Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Penyebab Epilepsi, Perhatikan Gejala dan Cara Mencegahnya

Penyebab Epilepsi, Perhatikan Gejala dan Cara Mencegahnya ilustrasi epilepsi. ©www.jpost.com

Merdeka.com - Penyakit epilepsi sebenarnya sudah dikenal sejak tahun 2000 sebelum Masehi. Orang pertama yang berhasil mengenal epilepsi sebagai gejala penyakit dan menganggap bahwa epilepsi merupakan penyakit yang didasari oleh adanya gangguan di otak adalah Hipokrates. Epilepsi sendiri merupakan kelainan neurologi yang dapat terjadi pada setiap orang di seluruh dunia.

Jika kamu mendapati tubuh seseorang tiba-tiba bergetar di luar kendali, menyentak, membuat air liur keluar, gigi gemeretak, dan hilangnya kontrol atas kandung kemih. Maka bisa jadi orang tersebut merupakan penderita penyakit epilepsi. Sebagai orang awam dengan penyakit epilepsi atau ayan, pastilah hal ini terlihat menakutkan.

Umumnya seseorang didiagnosis sedang mengalami penyakit epilepsi apabila telah mengalami setidaknya dua kali kejang yang tidak diprovokasi. Seiring dengan bertambahnya usia, anak dengan epilepsi bahkan kerap tidak menunjukkan gejalanya lagi.

Maka dari itu penting untuk mengetahui apa saja yang menjadi penyebab dari penyakit tersebut sehingga dapat mengantisipasinya lebih dini. Berikut ini informasi mengenai penyebab epilepsi, perhatikan gejala dan cara mengatasinya telah dirangkum merdeka.com melalui liputan6.com dan Klikdokter.

Penyebab Epilepsi

1. Gangguan pada Otak

Penyebab epilepsi yang pertama adalah gangguan pada otak yang dapat memicu terjadinya kerusakan otak, seperti tumor otak atau stroke, yang mana stroke sendiri merupakan penyebab utama epilepsi pada orang dewasa di atas usia 35 tahun.

2. Trauma Kepala

Selain gangguan pada otak, penyebab epilepsi berikutnya adalah trauma kepala sebagai akibat dari kecelakaan kendaraan bermotor atau cedera lainnya.

3. Genetik

Pada sebagian besar orang, genetik hanyalah sebagian dari penyebab epilepsi. Adanya gen tertentu dapat membuat seseorang sensitif terhadap kondisi lingkungan yang dapat mencetuskan timbulnya kejang.

4. Usia

Bukan hanya faktor genetik, tapi faktor usia juga dapat mempengaruhi risiko seseorang menderita penyakit epilepsi. Waktu kejadian dari epilepsi sendiri lebih sering terjadi pada usia kanak-kanak dan lanjut usia. Namun kondisi ini dapat timbul pada usia berapa pun.

5. Gangguan Saat Kehamilan

Sebelum persalinan, janin sensitif terhadap kerusakan otak yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti infeksi dari ibu, nutrisi yang kurang baik, atau kekurangan oksigen. Ya, kerusakan otak tersebut dapat menyebabkan terjadinya penyakit epilepsi.

Gejala Epilepsi

Selain mengetahui penyebab epilepsi, kamu juga perlu tahu gejala yang muncul pada penderita epilepsi, supaya kamu dapat mengenalinya lebih awal dan mengambil tindakan lebih cepat.

Pada umumnya epilepsi disebabkan oleh aktivitas listrik abnormal pada otak, kejang yang timbul dapat memengaruhi proses koordinasi pada otak. Tanda dan gejala kejang dapat mencangkup:

  • Kebingungan yang sementara
  • Tatapan kosong
  • Gerakan kelojotan yang tidak terkendali pada tangan dan kaki
  • Hilangnya kesadaran
  • Gejala psikologis seperti rasa takut, ansietas, dan deja vu.
  • Cara Mencegahnya

    Sebagian dari penyakit epilepsi tidak diketahui penyebab yang mendasarinya, maka belum terdapat metode pencegahan yang terbukti efektif untuk sepenuhnya mencegah terjadinya penyakit ini.

    Namun dari beberapa faktor penyebab yang telah diketahui, kamu bisa mencegahnya terlebih dahulu penyebab yang mendasarinya. Misalnya saja cedera kepala, kamu bisa mencegahnya dengan menggunakan helm saat mengendarai sepeda ataupun motor.

    Sedangkan untuk stroke, kamu bisa mencegahnya dengan menerapkan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan yang bergizi, tidak merokok, membatasi konsumsi alkohol, dan menjaga tekanan darah agar tetap stabil.

    Pertolongan Pertama Epilepsi

    Jika kamu menemui penderita epilepsi yang mendadak kejang maka kamu tidak perlu panik. Kamu bisa melakukan pertolongan pertama dengan langkah-langkah berikut ini:

  • Jangan panik dan tetaplah bersama orang tersebut
  • Hitung waktu kejang dari awal hingga akhir
  • Longgarkan pakaian di sekitar lehernya
  • Singkirkan benda-benda tajam dan berbahaya seperti kacamata, furnitur, hingga benda keras lainnya dari orang tersebut
  • Jika ada, mintalah orang di sekitar untuk mundur dan memberi ruangan untuk orang tersebut
  • Secara perlahan, baringkan orang tersebut dalam posisi miring secepat mungkin, taruh bantal (atau sesuatu yang lembut) di bawah kepalanya, dan buka rahangnya untuk membuka jalur pernapasan yang lebih baik sekaligus mencegah orang tersebut dari tersedak air liur atau muntah. Seseorang tidak bisa menelan lidahnya, tapi lidah bisa terdorong ke belakang dan menyebabkan terhalangnya jalur napas.
  • Terus berkomunikasi dengan orang tersebut sehingga kamu tahu kapan mereka telah sadar.
  • Setelah korban sadar, ia mungkin merasa linglung. Tetap temani dan tenangkan korban. Jangan tinggalkan korban sendirian sampai ia merasa benar-benar kembali fit.
  • (mdk/nof)
    Geser ke atas Berita Selanjutnya

    Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
    lihat isinya

    Buka FYP