Prancis Membara Imbas Demo Biaya Hidup, 1.800 Orang Ditangkap

Prancis diguncang kerusuhan saat demo biaya hidup. 1.800 orang ditangkap, balai kota bersejarah terbakar, ratusan toko dijarah. Macron akan berpidato.

Khairisa Ferida
Oleh Khairisa Ferida- Reporter
Prancis Membara Imbas Demo Biaya Hidup, 1.800 Orang Ditangkap
Balai kota bersejarah yang dibangun pada Abad ke-19 di Limoges, Prancis, dibakar saat kerusuhan melanda negara tersebut pada Sabtu (17/10/2026). (Dok. PASCAL LACHENAUD/AFP)

Kerusuhan mengiringi demonstrasi biaya hidup di Prancis pada Sabtu (17/10), memicu penjarahan luas, pembakaran fasilitas, dan penangkapan terhadap 1.800 orang, menurut AFP.

Situasi ini menambah tekanan terhadap Presiden Emmanuel Macron yang memasuki akhir masa jabatannya, dengan pemilihan presiden enam bulan lagi. Kantor kepresidenan menyebut Macron akan menyampaikan pidato kepada warga Prancis pada Minggu pukul 20.00 waktu setempat atau Senin (19/10) pukul 01.00 WIB, setelah bertemu sejumlah menteri utama.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez menyatakan 1.800 orang ditangkap terkait kerusuhan dan penjarahan di berbagai wilayah. Di Paris, 557 orang masih ditahan usai operasi penertiban yang disebut sebagai rekor penangkapan. Ibu kota menyisakan mobil-mobil hangus, etalase pecah, dan puing berserakan di banyak ruas jalan.

"Rasanya seperti habis perang," kata Mehmet Ozeden (78), warga pusat kota Paris, kepada AFP pada Minggu (18/10).

Wakil Wali Kota Paris Lamia El Aaraje menilai tingkat kekerasan yang terjadi di ibu kota belum pernah terlihat sebelumnya.

"Saya rasa kami belum pernah menyaksikan kekerasan separah ini," ujarnya.

Ratusan toko dijarah di Paris dan di kota lain seperti Marseille, Bordeaux, Nice, serta Strasbourg. Satu orang meninggal saat demonstrasi utama di Paris, namun pejabat memastikan kematian itu dipicu masalah kesehatan dan tidak terkait aksi kekerasan. Federasi Ritel dan Perdagangan mencatat sekitar 1.500 tempat usaha rusak dengan potensi kerugian ratusan juta euro.

Anita Gras, warga Paris yang berlari pagi melewati puing kerusuhan, menyebut melihat sekelompok pemuda menjarah toko sepatu.

"Mereka berada di sana sampai pukul 01.00 dini hari. Kami takut mereka akan melempari kami dengan sesuatu," jelasnya.

Warga lainnya, Cecile Rogue (57), mengaku ketakutan saat melihat tumpukan sepeda yang hangus.

"Ini benar-benar mengerikan dan menakutkan. Sekelompok anak muda datang ke sini kemarin (Sabtu), menjarah dan menghancurkan semuanya tanpa takut mendapat hukuman," tuturnya.

Di Limoges, balai kota bersejarah abad ke-19 terbakar hingga hancur. Pejabat pemerintah setempat, Maurice Barate, mengatakan kepada stasiun LCI bahwa bangunan itu sengaja dibakar oleh sekelompok orang yang ia sebut sebagai "gerombolan liar". Di Lyon, Wali Kota Gregory Doucet menyebut situasi di kotanya sangat memprihatinkan.

"Kekacauan yang melanda kota selama beberapa jam itu benar-benar mengerikan," katanya.

Sebuah kantor informasi pariwisata di pusat Lyon turut dibakar di tengah bentrokan dan penjarahan.

Pemerintah dan Oposisi Saling Menuding

Kerusuhan tersebut memicu saling tuding di kalangan politik Prancis. Pemerintah dan tokoh sayap kanan Marine Le Pen menyalahkan kelompok ekstrem kiri sebagai biang kekerasan, sementara pemimpin sayap kiri radikal Jean-Luc Melenchon menuduh otoritas justru memperburuk ketegangan.

Wakil Wali Kota Paris dari Partai Sosialis, Lamia El Aaraje, menuding partai Le Pen bersikap seperti "petugas pemadam kebakaran yang justru menyulut api". Ia menilai partai tersebut memanfaatkan kerusuhan untuk memperkuat ambisi Le Pen dalam pemilihan presiden.

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance turut berkomentar di X, mengaitkan kerusuhan dengan kebijakan imigrasi Prancis yang menurutnya membuka pintu bagi pendatang dari negara-negara berkembang, atau yang ia sebut sebagai "mengimpor dunia ketiga".

Kantor Perdana Menteri Prancis menyatakan Sebastien Lecornu dijadwalkan memimpin rapat darurat pada Senin pukul 10.00 waktu setempat. Agenda mencakup pembahasan soal asuransi dan bantuan bagi toko yang terdampak, serta proses hukum terhadap para pelaku kekerasan.

Di Paris, sejumlah wisatawan terlihat berlarian sambil membawa koper saat jalanan dipenuhi gas air mata dan massa demonstran. Seorang wisatawan asal Denmark, Soren Petersen, mengaku sedih melihat kerusakan bangunan.

"Ini bukan lagi demonstrasi. Apa yang terjadi sudah jauh melampaui aksi protes biasa," ungkapnya kepada AFP.

Wisatawan asal AS, Jill Burns, juga mengaku ketakutan.

"Kami takut," ujarnya.

Menteri Dalam Negeri menyebut sekitar 500 anggota polisi, petugas pemadam kebakaran, dan tenaga medis darurat terluka selama kerusuhan.

Demonstrasi nasional pada Sabtu diikuti sekitar 550.000 orang menurut Kementerian Dalam Negeri, sementara serikat pekerja CGT memperkirakan jumlah peserta mencapai 800.000 orang.

Di Saint-Etienne, Prancis selatan, seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun kehilangan tangan kanannya akibat ledakan granat yang digunakan untuk mengendalikan massa.

Analis Eurasia Group, Mujtaba Rahman, menyebut melalui X bahwa sebagian besar aksi pada Sabtu berlangsung damai. Ia menilai kekerasan dilakukan sebagian kecil kelompok ekstrem kiri, sedangkan penjarahan dilakukan oleh kelompok dari kawasan pinggiran kota yang miskin dan memanfaatkan situasi.

"Semua ini menjadi kabar baik bagi Marine Le Pen," tuturnya.

Gelombang protes kali ini diserukan gerakan Rompi Kuning (Yellow Vest) dengan tajuk "Rompi Kuning dan Pemuda". Delapan tahun lalu, gerakan tersebut memprotes rencana kenaikan pajak bahan bakar. Kini tuntutan utama berkaitan dengan tingginya biaya hidup, di antaranya dipicu perang di Timur Tengah yang turut mendorong inflasi di Eropa dan berbagai belahan dunia.

Rekomendasi