Wikileaks: Hillary Clinton sebut Saudi dan Qatar danai ISIS

Rabu, 12 Oktober 2016 07:11 Reporter : Pandasurya Wijaya
Wikileaks: Hillary Clinton sebut Saudi dan Qatar danai ISIS Debat Hillary Clinton dan Donald Trump. ©REUTERS/Brian Snyder

Merdeka.com - Situs pembocor dokumen rahasia Wikileaks kembali merilis dokumen surat elektronik (surel) yang diduga memuat perbincangan antara Hillary Clinton, calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, dan Ketua Tim Kampanyenya John Podesta.

Sebanyak 2.000 surel yang dipublikasikan dua hari lalu itu adalah gelombang kedua selama empat hari belakangan yang dibocorkan oleh Julian Assange, pendiri Wikileaks. Dia sebelumnya sudah menyatakan akan membocorkan 50 ribu surel Podesta yang akan memperlihatkan seperti apa sebenarnya sosok Hillary Clinton.

Surat kabar the Independent, Selasa (11/10), pada percakapan Agustus 2014 Clinton membeberkan delapan poin strategi untuk mengalahkan kelompok militan ISIS kepada Podesta yang saat itu menjadi penasihat Presiden Barack Obama.

Pada akhirnya pemerintahan Obama mengambil tindakan yang sama seperti yang disarankan Clinton.

Dalam surel itu Clinton menyebut Arab Saudi dan Qatar sebagai negara yang diam-diam mendanai dan memasok logistik kepada ISIS meski selama ini AS dan sejumlah negara Sunni di Teluk mengatakan berkoalisi untuk menumpas ISIS.

"Di saat operasi militer menunjukkan kemajuan, kita perlu menggunakan aset intelijen dan diplomatik untuk menekan pemerintah Qatar dan Arab Saudi yang selama ini secara diam-diam mendanai dan memberikan dukungan logistik kepada ISIS dan kelompok radikal Sunni lain di Timur Tengah," tulis Clinton ketika itu.

Pemerintah Saudi dan Qatar selama ini selalu menyangkal mendanai ISIS, meski kelompok militan dan kedua negara itu sama-sama musuh rezim Basyar al-Assad di Suriah. Perwakilan kedutaan kedua negara itu di London belum berkomentar ketika dimintai keterangan.

Sejumlah kalangan beranggapan dibocorkannya surel Podesta ini masih satu rangkaian dengan bocornya surel pada Konvensi Nasional Demokrat. Mereka juga mencurigai pemerintah Rusia terlibat menggunakan Wikileaks untuk mengganggu pemilu presiden Amerika bulan depan.

[pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini