Kelompok Militan Curi-Curi Kesempatan di Tengah Pandemi Corona

Jumat, 3 April 2020 08:05 Reporter : Pandasurya Wijaya
Kelompok Militan Curi-Curi Kesempatan di Tengah Pandemi Corona Kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). ©REUTERS

Merdeka.com - Kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan AL Qaidah melihat pandemi corona sebagai ancaman, namun sebagian dari mereka juga menganggap situasi saat ini bisa menjadi kesempatan untuk meraih keuntungan dan menggalang lebih banyak dukungan sekaligus menyerang lebih keras.

Sejumlah pesan dari kelompok ISIS memperlihatkan mereka menganggap pandemi ini sebagai hukuman bagi orang kafir dan mereka juga menyerukan kepada anggotanya untuk menjaga diri.

Dikutip dari laman the Times of Israel, Kamis (3/4), kelompok Al Qaidah dalam pernyataannya dua hari lalu mengatakan orang non-muslim kini mempelajari Islam di masa mereka menjalani karantina.

Tapi dalam sebuah pesan di buletin al-Naba pada pertengahan Maret lalu, ISIS menyerukan anggotanya untuk tetap melancarkan serangan dan tidak memberi ampun kepada musuh mereka di masa pandemi ini.

1 dari 3 halaman

Lembaga International Crisis Group (ICG) memperingatkan, pandemi ini mengancam solidaritas global yang menjadi kunci untuk memerangi kelompok ekstremis.

"Sudah hampir bisa dipastikan Covid-19 ini akan melumpuhkan keamanan domestik dan kerja sama internasional memerangi ISIS dan itu membuat mereka bisa menyiapkan serangan yang lebih besar," kata pernyataan ICG.

Meski begitu, masih terlalu dini untuk mengatakan kelompok militan memanfaatkan situasi pandemi corona ini untuk melancarkan serangan yang sudah terjadi baru-baru ini. Kelompok ISIS akhir Maret lalu melancarkan serangan kepada pasukan militer Chad hingga menewaskan 92 tentara Chad di perbatasan Nigeria dan Niger.

Di Mesir, dua pejabat militer melaporkan ada peningkatan serangan ISIS di bulan Maret di daerah Semenanjung Sinai namun pasukan keamanan berhasil menggagalkan sedikitnya tiga serangan mereka.

2 dari 3 halaman

Pasukan Militer Menarik Mundur

Di Irak dan Suriah sejauh ini tidak ada peningkatan serangan ISIS sejak virus corona mulai masuk ke dua negara itu. Pandemi ini membuat pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat menangguhkan pelatihan militer bagi pasukan Irak di tengah rencana penarikan pasukan AS di sejumlah pangkalan militer.

Di sejumlah kawasan pasukan AS, Inggris dan militer lain kini menarik mundur pasukan karena virus corona dan itu membuka peluang kelompok militan untuk menyerang.

Bahaya mengintai di kawasan Sahel, wilayah Danau Chad dan Somalia, lokasi yang sudah dikhawatirkan oleh militer AS dalam beberapa bulan terakhir.

"Negara mana pun yang berencana menarik mundur pasukan di Afrika akan mengambil kesempatan untuk melakukan itu," Clionadh Releigh, direktur eksekutif Proyek Data Kejadian dan Lokasi Konflik Bersenjata yang melacak kegiatan kelompok militan di seluruh dunia.

3 dari 3 halaman

Rapat Darurat

Militer Inggris di Kenya yang memberi pelatihan kontraterosime dan keterampilan lain, pekan ini mengumumkan seluruh keluarga tentara ini kembali pulang ke Inggris karena pandemi corona.

Namun di wilayah Sahara dan kawasan Sahel, Prancis mempertahankan 5.100 pasukannya, kata Kementerian Pertahanan Prancis.

Di Nigeria, pasukan militer yang masih berjuang melawan kelompok militan Boko Haram dan simpatisan mereka, kini menyerukan penundaan berbagai operasi, termasuk pelatihan dan kegiatan yang mengumpulkan massa.

Dalam sebuah bocoran memo yang ditandatangani kepala polisi militer Nigeria, tertulis kendaraan militer mereka akan digunakan untuk mengangkut jasad korban meninggal karena corona.

Penasihat kontraterorisme di Afrika Barat, Laith Alkhouri mengatakan, kelompok ISIS dan Al Qaidah memanfaatkan situasi ini untuk meraih lebih banyak simpati dan menuding pemerintah tidak becus menangani pandemi.

Alkhouri menuturkan, orang bisa saja meyakini hanya agama yang bisa menyelamatkan mereka dari virus ini dan mengabaikan saran ilmu kedokteran dan itu bisa menyebabkan penularan makin meluas.

Sejumlah kelompok militan memperlihatkan kecenderungan itu, seperti halnya di berbagai belahan dunia.

Di Somalia, kelompok Asy-Syabaab, cabang Al Qaidah, bulan lalu menggelar rapat darurat lima hari untuk membahas virus corona. Dalam rapat itu mereka menyebut ada ancaman bagi dunia, termasuk warga muslim.

Di Afghanistan, kelompok Taliban sudah lebih maju, mereka menyebarkan video cara melakukan disinfektan dan sejumlah foto anggota mereka memakai masker dan sabun. Mereka juga menawarkan jaminan keamanan bagi kelompok relawan kemanusiaan yang akan membantu orang yang terpapar corona serta memberi bantuan untuk menghentikan penyebaran virus.

"Jika wabah terjadi di wilayah yang kami kuasai, maka kami akan berhenti berperang di wilayah itu," kata juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid kepada kantor berita AP. [pan]

Baca juga:
Perwira AL Amerika Dipecat karena Ingatkan Soal Bahaya Virus Corona
Sudah Lebih dari 1 Juta Orang Terjangkit Corona di Seluruh Dunia, Amerika Terbanyak
Dokumen Bocor Ungkap Militer AS Sudah Ingatkan Trump Soal Pandemi Virus Corona
Persaingan Tingkat Dunia di Balik Penjualan Masker & APD untuk Hadapi Pandemi Corona

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini