Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sejarah Kentut Sudah Ada Sejak Hampir 4000 Tahun Lalu, Ini Kisahnya

Sejarah Kentut Sudah Ada Sejak Hampir 4000 Tahun Lalu, Ini Kisahnya Ilustrasi kentut. ©2015 Merdeka.com/www.inquisitr.com

Merdeka.com - Buang angin atau kentut merupakan aktivitas rutin tubuh kita, sama seperti bernapas atau makan. Tapi ini jarang dibahas.

Dalam hampir semua budaya di dunia, kentut dianggap tidak mengenakkan, bahkan menjijikkan.

Ada lelucon tertua di dunia soal kentut. Lelucon ini berasal dari Mesopotamia, pada tahun 1900 SM. Kentut dianggap larangan yang menghibur bagi orang zaman kuno, sama seperti kita saat ini, di mana kentut kerap dijadikan bahan tertawaan.

Buang angin atau flatulence dalam bahasa Inggris, berasal dari kata bahasa Latin "flatus" yang artinya buang angin, dikutip dari laman The Wire, Rabu (15/3).

“Sesuatu yang tidak pernah terjadi sejak dahulu kala; seorang wanita muda tidak kentut di pangkuan suaminya,” bunyi lelucon bangsa Sumeria itu.

Sejak zaman kuno ribuan tahun lalu, kentut dianggap hal tabu, khususnya bagi perempuan.

Namun hal tersebut tidak berlaku bagi suku Yanomami di Brasil utara dan Venezuela selatan, di mana kentut merupakan bentuk sambutan.

Kentut dalam literatur

Selama berabad-abad, kentut telah dibahas dalam literatur Eropa dan Inggris. Inferno karya Dante menyebut seorang iblis "menggunakan pantatnya sebagai terompet".

Dalam The Canterbury Tales, Chaucer menggambarkan Nicholas (salah satu karakter utama dalam The Miller's Tale) "membuang angin, sekencang bunyi geledek" melalui jendela yang diarahkan langsung ke wajah musuhnya Absalom.

Pada 1722, satiris Jonathan Swift menerbitkan The Benefit of Farting. Lalu 70 tahun kemudian, Benjamin Frankin, salah satu pendiri Amerika, menerbitkan esai berjudul Fart Proudly, di mana dia menyarankan perlu dilakukan penelitian bagaimana memperbaiki wangi kentut manusia.

Pada 1800, anggota parlemen Inggris, Charles James Fox menerbitkan 50 eksemplar Essay on Wind yang ditulis di atas perkamen berbahan kulit sapi. Dalam penutup tulisannya, Fox menyatakan: "Kentutlah, saudara-saudaraku, dan biarlah kentut itu hal biasa di antara kalian. Saling bersaing dalam menghasilkan kentut nomor 1, atau Kentut yang nyaring, kencang, dan keras. Kentut keras, kataku, dan jangan pernah lagi dibatasi oleh contoh usia, pangkat, atau jenis kelamin."

JD Salinger dalam Catcher in the Rye juga menulis adegan seorang siswa yang kentut di dalam kapel.

Pada abad ke-20, kentut juga masih menjadi bagian dari literatur. Kurt Vonnegut menulis: "Kita semua di sini di bumi untuk kentut, dan jangan biarkan siapapun mengatakan hal yang berbeda".

Manfaat kentut

Badan Kesehatan Nasional Inggris menemukan, rata-rata orang kentut 14 sampai 20 kali setiap hari. Badan ini juga menegaskan bahwa kentut merupakan cara tubuh manusia memamerkan kesehatan tubuhnya secara umum.

Menurut aktris dan pembaca acara televisi asal India, Pooja Bedi, kentut di depan pasangan adalah "tonggak pencapaian suatu hubungan yang sesungguhnya".

Dalam artikelnya di Times of India pada pertengahan 2018, Pooja menyatakan "ciuman dan bercinta (bagi pasangan) berdasarkan saling ketertarikan dan itu indah dan menyenangkan. Sedangkan kentut, melibatkan kepercayaan dan kenyamanan dalam hubungan."

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP