Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Tuduhan Orang Arab Bakar Perpustakaan Alexandria Dipatahkan

Tuduhan Orang Arab Bakar Perpustakaan Alexandria Dipatahkan Lukisan saat Perpustakaan Alexandria terbakar. Fine Art Images/Heritage Images/Getty Images©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Para orinetalis mempercayai orang-orang Arab sebagai pelaku pembakaran jutaan manuskrip tua yang berharga di Perpustakaan Alexandria. Dibantah sebagian cendekiawan Barat.

Penulis: Hendi Jo

Perpustakaan Alexandria di Mesir pernah mengalami kemusnahan yang tragis. Akibat kebakaran besar, jutaan koleksinya hancur menjadi abu. Apa yang menyebabkan terbakarnya salah satu perpustakaan terbesar di dunia sepanjang zaman itu?

Pada saat Perang Salib I berkecamuk (1096-1270), seorang Uskup Agung dalam Gereja Siryani bernama Gregorius Caronus (dalam literatur Arab ia dikenal sebagai Abul Faraj al Malathiyi) meniupkan isu jika pelaku pembakaran Perpustakaan Alexandria tersebut adalah orang-orang Arab.

Dalam sebuah karyanya The History of Dynasties (diterjemahkan dari Tarikhud Duwwal/ Hikayat Sebuah Dinasti), Caronus berkisah usai penaklukan Alexandria oleh pasukan Arab pada 641 M, Jenderal Amr ibn Ash diminta tolong oleh Johannes Philoponus (seorang cendekiawan neoplatonism) untuk menyelamatkan jutaan manuskrip yang ada di Perpustakaan Alexandria. Merasa bukan wewenangnya, Amr ibn Ash lantas meminta saran kepada Khalifah Umar ibn Khattab di Medinah.

Umar sendiri, kata Caronus, memerintahkan Amr ibn Ash untuk secepatnya memusnahkan Perpustakaan Alexandria. Dia menilai jika karya-karya orang Yunani yang ada di perpustakaan itu tidak sejalan isinya dengan Alquran.

"Jika semua itu tidak sesuai dengan Alquran maka itu berbahaya dan harus dimusnahkan…" perintah Umar.

Fakta Kebakaran Alexandria

Amr bin Ash lantas mengeluarkan semua isi Perpustakaan Alexandria dan mengumpulkannya hingga bergunung-gunung. Dia lantas membagikannya kepada 4.000 pemandian air panas di penginapan-penginapan sepanjang pelabuhan Alexandria.

"Begitu banyaknya manuskrip itu, hingga penginapan-penginapan tersebut bisa menggunakannya sebagai suluh setiap harinya selama 6 bulan," tulis lelaki Yunani yang dalam sejarah dikenal juga sebagai Johanes Grammaticus itu.

Banyak kalangan di Barat mempercayai keterangan sejarah versi Caronus tersebut. Setidaknya itu terjadi hingga abad ke-17. Baez menyebut nama orientalis Inggris Edward Pococke (1604-1691) sebagai penulis Barat paling aktif menyebarkan pemikiran itu. Setidaknya hal tersebut dapat dilihat dari hasil terjemahannya atas karya Bar Hebracus yakni Specimen Historiae Arabum yang terbit pada 1649.

Namun belakangan soal itu dibantah keras oleh Edward Gibbon (1737-1794). Dalam Decline Fall of the Roman Empire Ed. IX (Jatuhnya Kekaisaran Romawi Jilid ke-9), dia menyebut 'kisah fantastis' Caronus itu sebagai 'tipu-tipu murahan gaya Perang Salib'.

Selain Gibbon, beberapa cendekiawan Barat lainnya juga menyebut Caronus sebagai pembual. Tercatat nama-nama sejarawan seperti M.J.J. Marcel, Gustave Le Bon, L.B.Sedillot, Stanley Lanepoole, Alfred J.Butler dan Le Fort menjadi saksi bahwa apa yang ditulis Caronus merupakan sebuah kisah yang tak layak dipercaya.

Dalam bukunya La Civilisation des Arabes (Peradaban Orang-Orang Arab), Gustave Le Bon justru menyebut musnahnya Perpustakaan Alexandria disebabkan ulah pasukan Julius Caesar (110-44 sM) saat menyerbu Mesir.

"Bencana-bencana yang menimpa Perpustakaan Alexandria disebabkan api yang berkobar tanpa sengaja pada saat Caesar mempertahankan dirinya."

Dunia Barat Kambinghitamkan Arab

Setelah dibangun kembali pada era Kaisar Marcus Antonius (83-30 SM), Perpustakaan Alexandria lagi-lagi terbakar pada 263 M. Kemudian saat terjadinya kerusuhan besar di Alexandria pada era Kaisar Gallenus (255-268), lagi-lagi situs bersejarah itu terbakar dan hanya menyisakan Gedung Sarapeum. Jadi kala pasukan Arab memasuki Alexandria, perpustakaan itu sesungguhnya sudah lama musnah.

"Sungguh memalukan, dosa yang dibuat sendiri oleh dunia Barat hendak dikambinghitamkan kepada orang-orang Arab," ujar Gibbon.

Selain menggali informasi sebab musabab musnahnya Perpustakaan Alexandria, para cendekiawan Barat itu juga menelanjangi kebohongan Caronus lewat kisah Johannes Philoponus.

Menurut Le Bon, kendati tokoh Johanes Philoponus memang ada namun sesungguhnya ia hidup di era sebelumnya. Dikatakan sejarawan Prancis itu bahwa Philoponus merupakan uskup radikal yang hidup saat terjadi Konsili Chaceldon pada 451. Dia hidup sampai masa kekuasaan Kaisar Justinianus (518-565 M).

"Bagaimana bisa seorang tokoh yang sudah lama berada dalam perut bumi dikatakan 'bersahabat baik dengan Jenderal Amr ibn Ash di Alexandria' pasca penaklukan bandar itu pada 641 M?" ujar Le Bon.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP