Selain Perdamaian, Apa yang Diincar Jokowi Saat Pergi ke Ukraina dan Rusia?

Rabu, 29 Juni 2022 13:07 Reporter : Pandasurya Wijaya
Selain Perdamaian, Apa yang Diincar Jokowi Saat Pergi ke Ukraina dan Rusia? Jokowi Naik Kereta di Ukraina. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dijadwalkan tiba di Kiev untuk bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy hari ini dan besoknya menuju Rusia guna bersua dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Jokowi sebelumnya menghadiri KTT G7 di Munich, Jerman, kemudian terbang ke Polandia dan berangkat ke Ukraina menggunakan kereta api dari peron 4 Stasiun Przemysl Glowny di kota Przemysl, Polandia, pukul 21.15 waktu setempat tadi malam.

Lawatan Jokowi kali ini menjadikannya pemimpin Asia pertama yang akan bertatap muka langsung dengan Putin dan Zelenskyy sejak perang meletus di Ukraina pada 24 Februari lalu.

"Perang memang harus dihentikan dan juga yang berkaitan dengan rantai pasok pangan harus diaktifkan kembali," ujar Jokowi sebelum meninggalkan Jakarta, Minggu (26/6).

Banyak kalangan menyangsikan apakah Jokowi akan berhasil mendamaikan Rusia dan Ukraina.

Presiden Jokowi akan tiba di Moskow Kamis besok.

Apa kepentingan strategis Rusia bagi Indonesia?

Indonesia menjalin hubungan erat dengan Rusia sejak masa Uni Soviet yang mendukung kemerdekaan Indonesia dari Belanda pada 1945.

"Presiden pertama Sukarno punya hubungan dekat dengan Uni Soviet pada masa kemerdekaan dan itu artinya Indonesia kini punya hubungan moral dengan Rusia," kata Kosman Samosir, dosen hubungan internasional di Universitas Katolik Santo Thomas, Medan, kepada This Week in Asia yang dilansir South China Morning Post, Rabu (29/6).

"Jokowi berharap membantu Rusia dan Ukraina mencapai perdamaian sebagai bagian dari hubungan moral itu," kata dia.

Rusia juga menjadi pemasok persenjataan militer Indonesia dan RI pun membeli kendaraan dan pesawat tempur dari Negeri Beruang Merah. Meski saat ini hubungan bisnis itu "relatif stagnan" karena Indonesia lebih fokus kepada Amerika Serikat sebagai pemasok persenjataan, kata Gilang Kembara, peneliti CSIS.

"Tapi masih ada nostalgia sejarah bagi Indonesia terhadap Rusia. Dalam semangat itulah Jokowi ingin membantu," kata Gilang.

2 dari 2 halaman
selain perdamaian, apa yang diincar jokowi saat pergi ke ukraina dan rusia?

Pemerintah Indonesia juga mengatakan presiden akan membahas masalah ekspor dari Rusia dan Ukraina dalam kunjungannya bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang mengatakan "penting untuk mengamankan koridor ekspor gandum dari Ukraina dan membuka ekspor makanan dan pupuk dari Rusia."

Menurut Kembara, Jokowi bisa lebih fokus pada isu ini ketimbang menjadi juru damai di kawasan yang tidak dia kenal baik.

"Jokowi itu pragmatis dan dia akan lebih memilih yang lebih mudah. Dia bukan idealis. Akan sulit bagi Jokowi untuk menjadi "agen perdamaian" di saat dia kurang memahami konteks sejarah di wilayah itu, meski tentu akan jadi keberhasilan besar jika dia bisa mendamaikan," kata Gilang.

Di mana posisi Indonesia dalam perang di Ukraina?

Indonesia adalah salah satu pendiri Gerakan Non-Blok (GNB) pada 1961 bersama Mesir dan India. Gerakan Non-Blok adalah forum 120 negara yang secara resmi tidak memihak blok barat atau blok timur di masa Perang Dingin.

Perang Dingin sudah usai tapi Indonesia masih memegang teguh prinsip GNB dengan pendekatan Bebas Aktif dalam kebijakan luar negeri.

Bebas artinya independen dan netral, tidak memihak kekuatan mana pun seraya 'aktif' berperan dalam isu internasional, termasuk kunjungan Jokowi ke Kiev dan Moskow.

"Dia akan berkunjung dengan perspektif perdamaian dunia dan dia harus berperan sekaligus bersikap netral," kata Samosir.

"Jokowi juga akan memainkan perannya sebagai pemimpin presidensi G20 untuk memastikan G20 berjalan sukses dan juga memberi dia kesempatan untuk mendekati Rusia dari sudut pandang itu."

Indonesia saat ini memegang kepemimpinan acara tahunan G20--kumpulan 19 negara dan Uni Eropa yang akan menggelar KTT di Bali pada November nanti guna membahas ekonomi.

Sejumlah negara seperti AS mengancam akan memboikot jika Putin dan delegasi dari Moskow hadir meski Jokowi sudah mengatakan baik Putin dan Zelenskyy diundang ke acara itu. Zelenskyy rencana hadir via virtual.

Senin lalu juru bicara Kremlin membenarkan Rusia sudah menerima undangan resmi dari Indonesia untuk menghadiri acara itu.

Apa yang akan diharapkan Putin dari Jokowi?

Vladimir Putin tampaknya akan mencoba meyakinkan Jokowi bahwa invasi Rusia ke Ukraina sudah tepat, kata Yohanes Sulaiman, dosen hubungan internasional di Universitas Jenderal Achmad Yani, Bandung.

"Di saat Barat bisa dibilang kompak melawan Rusia, Putin ingin negara lain, seperti Indonesia, untuk tidak ikut-ikutan dengan Barat, bahkan mungkin dia berharap Indonesia mau gabung dengan aliansi anti-Barat Rusia yang bernama 'G-8'."

G-8 dibentuk oleh Rusia sebagai reaksi atas "putusnya hubungan ekonomi" dengan AS.

Anggota G-8 dikatakan negara-negara yang sejauh ini tidak menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Rusia seperti China, India, Rusia, Indonesia, Brasil, Meksiko, Iran, dan Turkiye.

Tapi, kata Yohanes, kecil kemungkinan negara-negara itu mau menerima masuk G-8.

"Meski Jokowi tidak akan bergabung dengan G-8, fakta bahwa dia mengunjungi Moskow berarti Putin tidak begitu terisolasi. Negara dunia ketiga yang besar seperti India dan Indonesia masih mau bekerja sama dengan dia." [pan]

Baca juga:
Momen Presiden Jokowi dan Iriana Naik Kereta Menuju Ukraina
Penampakan 'Kereta Luar Biasa' Bawa Jokowi ke Ukraina, Biasa Dipakai Pemimpin Negara
Bawa Misi Perdamaian ke Ukraina, Jokowi: Semoga Dimudahkan
Potret Jokowi dan Iriana Berangkat ke Ukraina dengan Kereta Luar Biasa
Momen Akrab Jokowi Dirangkul Joe Biden di KTT G7
Momen Jokowi Dicolek dan Jadi Sorotan Pemimpin Dunia saat KTT G7
Ke Luar Negeri, Jokowi Tugaskan Ma'ruf Amin Jadi Plt Presiden

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini