"Saya Tak Punya Kekuatan Balas Dendam Pada Tentara yang Bunuh Putri Saya"

Senin, 5 April 2021 07:34 Reporter : Hari Ariyanti
"Saya Tak Punya Kekuatan Balas Dendam Pada Tentara yang Bunuh Putri Saya" Jasad Aye Myat Thu. ©Reuters

Merdeka.com - Di tengah teriknya musim panas, U Soe Oo membelah kelapa dengan parangnya. Tangan kecil mengulurkan tangan untuk potongan pertama, dingin dan licin.

Putrinya - berusia 10 tahun, yang bermimpi menjadi penata rias atau perawat atau mungkin seorang putri dengan rambut panjang keemasan seperti yang ada di "Maleficent," yang sering ditontonnya - berlari membawa potongan kelapa muda tersebut.

Ayahnya mengenang, saat putrinya sampai di pepohonan yang menandai pembatas rumah mereka, gadis kecil itu seperti tersandung, jatuh telungkup. Sepotong kelapa terlepas dari genggamannya, jatuh ke tanah kemerahan di Mawlamyine, sebuah kota pelabuhan di sebuah kepulauan kecil di tenggara Myanmar.

Soe Oo meletakkan parangnya dan berlari untuk mengatakan kepada anaknya tidak apa-apa, dia bisa mendapatkan sepotong kelapa muda lagi. Dia mengambilnya, lemas dalam pelukannya, tetapi masih tidak paham dari mana semua darah itu berasal, mengapa anaknya diam seribu bahasa.

Peluru menghantam pelipis kiri putrinya, Aye Myat Thu, sekitar pukul 17.30 dalam cahaya lembut sore hari tanggal 27 Maret. Saat kegelapan turun kurang dari satu jam kemudian, gadis kecil itu menutup mata untuk selama-lamanya.

Sejak melancarkan kudeta 1 Februari dan memenjarakan para pemimpin sipil negara, militer Myanmar, yang dikenal sebagai Tatmadaw, telah membunuh, menyerang, dan menangkap ribuan warga. Lebih dari 550 orang telah tewas di jalanan dan di rumah mereka oleh tentara atau petugas polisi, menurut sebuah kelompok pemantau.

Sedikitnya 40 korban yang meninggal merupakan anak-anak berusia di bawah 18 tahun, menurut data yang dikumpulkan The New York Times berdasarkan pernyataan medis, rincian upacara pemakaman, dan pengakuan keluarga. Beberapa anak-anak dibunuh karena terlibat dalam aksi unjuk rasa. Banyak korban anak lainnya merupakan warga yang menjadi penonton, yang ditembak di kepala.

Seringkali anak-anak dibunuh saat menjalani aktivitas mereka, bermain atau berkumpul bersama keluarga mereka.

“Saya tak punya kekuatan untuk membalas dendam pada tentara yang membunuh putri saya,” jelas ibu Aye Myat Thu, Daw Toe Toe Lwin, dilansir The New York Times, Minggu (4/4).

“Yang bisa saya lakukan hanyalah berharap giliran mereka segera tiba.”

Baca Selanjutnya: Pembantaian anak-anak memperkuat tekad unjuk...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini