Sukarno dikenal sebagai tokoh yang sangat dihormati lantaran jasa besarnya bagi kemerdekaan bangsa dan negara. Sukarno juga dikenal sebagai sosok laki-laki berkharisma menawan yang bisa membuat perempuan jatuh cinta.
Salah satu perempuan yang dibuat jatuh cinta adalah Fatmawati. Demi cintanya kepada sang proklamator, Fatmawati meninggalkan tempat kelahirannya di Bengkulu untuk mendampingi dan mendukung suaminya dalam perjuangan kemerdekaan.
Ketika Indonesia merdeka, Sukarno dipilih menjadi Presiden pertama Republik Indonesia. Otomatis, Fatmawati menjadi first lady Indonesia yang pertama. Namun, kisah cinta ibu negara itu berakhir tak bahagia.
Advertisement
Kesedihan Fatmawati
Fatmawati memilih untuk pergi meninggalkan istana merdeka tak lama setelah kelahiran sang putra bungsunya, Guruh Soekarnoputra. Pada siang hari di Istana Merdeka, Fatmawati menghampiri Sukarno.
Dia berniat pamit meninggalkan istana negara. Sukarno tak mengabulkan keinginan Fatmawati. Karena baginya, istana adalah rumah mereka yang harus ditinggali bersama.
"Di sini bukan rumahku, keadaan kita sekarang sudah lain," ucap Fatmawati yang tertulis dalam Catatan Kecil Bersama Bung Karno.
Ucapan itu ternyata kalimat perpisahan yang dilontarkan Fatmawati. Selepas mengatakan itu, tanpa keributan dan penuh ketenangan, Fatmawati mengucap bissmilah lalu melangkahkan kaki meninggalkan gerbang istana.
Fatmawati pergi meninggalkan istana dan juga anak-anaknya yang lain. Hanya Guruh yang masih bayi yang dibawa serta ke rumah barunya di jalan Siliwangi, Kebayoran Baru.
Winoto Danuasmoro, sahabat dekat dan juga orang kepercayaan Sukarno menceritakan peristiwa setelah kepergian Fatmawati. Sukarno meminta bantuannya untuk membujuk Fatmawati kembali ke istana.
Bung Karno perlu orang ketiga lantaran Fatmawati tidak mau berbicara lagi dengannya. Namun, bujukan Winoto yang bahkan sudah dianggap kakak sendiri oleh Fatmawati, tak digubris.
"Dengan air mata berlinang bu Fat meminta saya untuk membantu mengawasi anak-anaknya dan juga mengawasi para pengasuh agar tidak kurang apapun," ucap Winoto dalam catatannya.
Advertisement
Alasan Pergi Dari Istana
Pada 13 Januari 1953, anak bungsu Sukarno dan Fatmawati lahir dengan nama Mohammad Guruh Irianto Soekarno Putra. Saat melahirkan Guruh, Fatmawati kehabisan banyak darah hingga dioperasi. Dokter menyarankan Fatmawati agar tidak mempunyai anak lagi. Alasannya, akan membahayakan kesehatannya.
Kabar dari dokter dibarengi dengan permintaan suaminya. Bung besar meminta izin untuk menikah lagi dengan perempuan lain.
"Fat, aku mau minta izinmu, aku akan kawin dengan Hartini," ucap Sukarno yang ditulis Fatmawati dalam buku catatannya.
Fatmawati tidak setuju. Karena sejak awal dinikahi oleh Sukarno, Fatmawati menolak keras poligami. Jika Sukarno berkukuh menikah, Fatmawati minta dipulangkan ke orang tuanya.
Akhirnya Sukarno tetap menikahi Hartini. Pernikahan tersebut ditentang oleh semua organisasi wanita di Indonesia. Karena hal itulah first lady Indonesia tetap Fatmawati bukanlah Hartini.
Reporter Magang: Ita Rosyanti