Kisah Bung Karno dan Jalak Bali dalam Celana
Merdeka.com - Karena rasa sayangnya kepada binatang, Sukarno pernah melepaskan begitu saja burung-burung yang dibeli secara pribadi atau dihadiahkan kepadanya.
Penulis: Hendi Jo
Ketika ditugaskan di Istana Tampaksiring, Bali, Letnan Satu C.H. Srijono kerap melihat burung-jalak Bali yang bulunya indah diperjualbelikan di pasar dengan bebasnya. Sebagai penggemar burung, tentu saja Srijono menyimpan rencana ingin membeli bintang-binatang bersayap itu untuk dipelihara dalam sangkar. Namun dia mafhum jika majikannya (Presiden Sukarno) lebih menyukai burung-burung itu terbang bebas di awan.
"Masalah itu bagi Bung Karno tak bisa dikompromikan lagi. Siapapun yang memasung kebebasan burung, jika dia tahu, pasti akan dia suruh melepaskannya," ungkap eks anggota Detasemen Pengamanan Chusus (DPC) Tjakrabirawa dari Corps Polisi Militer (CPM) tersebut.
Tapi obsesi memiliki jalak Bali tetatp hidup di benak Srijono. Suatu hari saat ditugaskan ke luar istana, dia mencuri kesempatan itu untuk membeli jalak Bali di pasar burung. Supaya tidak ketahuan oleh majikannya, Srojono lantas memasukan jalak Bali itu ke salah satu kantong celananya.
Jalak Bali dalam Celana
Singkat cerita pulanglah Srijono ke istana. Yang dikhawatirkannya kemudian terjadi: dia bertemu Bung Karno di depan halaman istana. Srijono menjadi gugup. Sambil memberi sikap salut kepada Bung Karno, tangan kirinya berupaya "mengamankan" Si Jalak Bali. Gerakan itu tertangkap oleh mata Si Bung Besar.
"Itu apa yang ada dalam saku celana kamu? Kok gerak-gerak?" tanya presiden."Siap! Burung, Pak!""Lepaskan!""Siap!"
Dengan cepat, Srijono merogoh kantong celananya, mengeluarkan Si Jalak Bali yang baru beberapa jam dia beli itu dan melepasnya segera. Sang jalak bali pun terbang tinggi, meninggalkan pembelinya yang sdiam-diam merasa gondok luar biasa.
Sukarno memang seorang penyayang binatang, terutama burung. Dia paling tidak suka melihat burung terkurung dalam sangkar. Soal ini diketahui kalangan terdekatnya saja. Karena itu banyak orang menyangka Sukarno, sebagai keturunan Jawa, tidak lepas dari hobi memelihara burung.
Sukarno Tak Tega Lihat Burung dalam Sangkar
Suatu hari datanglah dua lelaki Maluku ke Istana Negara. Mereka ayah dan anak. Kepada para pengawal presiden, mereka mengatakan ingin mempersembahkan seekor burung nuri raja yang sangat indah kepada presiden. Bagaimana respon Sukarno? Bambang Widjarnako, salah satu ajudan Sukarno, mengisahkannya dalam Sewindu Dekat Bung Karno.
Sukarno tidak serta merta menolak hadiah itu. Seperti biasa dia menyambut tamunya dengan ramah: menanyakan keluarga, perjalanan, dan kondisi daerah asal mereka. Diajaknya pula tamunya menikmati minum teh dan kue-kue. Setelah banyak bercerita, barulah Sukarno menanyakan soal burung nuri raja yang dibawa tamunya.
"Jadi Bapak mau menghadiahkan burung ini kepada saya? Jika ya, saya boleh berbuat apa saja terhadap burung ini, bukan?" ujar Sukarno."Ya Pak, tentu saja. Terserah Bapak mau diapakan burung ini," jawab salah seorang dari tamu itu."Nah kalau begitu, ikutlah saya," ujar Sukarno sambil menuruni tangga Istana dan berdiri di pinggir taman.
Sambil menoleh kepada Si Bapak, dia lantas memerintahkan seorang pengawalnya untuk melepaskan burung yang indah itu ke alam bebas. Menyaksikan pemandangan tersebut, kedua tamu dari Maluku itu hanya bisa melongo.
"Pak, burung ini akan jauh lebih senang bila ia lepas bebas dapat terbang ke mana pun . Biarkan ia merdeka, seperti kita pun ingin merdeka selama-lamanya," kata Sukarno.
Bung Karno bukannya tidak pernah mencoba untuk memelihara burung. Ketika diasingkan pemerintah Hindia Belanda ke Bengkulu, dia malah pernah memelihara 50 ekor burung gelatik dan sepasang burung cucakrawa. Burung-burung itu kemudian dia tempatkan dalam sebuah sangkar yang sangat besar.
Tak ayal, percobaan untuk menghibur diri sendiri itu malah membuat Sukarno merasa berdosa. Tanpa pikir panjang, dia lantas melepaskan semua burung-burung yang tadinya dia harap bisa menghibur hatinya di tanah pembuangan.
"Aku tak tega melihat sesuatu dikurung dalam sangkar..." ujar Sukarno seperti dikisahkan oleh Guntur Sukarnoputra dalam Wartawan Bertanya, Guntur Sukarno Menjawab.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya