Kenali PMK, Penyakit Mulut dan Kuku yang Menyerang Hewan Kurban

Jumat, 1 Juli 2022 14:40 Reporter : Tyas Titi Kinapti
Kenali PMK, Penyakit Mulut dan Kuku yang Menyerang Hewan Kurban Harga kambing melonjak akibat wabah PMK. ©Liputan6.com/Johan Tallo

Merdeka.com - Tidak lama lagi umat Islam di Indonesia akan merayakan hari besar yaitu Idul Adha. Momentum hari besar ini biasanya dirayakan dengan memotong hewan sesuai dengan ketentuan yang sudah ditentukan.

Namun, akhir-akhir ini terjadi masalah besar yang menimpa para peternak hewan, terutama hewan kurban, yaitu munculnya wabah yang sangat meresahkan: penyakit kuku dan mulut atau yang biasa disebut dengan PMK.

Wabah ini dapat menginfeksi hewan seperti sapi, kambing, hingga rusa. Hal itu tentu sangat meresahkan para pemilik hewan ternak dan masyarakat luas, terlebih menjelang hari raya kurban.

Maka dari itu, untuk menanggulanginya, masyarakat perlu mengenal lebih jauh tentang PMK. Tindakan ini perlu dilakukan dalam rangka untuk meminimalisir risiko dan dampak kerugian akibat penyakit ini.

2 dari 3 halaman

Pengertian dan Gejala PMK

Penyakit mulut dan kuku, atau yang lebih sering disingkat PMK, merupakan penyakit yang sangat berbahaya bagi hewan ternak. Meskipun tidak bisa menular ke manusia, akan tetapi datangnya penyakit ini tentu sangat meresahkan bagi masyarakat dan para peternak hewan.

Penyakit ini disebabkan oleh virus yang bersifat merusak jaringan sel. Hingga saat ini, PMK sudah menyebar ke 15 provinsi di Indonesia dalam waktu yang sangat cepat. PMK memiliki masa inkubasi selama 2 sampai 14 hari.

Walaupun begitu, gejala virus ini dalam beberapa kasus juga bisa muncul dalam waktu kurang dari 24 jam setelah virus itu menginfeksi. Virus PMK akan berkembang dalam jaringan faring, kulit, dan menyebar ke seluruh tubuh melewati sirkulasi darah dan berakibat pada terbentuknya lepuh pada faring.

Penularan PMK

Munculnya virus PMK tentu bukanlah masalah yang remeh. Hal itu perlu diwaspadai karena virus PMK dapat menyebar dengan sangat cepat, menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi para peternak hewan, pengendalian yang sulit, dan biaya vaksinasi yang sangat banyak.

Hewan ternak bisa terkena virus PMK melalui berbagai macam cara, pertama; kontak langsung maupun tidak langsung dengan hewan yang terinfeksi, kedua; terbawa dari makhluk hidup lain, ketiga; terbawa dari benda-benda mati, keempat; tersebar melalui angin.

Gejala PMK

Beberapa hewan ternak yang rentan terinfeksi virus PMK adalah sapi, kerbau, unta, gajah, rusa, kambing, domba, dan babi.

Adapun gejala yang dirasakan oleh hewan ternak ketika terinfeksi virus PMK ini adalah hewan tidak terlihat bahagia, demam, dan nafsu makan menurun. Hal ini akan merugikan para peternak karena kualitas hewan ternak tentu akan jauh menurun.

Pada sapi, virus PMK ini biasanya menyebabkan demam tinggi, bahkan hingga mencapai 41⁰C. Demam yang tinggi tersebut biasanya juga diikuti oleh penurunan produksi susu. Selain itu, sapi kemudian akan menggeretakkan gigi, leleran mulut, dan menendang kaki. Hal itu disebabkan karena adanya lepuhan pada membrane mukosa hidung. Proses penyembuhan virus PMK biasanya akan terjadi selama 8 sampai 15 hari.

Di beberapa hewan lain seperti kambing dan domba, tidak memiliki perbedaan yang jauh dengan sapi. Adapun pada babi, virus ini bisa timbul beberapa lesi kaki ketika dikandangkan pada alas permukaan yang keras.

Babi akan mengalami lepuh pada lidah, sela gigi, gusi, pipi, dan lain sebagainya. Bahkan pada kondisi yang lebih ekstrem, virus PMK bisa menyebabkan kematian pada babi muda.
Maka dari itu, perlu adanya pemahaman yang lebih dalam bagi para pemilik hewan supaya hewan ternaknya tidak terinfeksi virus PMK.

3 dari 3 halaman

Cara Menanggulangi Virus PMK bagi Peternak

Ada dua cara yang dapat dilakukan oleh peternak untuk menanggulangi virus PMK. Pertama adalah pencegahan dengan cara biosekuriti atau tindakan yang dilakukan pertama kali untuk mencegah terjadinya infeksi, dan kedua adalah pencegahan dengan cara medis.

Peternak bisa melindungi zona dengan membatasi gerakan hewan dan juga melakukan pengawasan yang ketat. Selain itu perlu juga dilakukan pemotongan pada hewan yang sudah terinfeksi, hewan baru sembuh, dan hewan-hewan yang kemungkinan memiliki kontak dengan pembawa virus.

Perlu juga dilakukan desinfeksi asset dan semua material yang terinfeksi. Apabila ada bangkai atau sampah yang berkaitan erat dengan hewan yang terinfeksi, segerakan untuk dimusnahkan.

Selain itu, peternak juga bisa melakukan tindakan secara medis dengan memberikan vaksin virus aktif yang mengandung adjuvan. Adjuvant merupakan bahan yang mampu meningkatkan respons imun terhadap vaksin. Vaksin tersebut akan memberikan kekebalan selama 6 bulan setelah dua kali pemberian vaksin.

Peternak juga wajib mengetahui cara pengobatan dan pengendalian virus PMK, yaitu dengan memotong dan membuang jaringan tubuh hewan yang terinfeksi dan memberikan larutan cuprisulfat pada kaki yang terinfeksi.

Hewan yang terinfeksi harus ditempatkan pada lokasi yang kering dan dibiarkan untuk bebas berjalan. Selain itu juga hewan harus diberikan pakan yang cukup untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya.

Ketika pemilik hewan ternak sudah mengetahui virus PMK, maka antisipasi dan penanganan terhadap virus ini akan bisa dilakukan dengan baik. Ini tentu akan berakibat pada menurunnya kerugian yang selama ini dirasakan oleh peternak. Pasalnya, dengan adanya virus ini, mereka mengalami kerugian ekonomi yang cukup drastis.

Meskipun daging dari hewan ternak masih layak untuk dikonsumsi, akan tetapi ada beberapa bagian pada hewan ternak tidak layak konsumsi, yaitu jeroan, bagian mulut, bibir, dan lidah.

Virus PMK ini tentu diharapkan segera musnah, terlebih lagi hari raya Idul Adha tidak lama lagi akan datang. Dengan banyaknya informasi perihal pencegahan virus PMK, peternak diharapkan bisa mengendalikan virus ini dan tidak lagi menjadi masalah besar bagi hewan ternak di kemudian hari.

Reporter: Farih Fanani

[Tys]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini