Trump Ingin Temui Pembocor Rahasia Percakapannya dengan Presiden Ukraina

Senin, 30 September 2019 20:02 Reporter : Merdeka
Trump Ingin Temui Pembocor Rahasia Percakapannya dengan Presiden Ukraina Donald Trump. ©2019 REUTERS

Merdeka.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemarin mengatakan dia berhak bertemu dengan pembocor rahasia yang membeberkan isi pembicaraan telepon dirinya dengan Presiden Ukraina hingga membuat dia terancam dimakzulkan.

Hal ini dikatakannya melalui cuitan pada laman Twitternya, "Seperti setiap orang Amerika, saya layak untuk bertemu dengan penuduh saya, terutama ketika penuduh ini, yang disebut pembocor rahasia, mewakili percakapan yang sempurna dengan pemimpin asing dengan cara yang benar-benar tidak akurat dan curang," tulis Trump, seperti dilansir laman CNN, Senin (30/9).

"Kebohongannya dibuat dengan cara paling menyeramkan dan dibuat-buat yang pernah ada di Parlemen. Dia menuliskan dan membaca hal-hal yang mengerikan, dan lalu mengatakan semua itu berasal dari mulut Presiden AS. Aku ingin Schiff ditanyai serius untuk kasus Penipuan dan Pengkhianatan," kata Trump.

Pengacara si pembocor rahasia tersebut mengirimkan sebuah surat kepada pejabat Direktur Intelejen Nasional Joseph Maguire pada Sabtu lalu yang menguraikan masalah keamanan "serius" untuk klien mereka ketika Trump terus menerus membidik orang tersebut.

"Tujuan surat ini adalah untuk memberi tahu Anda secara resmi tentang kekhawatiran serius kami tentang keselamatan pribadi klien kami," kata surat pengacara.

Trump juga menyangkal telah melakukan kesalahan. Transkrip pembicaraan yang dirilis Gedung Putih menunjukkan Trump berulang kali mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk menyelidiki mantan Wakil Presiden Joe Biden, yang merupakan saingan politik pada pemilu 2020 dan putranya, Hunter Biden.

Namun, sampai saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan Joe atau Hunter melakukan kesalahan.

Bahkan sebelum pengaduan pelapor diajukan kepada anggota parlemen, Ketua DPR Nancy Pelosi menyatakan Trump telah mengkhianati sumpah jabatannya dan mengumumkan pekan lalu bahwa ia membuka penyelidikan pemakzulan formal kepada Presiden.

Trump kemarin juga berjanji akan ada 'konsekuensi besar' bagi siapa saja yang membantu memberikan informasi tentang orang tersebut.

"Saya ingin bertemu tidak hanya dengan penuduh saya, yang memberikan INFORMASI dari TANGAN KEDUA & KETIGA, tetapi juga orang yang secara illegal memberikan informasi ini, yang sebagian besar tidak benar, kepada si pembocor rahasia," katanya.

"Apakah orang ini MATA-MATA untuk Presiden AS? Konsekuensi Besar!"

Trump pekan lalu mengatakan siapapun yang memberikan informasi tentang percakapan teleponnya dengan Zelensky adalah “orang yang dekat dengan mata-mata,” dan mengatakan bahwa di masa lalu mata-mata ditangani dengan cara berbeda.

Komentar itu mendorong tiga ketua DPR, termasuk Schiff, menyerukan agar Trump berhenti menyerang si pembocor rahasia.

"Komentar Presiden hari ini merupakan intimidasi saksi berupaya menghalangi penyelidikan pemakzulan Kongres. Kami mengutuk serangan Presiden, dan kami mengundang rekan-rekan Republik kami untuk melakukan hal yang sama karena Kongres harus melakukan semua yang dapat dilakukan untuk melindungi pembocor rahasia ini, dan semua pembocor rahasia," kata ketua DPR AS.

"Ancaman kekerasan dari pemimpin negara kita memiliki efek mengerikan pada seluruh proses pembocor rahasia, dengan konsekuensi besar bagi demokrasi dan keamanan nasional kita."

Reporter magang: Ellen Riveren [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini