Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Misi Penting Haji Agus Salim ke Negara-Negara Arab

Misi Penting Haji Agus Salim ke Negara-Negara Arab Haji Agus Salim. ©buku seratus tahun haji agus salim/sinar harapan

Merdeka.com - Haji Agus Salim, salah satu pria yang berjasa dalam penghilangan kalimat 'Kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya' dalam butir dasar negara kita.

Tak hanya berhasil menjaga persatuan bangsa, Haji Agus Salim adalah sosok di balik keberhasilan diplomasi dengan negara-negara Arab. Sehingga Indonesia mendapatkan pengakuan kedaulatan.

Dalam buku Seri Pahlawan: H. Agus Salim, diceritakan ketika Haji Agus Salim diangkat menjadi Menteri Muda Luar Negeri pada Kabinet Sjahrir II. Sebelumnya, dia pernah menjadi juru bicara Perdana Menteri Sjahrir pada tahun 1946. Dia ikut serta dalam beberapa perundingan.

Ketika ditanya salah seorang wartawan Amerika Serikat yang bernama Richard Schroub, Haji Agus Salim memberikan pernyataan yang berapi-api.

"Daripada Indonesia diberikan kepada bangsa Belanda, lebih baik saya bakar pulau ini," kata Haji Agus Salim.

Menteri Muda Luar Negeri

Pada 4 Januari 1946, pemerintahan Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta. Langkah ini dilakukan karena kondisi Jakarta jauh dari kata aman. Beberapa permasalahan pun mengadang Kabinet Sjahrir II. Misalnya penculikan Ir. Darmawan Mangunkusuma (Menteri Kemakmuran), Dr. Sumitro dan Mayjen Sudibyo.

Presiden Sukarno terpaksa mengambil alih kekuasaan pada 21 Juli 1946. Dalam waktu kekosongan kekuasaan itu, muncul golongan anti-Sjahrir yang menyerahkan susunan Dewan Pimpinan Politik dan Dewan Kementerian Negara. Meskipun begitu, Presiden Sukarno tetap memercayakan mandatnya kepada Sutan Sjahrir. Kabinet Sjahrir III pun dibentuk.

Kabinet Sjahrir III terdiri atas 31 Kementerian dengan Sjahrir sebagai Perdana Menteri Luar Negeri dan Haji Agus Salim sebagai Menteri Muda Luar Negeri untuk kedua kalinya.

Haji Agus Salim Keliling Negara Arab

Dalam buku Haji Agus Salim: Karya dan Pengabdiannya, dijelaskan peran Haji Agus Salim sebagai Menteri Muda Luar Negeri Republik Indonesia. Dalam rangka menghadapi sidang Dewan Keamanan PBB, Kabinet Sjahrir berusaha mengumpulkan dukungan dari dunia Internasional. Untuk mencapai itu, pemerintah mengutus Haji Agus Salim dalam misi persahabatan dengan negara-negara Islam pada 4 April 1947.

Haji Agus Salim menjelaskan perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Sebagai seorang tokoh Islam terkemuka, Haji Agus Salim cukup terkenal di kalangan negara-negara Arab. Sehingga perjalanan tersebut membuahkan hasil.

Beberapa negara Islam pun mengakui Republik Indonesia secara de jure. Pada tanggal 10 Juni 1947, Haji Agus Salim berhasil menandatangani perjanjian persahabatan antara Republik Indonesia dan Mesir di Kairo yang terdiri atas 5 pasal dan 3 bahasa (Indonesia, Prancis, dan Arab), sedangkan dari pihak Mesir diwakili oleh M. F. Nokrasyi.

Terganjal di Irak dan Yordania

Delegasi Indonesia kemudian melanjutkan perjalanan ke Republik Suriah dan berhasil mencapai sebuah kesepakatan. Pada tanggal 2 Juli 1947, Republik Suriah yang diwakili oleh Jamil Mardam Bey menandatangani perjanjian persahabatan.

Dengan begitu, Indonesia sudah mendapat pengakuan de jure dari Mesir dan Republik Suriah. Perjanjian ini diratifikasi oleh Komite Kerja Pusat Parlemen Sementara RI dan disiarkan dalam Lembaran Negara tahun 1948.

Meskipun begitu, perjalanan itu tidak sepenuhnya berhasil. Misalnya saja, perjalanan Haji Agus Salim ke Yordania dan Irak belum mendapatkan hasil. Namun, upaya diplomasi Haji Agus Salim ke Libanon dan Saudi Arabia mendapatkan hasil yang diharapkan. Yakni pengakuan de jure atas Republik Indonesia.

Perjanjian dengan negara Saudi Arabia baru ditandatangani pada 21 November 1947. Setelahnya, Indonesia mendapatkan pengakuan kedaulatan dari Kerajaan Yaman dan Afganistan.

Dengan demikian, misi Haji Agus Salim sampai pertengahan Desember 1949 berhasil mendapatkan pengakuan de jure dari negara-negara Islam. Sementara, India dan Pakistan hanya mengakui secara de facto saja.

Reporter Magang: Muhammad Rigan Agus Setiawan

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP