Tanpa Pemangkasan Emisi, Pemanasan Global Diproyeksi Naik 25% pada Akhir Abad Ini

Studi ETH Zurich–Leipzig memproyeksikan pemanasan global bisa 25% lebih tinggi tanpa pemangkasan emisi. Skenario 3,25°C di akhir abad kian mungkin.

Septian Deny
Oleh Septian Deny - Reporter
Tanpa Pemangkasan Emisi, Pemanasan Global Diproyeksi Naik 25% pada Akhir Abad Ini
Jepang menjadi salah satu negara yang mengalami gelombang panas ekstrem, bahkan suhu mencapai 41,2 derajat celcius di Hyogo, 30 Juli 2025 lalu. Tampak dalam foto, orang-orang menyeberang jalan di Tokyo pada 4 Agustus 2025. (Kazuhiro NOGI/AFP)

Pemanasan global diperkirakan bisa melonjak sekitar 3,25 derajat Celsius (5,85 derajat Fahrenheit) pada akhir abad ini jika kebijakan iklim saat ini tidak berubah. Proyeksi tersebut membuat skenario pemanasan terburuk yang dipersiapkan Swiss kian mungkin terjadi.

Kesimpulan itu berasal dari studi para peneliti ETH Zurich di Swiss dan Leipzig University di Jerman. Riset ini menunjukkan proyeksi iklim sebelumnya kemungkinan meremehkan besarnya pemanasan yang akan terjadi di masa depan, dikutip dari Anadolu, Rabu (23/9/2026), sebagaimana juga dilaporkan Swissinfo pada Selasa.

Peneliti doktoral ETH Zurich sekaligus penulis utama studi, Gergana Gyuleva, menyebut pemanasan bisa 25 persen lebih tinggi bila tidak ada pemangkasan emisi yang segera dan drastis.

"Untuk setiap lintasan emisi tanpa pemangkasan emisi yang segera dan drastis, kami memperkirakan pemanasan akan menjadi 25 persen lebih tinggi," kata Gyuleva.

Menurut dia, hasil penelitian tersebut tidak mengubah gambaran mengenai kondisi dunia pada pemanasan 3 derajat Celsius, namun mempercepat waktu terjadinya atau meningkatkan peluangnya.

"Apa yang terjadi di dunia dengan suhu 3 derajat Celsius tidak berubah berdasarkan hasil kami. Hasil kami hanya mengubah seberapa cepat atau seberapa mungkin dunia dengan suhu 3 derajat Celsius itu terjadi," ujarnya.

Rekomendasi