Teror Baret Merah di Sukabumi
Merdeka.com - Sebuah aksi pembersihan yang dilakukan pasukan lintas udara Belanda berujung kepada pembantaian dan pemerkosaan rakyat sipil. Diprotes keras pejabat Negara Pasundan.
Penulis: Hendi Jo
Ikin baru berusia 15 tahun ketika insiden itu terjadi di Bojonggaling (masuk wilayah Desa Kebonpedes, Kecamatan Baros, Sukabumi) pada 25 Januari 1949. Saat itu suatu truk Palang Merah dicegat kaum gerilyawan Republik di luar kampungnya tersebut. Akibat ledakan ranjau darat, truk terbalik menyebabkan seorang letnan dan dua prajuritnya (yang mengawal truk tersebut) tewas seketika.
"Katanya setelah berhasil merampas beberapa senjata, tentara (TNI) langsung menghindar kembali ke hutan," kenang lelaki kelahiran Sukabumi pada 1934 itu.
Empat hari kemudian, satu unit pasukan Baret Merah (bagian dari lintas udara Korps Pasukan Khusus KNIL) mengepung Kampung Banen. Rupanya, informan militer Belanda mencurigai 'para ekstrimis' menjadikan kampung tetangganya Bojonggaling itu sebagai pangkalan sebelum menghancurkan truk Palang Merah itu.
Para prajurit Baret Merah kemudian merangsek ke dalam kampung. Mereka mengumpulkan seluruh kaum lelaki. Jumlahnya 56 orang terdiri dari anak remaja belasan tahun dan orang dewasa. Setelah melakukan interogasi kilat disertai praktik kekerasan, prajurit-prajurit Baret Merah menjejerkan enam orang dari mereka dan langsung menembak mati mereka dengan senjata otomatis. Aksi brutal tersebut terus berlanjut hingga pasukan Baret Merah menghabisi 56 tawanan.
"Tentara Belanda bahkan membunuhi orang-orang Kampung Banen dengan cara menyuruh mereka lari lalu menembakinya satu persatu. Mirip perlombaan saja," ungkap Ikin.
Tidak cukup di Kampung Banen, pasukan Baret Merah pun mengamuk di Desa Cijurei (masuk Kecamatan Sukaraja). Di sana mereka menghabisi 60 penduduk desa tersebut lewat cara yang sama. Bahkan ada beberapa penduduk yang ditembak mati saat memetik kelapa muda yang diminta oleh para prajurit itu.
Sebelum meninggalkan Cijurei, terlebih dahulu pasukan Baret Merah menembakkan mortirnya. Akibat aksi itu kurang lebih 90 rumah menjadi rusak dan terbakar. Barulah setelah meluluhlantakan secara brutal kampung tersebut, mereka kembali ke kota Sukabumi.
Semua kebrutalan itu terekam juga secara detil dalam sebuah dokumen di Arsip Nasional Kerajaan Belanda, Den Haag berkode: 2.10.14 dengan nomor inventaris: 3752. Dokumen itu memuat protes keras yang dilakukan oleh seorang anggota parlemen Negara Pasundan bernama Abdulhamid.
Surat protes yang diajukan pada 3 Februari 1949 itu ditujukan kepada Walinegara Pasundan. Dalam surat tersebut, Abdulhamid menilai tindakan yang dilakukan oleh pasukan Baret Merah itu sungguh biadab dan hanya bisa disamakan dengan kekejaman tentara Jepang dan tentara Jerman di Eropa.
"Hal seperti itu tidak boleh didiamkan oleh manusia yang menganggap dirinya beragama, setidaknya mengaku beradab," ujar Abdulhamid.
Jenderal (Purn) A.H. Nasution memiliki versi sendiri mengenai kejadian itu. Dalam bukunya Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia, Jilid ke-10: Perang Gerilya Semesta II, Nasution menyebut 104 orang telah menjadi korban serangan balasan itu."Di antaranya anak yang masih berumur 9 tahun..." ungkap Nasution.
Soal itu memang sempat dibahas dalam sebuah sidang khusus di parlemen Negara Pasundan. Protes keras pun dilontarkan oleh parlemen kepada Mayor Jenderal E. Engles, Panglima Tentara Belanda di Jawa Barat.
Namun alih-alih terselesaikan, dua bulan kemudian pasukan Baret Merah malah melakukan kebrutalan lagi di distrik Cibadak. Selain menimbulkan beberapa korban nyawa, aksi itu juga diiringi praktik pemerkosaan terhadap seorang remaja putri berusia 12 tahun. Demikian keterangan yang dilaporkan oleh Bupati Sukabumi kepada Menteri Dalam Negeri Negara Pasundan yang saat ini tersimpan di Arsip Nasional Belanda dengan nomor inventaris: 1314 itu. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya