Detik-Detik Terpilihnya Soedirman Sebagai Panglima TKR & Kegagalan Oerip Soemohardjo

Rabu, 5 Oktober 2022 12:38 Reporter : Merdeka
Detik-Detik Terpilihnya Soedirman Sebagai Panglima TKR & Kegagalan Oerip Soemohardjo Panglima Besar Soedirman bersama Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo saat di Jakarta. IPPHOS©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Karena ada masukan dari enam divisi yang mewakili Komandemen Sumatera, suara Soedirman pun mengungguli suara Oerip Soemohardjo.

Penulis: Hendi Jo

Begitu menjadi pemimpin rapat pemilihan panglima besar TKR, Kolonel Hollan Iskandar pun langsung mengadakan pemunggutan suara. Delapan kandidat bermunculan di papan tulis. Mereka adalah Sri Sultan Hamenkubuwono IX, Widjoyo Soeryokusumo, GPH Purbonegoro, Oerip Soemohardjo, Soedirman, Suryadarma, Pardi dan Nazir.

Uniknya, pemunggutan suara berlangsung secara bebas dan terbuka. Para peserta hanya mengangkat dan mengacungkan tangan satu persatu untuk memilih calonnya. Lewat cara tersebut, sesi pemilihan berlangsung sampai tiga kali.

Sesi pertama dua orang kandidat gugur. Berikutnya, dua orang kandidat gugur lagi. Barulah pada pemilihan yang ketiga, Soedirman unggul dengan 22 suara mengatasi perolehan Oerip yang hanya 21 suara.

Kemenangan Soedirman tidak lepas dari peran Kolonel Muhamad Nuh yang menyumbangkan enam suara. Saat diwawancarai oleh Noor Johan Nuh (yang tak lain adalah putra dari Muhamad Nuh), Nasution membenarkan bahwa suara wakil dari TKR Sumatera itu secara signifikan adalah penentu gagalnya Oerip menjadi Panglima Besar TKR.

"Kolonel Muhammad Nuh hadir membawa surat dari Koordinator/ Organisator Tentara di Sumatera Dr. A.K. Gani yang menetapkan dirinya sebagai Kepala Staf Komandemen Sumatera," ungkap Noor Johan.

Lantas bagaimana ceritanya Muhamad Nuh bisa memberikan enam suara untuk Soedirman?

2 dari 3 halaman

Peran Holan Iskandar

Sebagai satu-satunya wakil TKR Sumatera pada rapat itu, sejak kali pertama Muhamad Nuh merasa berhak menyumbangkan enam suara. Itu diyakini Nuh karena kapasitasnya selaku wakil dari Komandemen Sumatera yang membawahi enam divisi. Namun karena dalam kenyataannya divisi yang dimaksud belumlah terbentuk, pendirian Nuh ditentang oleh beberapa Panglima Divisi dan Komandan Resimen yang berasal dari Jawa.

"Mereka menghendaki Kolonel Muhammad Nuh pun sepatutnya hanya punya satu suara," ungkap Noor Johan.

Di sinilah peran Holan Iskandar bermain. Selaku pimpinan rapat, Holan meluluskan keinginan Muhammad Nuh dengan mengacu pada kawat/telegram dari Presiden Sukarno mengenai pengangkatan Dr. A.K. Gani sebagai Koordinator/Organisator Tentara di Sumatera.

Kawat Presiden itulah yang menurunkan keputusan penetapan Jenderal Mayor Suhardjo sebagai Panglima Komandemen Sumatera dan Kolonel Muhammad Nuh sebagai Kepala Staf Komandemen Sumatera.

"Pada akhirnya, argumen yang diutarakan Kolonel Muhammad Nuh dapat diterima oleh peserta konferensi," tulis Noor Johan.

Konfrensi ala koboy itu berakhir dengan disepakatinya Soedirman selaku Panglima Besar TKR, sedangkan Oerip Soemohardjo tetap duduk sebagai Kepala Staf Umum TKR. Menurut sejarawan Moehkardi, terpilihnya Soedirman tidak terlepas dari nama harumnya saat bersama pasukannya berhasil menghalau Inggris di Ambarawa dan Magelang beberapa bulan sebelum momen pemilihan Panglima Besar TKR itu berlangsung.

"Itu harus diakui, sedang nama Pak Oerip saat itu hanya populer di kalangan anggota TKR eks KNIL saja," ungkap mantan dosen sejarah di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) tersebut.

3 dari 3 halaman

Oerip Legowo

Walaupun dihasilkan dari suatu 'rapat koboy-koboyan', sang Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo secara legowo menerima keputusan tersebut. Tanpa merasa dirinya seorang senior,dia lantas langsung memberi selamat kepada Soedirman dan berjanji akan setia sehidup semati pada semua keputusan yang akan dikeluarkan oleh atasan barunya tersebut.

Sebaliknya, Soedirman sendiri yang menyadari 'kejuniorannya' dibanding Oerip, meminta mantan perwira KNIL itu untuk bersedia membantu tugas-tugasnya sebagai seorang panglima besar.

"Mas Oerip itu dikenal sebagai seorang yang rendah hati dan kesediaannya untuk berkorban bagi nusa dan bangsa begitu besar sehingga sering kali ia menyingkirkan perasaan-perasaan pribadi," kata Rohmah Soemohardjo Soebroto, istri dari sang jenderal.

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini