Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengenal Sulah Nyanda, Rumah Adat Baduy yang Dibangun Mengikuti Kondisi Alam

Mengenal Sulah Nyanda, Rumah Adat Baduy yang Dibangun Mengikuti Kondisi Alam Rumah adat Baduy Sulah Nyanda saat dibangun. ©2021 YouTube Roby Baduy/Merdeka.com

Merdeka.com - Rumah adat khas Suku Baduy yang bernama Sulah Nyanda, terletak di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Bangunan berbahan dasar anyaman bilik bambu, dengan atap ijuk atau daun kelapa kering itu memang kerap mencuri perhatian. Bagaimana tidak, susunan tiang dari bangunan mirip rumah adat Jawa Barat tersebut dibuat tak simetris dengan tujuan tertentu.

Konon hal tersebut dipercaya sebagai upaya untuk melindungi penghuni dari terpaan bencana alam, yang terletak di kawasan dataran tinggi tersebut. Selain itu, keunikan lainnya juga bisa dilihat dari bentuk dalamnya yang terlihat minimalis, namun tetap membuat pemiliknya nyaman.

Melansir kanal Indonesia Kaya, Selasa (19/10), berikut informasinya.

Pembangunan Mengikuti Kondisi Alam

rumah adat baduy sulah nyanda

©2021 dispar.bantenprov.go.id//Merdeka.com

Sebagai masyarakat yang dekat dengan alam, aspek laku lampah masyarakat Baduy selalu berusaha untuk tak bertentangan dengan kodrat yang diciptakan sang maha kuasa. Salah satu buktinya adalah rumah adat Sulah Nyanda tersebut.

Seperti diketahui, rumah adat warga Baduy itu dibangun dengan memperhitungkan sisi yang ramah lingkungan. Mereka mendirikan bangunan hanya menggunakan kayu dan anyaman bambu, dengan menyesuaikan keadaan kontur tanah tanpa mengubahnya.

Sehingga jika diamati, rumah struktur rumah terlihat tak simetris dengan kondisi tiang-tiang pembangun yang tak sejajar.

Miliki Sirkulasi Udara dan Matahari yang Unik

rumah adat baduy sulah nyanda saat dibangun

©2021 YouTube Roby Baduy/Merdeka.com

Keunikan rumah adat Baduy lainnya adalah tidak terdapatnya jendela di setiap sisi rumah. Berdasarkan aturan adat, jendela hanya boleh dibuat di bagian lantai rumah dengan menghadap langsung ke tanah.

Kemudian posisi rumah juga hanya diperbolehkan menghadap ke utara dan selatan saja. Hal itu dikarenakan timur dan barat merupakan sumber cahaya matahari yang berhak didapatkan setiap warga di sana.

Untuk rumah pimpinan dusun biasanya dibuat di sisi bagian Selatan dan memiliki posisi yang lebih tinggi secara letak. Hal ini berkenaan dengan posisi pimpinan di Baduy yang dianggap lebih suci dan lebih penting dari segalanya (penghormatan).

Miliki Tiga Unsur Ruang

Melansir laman dispar.bantenprov.go.id, rumah Sulah Nyanda dibagi ke dalam 3 unsur ruangan sesuai fungsinya, yaitu sosoro (depan), tepas (tengah) dan ipah (belakang). 

Ketiganya memiliki filosofi tersendiri seperti sosoro yang berfungsi sebagai ruang penerima tamu. Hal ini dikarenakan tamu tidak diperkenankan masuk ke dalam rumah. Fungsi lainnya digunakan sebagai tempat bersantai dan menenun bagi kaum perempuan. Bagian depan ini berbentuk melebar ke samping dengan lubang di bagian lantainya.

Sedangkan bagian tengah atau biasa disebut tepas, biasa difungsikan untuk aktivitas beristirahat dan pertemuan keluarga. Sementara di bagian belakang rumah atau biasa dikenal imah akan difungsikan pemilik sebagai tempat untuk memasak, serta menyimpan hasil ladang dan beras (leuit).

Biasanya, warga Baduy akan membangun rumah adat Sulah Nyanda dengan cara bergotong royong. Mereka akan memanfaatkan bahan bangunan yang berasal dari alam.

Beberapa di antaranya adalah kayu yang digunakan untuk membangun pondasi, sedangkan pada bagian dasar pondasi warga akan menggunakan batu kali atau umpak sebagai landasan tiang.

(mdk/nrd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP