengungkapkan, ini merupakan upaya memperkuat pertahanan agar virus varian apa pun tak mudah masuk ke Tanah Air.
Reporter: Azizta Laksa Mahardikengrat