Kisah Lucu Polisi Zaman Dulu: Ditendang Pilot Amerika Hingga Tiru Pidato Hatta

Sabtu, 2 Juli 2022 06:06 Reporter : Merdeka
Kisah Lucu Polisi Zaman Dulu: Ditendang Pilot Amerika Hingga Tiru Pidato Hatta Ilustrasi Polisi. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Sejak revolusi bergulir di republik ini, para petugas polisi sudah menyumbangkan peran yang besar. Inilah sebagian ceritanya.

Penulis: Hendi Jo

Melalui Penetapan Pemerintah No. 11 Tahun 1946 , sejak 1 Juli 1946 Djawatan Kepolisian Negara (DKN) secara resmi berada di bawah tanggungjawab perdana Menteri. Selanjutnya, setiap waktu tersebut, dijadikan sebagai hari ulang tahun bhayangkara, sebutan khas Indonesia untuk para petugas kepolisian.

Dua tahun setelah diresmikan, terjadilah Insiden Madiun pada September 1948. Akibatnya, hubungan antara Madiun dengan kota-kota lain (termasuk ibu kota Yogyakarta dan Blitar) terputus. Sementara itu di kota itu praktek penculikan dan pembunuhan oleh kaum komunis terhadap para pejabat Republik Indonesia (RI) semakin marak terjadi.

2 dari 4 halaman

Penerjun Payung Amatir

Untuk melancarkan koordinasi antar kekuatan pro pemerintah, DKN pusat di Yogyakarta menugaskan Komisaris Polisi Soeprapto untuk menyampaikan surat perintah kepada M. Jasin, komandan Mobil Brigade Besar (MBB) Jawa Timur yang sedang ada di Blitar.

Penyampaian surat perintah itu rencananya akan dilakukan lewat penerjunan Soeprapto dan dua perwira TNI (salah satunya adalah Mayor Islam Salim, salah satu putra Haji Agus Salim) di Alun-Alun Blitar.

"Di Maguwo, mereka mendapat petunjuk (kilat) melakukan penerjunan dengan parasut tanpa latihan terlebih dahulu," demikian menurut buku Brimob: Dulu,Kini dan Esok (disusun oleh Atim Supomo dkk).

Penerjunan itu sendiri terpaksa dilakukan karena di Blitar tidak ada bandar udara yang memungkinkan sebuah pesawat mendarat secara mulus.

3 dari 4 halaman

Ditendang Pilot AS

Singkat cerita, berangkatlah mereka dengan sebuah pesawat kecil yang diawaki seorang pilot berkebangsaan Amerika Serikat (AS) dan seorang kopilot berkebangsaan Indonesia. Di tengah situasi menegangkan, pesawat tersebut melayang-layang di atas Blitar untuk menerjunkan tiga perwira tersebut. Namun karena rasa ngeri (karena belum pernah melakukan terjun payung sebelumnya, para perwira itu tak satu pun yang berani melompat ke luar pesawat.

Pilot masih bersabar dan mau memutar kembali pesawat menuju kota Blitar. Namun begitu sampai di atas Alun-Alun, lagi-lagi mereka tak memiliki nyali. Tak ada cara lain, sang pilot kemudian menyerahkan kendali pesawat kepada kopilot. Dia sendiri bergerak ke bagian kabin dan memberikan motivasi agar ketiga perwira itu berani melompat ke luar pesawat.

"Ketika kopilot memberikan isyarat untuk terjun, pilot AS itu langsung menendang Soeprapto dan kedua perwira lainnya secara bergilir," tertulis dalam buku Brimob: Dulu,Kini dan Esok.

Soeprapto dan Islam Salim bisa mendarat dengan selamat di Alun-Alun Blitar. Namun seorang perwira lainnya jatuh agak jauh dari Alun-Alun. Saat mendarat di atap rumah penduduk, orang-orang langsung mengepungnya karena dikira mata-mata musuh.

Untungnya sebuah regu MBB bisa mengevakuasinya. Surat perintah pun berhasil diberikan kepada Jasin dan sang komandan MBB itu lantas bisa bergerak ke Madiun untuk melakukan aksi penumpasan.

4 dari 4 halaman

Kepergok Tiru Pidato Bung Hatta

Lain pengalaman Kompol Soeprapto lain juga pengalaman Moh. Enoh, seorang bhayangkara yang bertugas mengawal Wakil Presiden Mohammad Hatta. Suatu hari, Enoh tiba di Kantor Wakil Presiden, Jakarta. Dia baru saja pulang dari daerah mengawal Wakil Presiden keliling Jawa Barat selama dua minggu. Demikian dikisahkan oleh H. Mangil Martowidjojo dalam Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967.

Bukannya disuruh istirahat, saat tiba Enoh malah mendapat perintah untuk menggilir penjagaan di depan Kantor Wakil Presiden. Sambil bersungut, dia menjalankan perintah itu. Entah begitu kesalnya, begitu sampai di pos penjagaan, Enoh tiba-tiba menirukan gaya Bung Hatta saat berpidato.

"Saudara-Saudara, 15 tahun yang lalu bangsa Indonesia seperti itik yang mati kehausan di kolam dan seperti ayam yang mati kelaparan di dalam lumbung!" teriaknya di depan seorang kawannya.

Usai berpidato, Enoh mengomentari sendiri pidato Hatta yang baru saja dia teriakan itu. Dia bilang: kalau kolamnya kering si itik ya akan mati kehausan dan kalau lumbungnya kosong ya pastinya sang ayam akan mati kelaparan. Belum gerundelan-nya selesai, tak dinyana, tiba-tiba Bung Hatta keluar dari ruangan dekat pos penjagaan dan langsung masuk ke dalam kantornya.

Tentu saja, Enoh kaget bukan kepalang. Dia langsung menyumpahi kawannya yang “tega” tidak memberitahu jika Bung Hatta masih ada di dekat mereka saat itu. Disumpahi demikian, kawan Enoh malah terlihat senang.

"Rasain lu!" katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini