Mwenyezi, (36) memainkan gitar dengan dua orang anak di dekatnya di Camp Kagorwa Pygmy di Pulau Idjwi, Republik Demokratik Kongo, 25 November 2016.
Kongo
Mwenyezi, (36) memainkan gitar dengan dua orang anak di dekatnya di Camp Kagorwa Pygmy di Pulau Idjwi, Republik Demokratik Kongo, 25 November 2016.
Habimana, seorang wanita 45 tahun, berdiri sendirian di depan rumahnya, di Camp Kagorwa Pygmy di pulau Idjwi, Republik Demokratik Kongo, 25 November 2016. Ibu dari empat anak itu tinggal sendirian sejak suaminya meninggal karena penyakit malaria pada 2014.
Seorang wanita Suku Pygmy (20) memegang 'Pendo', sebuah alat musik yang terbuat dari kotak logam yang berisi kerikil, untuk menenangkan anaknya yang menangis di pelukannya di Camp Kagorwa Pygmy di Pulau Idjwi, Republik Demokratik Kongo, 22 November 2016.
Kavuha, seorang kakek berusia 73 tahun sibuk memperbaiki wadah di Camp Kagorwa Pygmy di Pulau Idjwi, Republik Demokratik Kongo, 22 November 2016.
Seorang wanita membuat pot tanah liat di Camp Kagorwa Pygmy di Pulau Idjwi, Republik Demokratik Kongo, 23 November 2016.
Mwenyezi, seorang ibu (36), memangku anaknya yang tengah menderita demam, di Camp Kagorwa Pygmy di Pulau Idjwi, Republik Demokratik Kongo, 24 November 2016.
Suasana penduduk suku pedalaman Pygmy bernyanyi dan menari saat bersuka cita di Camp Kagorwa Pygmy di Pulau Idjwi, Republik Demokratik Kongo, 18 Mei 2016.
Seorang wanita Suku Pygmy berdiri saat menjual sebuah tungku di Desa Bahavu di Pulau Idjwi, Republik Demokratik Kongo, 23 November 2016.
Anak-anak Suku Pygmy memegang jarum suntik bekas yang mereka ditemukan di dekat Camp Kagorwa Pygmy di Pulau Idjwi, Republik Demokratik Kongo, 22 November 2016.
Seorang anak bermain sepak bola di Camp Kagorwa Pygmy di Pulau Idjwi, Republik Demokratik Kongo, 22 November 2016.
Seorang pria memperbaiki jaring ikan di Camp Kagorwa Pygmy di Pulau Idjwi, Republik Demokratik Kongo, 25 November 2016.
Penduduk pedalaman Pygmy berkumpul duduk melingkar di sekitar api unggun di Camp Kagorwa Pygmy di Pulau Idjwi, Republik Demokratik Kongo, 23 November 2016.
Penyebaran Ebola di Republik Demokratik Kongo terus meluas ke wilayah baru dan meningkatkan kekhawatiran terhadap skala wabah yang semakin besar.
Baca Selengkapnya
Peningkatan kasus Ebola di Republik Demokratik Kongo mendorong sosialisasi pencegahan kepada masyarakat semakin diperluas.
Baca Selengkapnya
Pemerintah berbagai negara meningkatkan kewaspadaan setelah WHO menetapkan status darurat global terkait wabah Ebola di Kongo.
Baca Selengkapnya
WHO menyebut wabah Ebola di Kongo dan Uganda berisiko menyebar ke negara tetangga.
Baca SelengkapnyaSimak bagaimana Timnas Sudan dan Senegal berhasil melaju ke babak perempat final Kejuaraan Afrika 2025, bahkan setelah bermain imbang di laga terakhir Grup D yang penuh kejutan.
Baca Selengkapnya
Berikut sisi kehidupan warga Kongo mirip Indonesia era 80-an yang diungkap oleh prajurit TNI.
Baca Selengkapnya
Berikut momen prajurit TNI kepo warga Kongo Afrika selalu santai tak pakai payung dan jas hujan saat hujan.
Baca Selengkapnya
Lebih dari 50 orang tewas akibat penyakit misterius di Kongo yang diduga berasal dari konsumsi kelelawar, dengan penyelidikan masih berlangsung.
Baca Selengkapnya
Pemberontak M23 merebut Bukavu di Kongo, memicu krisis kemanusiaan dan menambah ketegangan dengan Rwanda.
Baca Selengkapnya
Penyakit ini terutama menyerang anak-anak di bawah 14 tahun dengan pasien berusia 5 tahun paling banyak.
Baca Selengkapnya
Berdasarkan laporan otoritas setempat, penyakit yang tidak diketahui telah menewaskan 143 orang di wilayah tersebut pada bulan November 2024.
Baca Selengkapnya
Misi ini guna menyelidiki penyakit misterius yang belum terdiagnosis terkait dengan banyak kematian di daerah terpencil di negara tersebut.
Baca Selengkapnya