Mengenal Wayang Cepak, Lelakon Unik dari Indramayu yang Libatkan Penonton
Merdeka.com - Selain dikenal sebagai masyarakat pesisir, Indramayu juga terkenal sebagai salah satu wilayah di Jawa Barat yang memiliki ragam kesenian khas. Wayang cepak merupakan satu dari beberapa kesenian, yang terbilang unik. Kesenian ini digemari oleh seluruh masyarakat di kota mangga tersebut.
Seniman yang hingga kini akrab dengan wayang golek Indramayuan, adalah Warsad Darya. Pria asal Desa Gadingan, Kecamatan Siliyeg, Kabupaten Indramayu ini, sudah puluhan tahun memperjuangkan kiprah dari sang lelakon dermayon. Bahkan hingga kini, di usianya yang menginjak 80 tahun.
Menurutnya, saat ini kesenian tersebut semakin terpinggirkan. Dirinya berupaya agar lelakon cepak terus dipertahankan, mengingat kesenian ini merupakan identitas khas dari Indramayu.
Alur Cerita Lebih Bebas

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ ©2020 Merdeka.com
Dilansir dari laman Kemendikbud, pria yang akrab dipanggil Ki Warsad ini, menyebutkan jika salah satu keunikan dari wayang cepak adalah ceritanya yang bebas. Wayang satu ini tidak berpatokan pada cerita Ramayana atau Mahabrata, seperti wayang Jawa pada umumnya.
Wayang Cepak Indramayu lebih berfokus mengangkat pesan moral pada cerita seorang tokoh, sejarah maupun mengambil kejadian masa kiwari (saat ini) di dunia nyata.
Cerita Andalan Wayang Cepak
Salah satu cerita yang selalu jadi andalan Wayang Cepak adalah cerita tentang aktivitas perangkat desa hingga pemerintahan. Sebut saja gubernur, bupati atau pemimpin desa, kerap dimainkan, karena dianggap lebih dekat dengan penonton.
Selain itu cerita-cerita seputar agama Islam juga kerap ditampilkan, seperti kisah Sunan Gunung Jati maupun Walisongo serta raja-raja Mataram.
Melibatkan Penonton

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ ©2020 Merdeka.com
Ki Warsad menyebutkan tantangan yang selama ini ia alami saat mendalang, yaitu adanya keterlibatan masyarakat dalam setiap penampilan.
Ia mencontohkan ketika sedang mendalang dengan lakon tertentu, tiba-tiba ada surat yang diberikan oleh sinden. Isi surat itu, bisa berupa untuk mengubah tema hingga irama lagu, dan sang dalang tidak bisa menolak.
Menurutnya pergantian cerita di tengah jalan merupakan hal yang wajar dalam pertunjukan wayang cepak. Bukan tanpa alasan, keterlibatan penonton sudah menjadi bagian dari kesenian ini.
“Kalau permintaan mereka diabaikan, penonton bisa ngamuk,” kata Warsad sembari mengenang masa kejayaan wayangnya di tahun 70-an.
Perbedaan dengan Wayang Golek Jawa Barat
Karena bentuknya yang mirip dengan Wayang Golek, seringkali masyarakat awam sulit membedakan. Menurut Ki Warsad, Wayang Cepak memiliki karakter khusus yang terletak pada sisi kepala di setiap tokohnya.
Nama “cepak” atau disebut “pak-pak” menggambarkan bagian belakang kepala yang rata, atau cepak. Berbeda dengan kepala pada penokohan di Wayang Golek yang runcing dan sedikit melengkung.
Saat ini, Ki Warsad sudah menurunkan ilmu Wayang Cepak kepada putranya, Suyatno dan Cas Oni. Keduanya juga sudah berprofesi sebagai dalang Wayang Cepak sebagai regenerasi dari sang ayah.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya