Balai Kota Limoges Hancur Terbakar, Polisi Antiteror Turun Tangan

Balai kota berusia 140 tahun di Limoges, Prancis, terbakar saat kerusuhan. Polisi antiteror bergerak dan satu terduga ditangkap. Ini perkembangan kasusnya.

Septian Deny
Oleh Septian Deny- Reporter
Balai Kota Limoges Hancur Terbakar, Polisi Antiteror Turun Tangan
Balai kota bersejarah yang dibangun pada Abad ke-19 di Limoges, Prancis, dibakar saat kerusuhan melanda negara tersebut pada Sabtu (17/10/2026). (Dok. PASCAL LACHENAUD/AFP)

Aparat keamanan Prancis menangkap seorang pria pada Selasa terkait dugaan pembakaran balai kota bersejarah di Limoges yang terjadi di sela unjuk rasa nasional akhir pekan. Kepolisian antiteror turut dikerahkan untuk menyelidiki kemungkinan pembakaran sengaja, dikutip dari EuroNews, Rabu (21/10).

Bangunan balai kota yang dibangun sejak 1883 itu mengalami kehancuran parah setelah atap dan menara loncengnya runtuh pada Sabtu. Insiden ini menjadi salah satu simbol kerusuhan brutal yang menyertai aksi protes.

Detik-detik ambruknya bangunan membangkitkan ingatan publik pada kebakaran Katedral Notre-Dame di Paris pada April 2019, yang oleh penyidik diyakini terjadi secara tidak disengaja.

Kejaksaan Limoges menyatakan terduga pelaku, yang diperkirakan berusia 40 tahun, ditangkap satuan kepolisian khusus RAID di Val d'Issoire. Penangkapan dilakukan saat penyelidikan atas dugaan pembakaran sengaja berjalan.

Berdasarkan keterangan sumber yang dekat dengan kasus ini, pria tersebut sebelumnya sudah masuk dalam daftar pengawasan karena dinilai berpotensi menjadi ancaman dan memiliki keterkaitan dengan gerakan sayap kiri ekstrem.

Sementara itu, menurut sumber lain yang meminta anonim, Sub-Direktorat Antiterorisme Prancis (SDAT) telah dipanggil untuk menyelidiki kasus ini lebih lanjut.

Menteri Kehakiman Prancis, Gérald Darmanin, pada Senin malam menyampaikan bahwa jaksa antiteror akan segera memutuskan apakah insiden ini akan diselidiki sebagai serangan teror.

"Jika mereka mengambil alih kasus ini, itu berarti insiden tersebut merupakan aksi terorisme, yang mengindikasikan bahwa individu-individu tertentu, khususnya dari kelompok sayap kiri jauh, secara jelas mengorganisir pengrusakan balai kota ini," tegas Darmanin kepada saluran televisi Prancis, TF1.

Di sisi lain, Wali Kota Limoges dari faksi kanan, Guillaume Guerin, mengecam keras penanganan pihak kepolisian. Menurutnya, aparat "kekurangan sumber daya yang memadai" dan memilih "mundur" saat berhadapan dengan para perusuh.

Guerin mendesak pemerintah pusat untuk mencairkan dana jutaan euro guna membangun kembali balai kota, seraya menambahkan bahwa "negara telah gagal." Kantor Perdana Menteri Sebastien Lecornu mengonfirmasi jadwal kunjungannya ke Limoges pada Jumat mendatang.

Sebagai latar belakang, sekitar 5.000 orang—termasuk 700 individu yang digambarkan oleh pihak berwenang sebagai "terradikalisasi dan sangat keras"—turun ke jalan dalam demonstrasi di Limoges pada Sabtu.

Menyikapi aksi kekerasan tersebut, sekitar 7.000 warga kemudian menggelar aksi protes damai pada Minggu malam untuk mengecam perusakan yang terjadi.

Rekomendasi