Sejarah jadi menarik di tangan Iyan
Untung kami punya Ramadhian Fadhilah. Lelaki berbadan tegap ini paling produktif menulis artikel sejarah.
Bagi orang yang tidak suka sejarah, bernggapan itu hanya masa lalu. Ketika ada yang memiliki ide tentang berita-berita yang bernilai sejarah, pada alergi. Siapa mau baca.
Hal itu tak terbukti bagi pembaca merdeka.com. Dalam beberapa catatan, artikel yang berbau sejarah atau cerita masa lalu, ternyata menarik. Buktinya, pengakses dan komentarnya banyak.
Pembaca merdeka.com yang terhormat, memang media kami tidak bermaksud mengidentikkan dengan "kemerdekaan, proklamasi, merah putih, semengat 45" dan sebagainya. Merdeka yang kami maksud lebih dari itu, yakni untuk mengisi kemerdekaan. Yakni hati yang bebas, kebebasan berpikir, bebas berkreasi dan kemerdekaan positif lainnya. Sehingga logonya warna-warni pelangi.
Tapi, faktanya banyak artikel sejarah di situs yang Anda baca ini. Bukan sembarang artikel yang berdiri sendiri, tapi artikel sejarah yang kami tulis memiliki cantolan berita (news pegs).Ketika ulang tahun Bung Karno pada bulan Juni lalu, hampir selama sebulan ada artikel Soekarno dari berbagai sisi. Banyak yang belum diketahui pembaca atau semacam "untold story". Terutama pembaca muda.
Lalu ketika ramai polisi korup, Anda mendapat banyak sajian polisi-polisi bersih yang dimotori Pak Hoegeng. Ada 3 wanita (Angelina Sondakh, Nunun Nurbaeti, Neneng Nazarudin) ditahan di Jl Rasuna Said - notabene wanita pejuang kemerdekaan RI - yang kontras perjuangannya. Dan banyak lagi contoh tulisan artikel sejarah yang laik disimak dan ramai pengaksesnya, ramai komentarnya, juga banyak dishare lewat media sosial.
Untuk membuat artikel-artikel sejarah itu bukan perkara mudah. Harus memahami informasi kekinian dan bisa menggabungkan dengan konteks masa lalu, serta memiliki pesan kuat di balik cerita tersebut. Untung kami punya Ramadhian Fadhilah. Lelaki berbadan tegap yang hobi naik gunung ini, paling produktif menulis artikel yang dekat dengan sejarah. Selain Iyan - panggilan Ramadhian -- ada Hery Winarno dan Laurencius Simanjuntak yang juga suka menulis sejarah.
Iyan bukan lulusan sejarah. Dia latar belakang akademisnya jurusan fotografi dan film, fakultas Seni, Universitas Pasundan Bandung.Kok suka sejarah? "Awalnya banyak baca buku sejarah, kok kaya dongeng. Makin penasaran. Antarcerita satu dengan lainnya ada hubungannya seperti puzzle jadi menarik," kata Iyan. "Tapi makin banyak baca makin bingung hehehe," candanya. Tak mengherankan bila rak buku di kantor, banyak buku Iyan. Koleksinya banyak yang berkaitan dengan sejarah atau tokoh. "Ternyata rejeki saya menulis di situ, bukan fotografi," tukasnya.
Bukan berarti dia tak pernah aktif di fotografi seperti cita-citanya semasa kuliah. Di Bandung sempat kerja jadi fotografer. Melamar sebagai fotografi di media di Jakarta tak ada lowongan, yang ada jadi reporter/penulis. Ya sudah, ambil. "Ternyata menjadi reporter dan menulis berita asyik," tegas lelaki yang juga sering dipanggil komandan oleh rekan kerjanya.
Sebagai penanggungjawab rubrik Peristiwa-Politik-Nasional, Iyan masih suka memotret meski lebih untuk kepuasan pribadi. Paling tidak, bisa pamer pernah belajar beberapa semester tentang fotografi. Kalau diskusi foto tidak terlalu semangat, tapi diskusi sejarah bakal dijabanin sampe pagi.
Siap komandan!
(mdk/mdk)