Yusril khawatir 4 BUMN pembangun kereta cepat akan dikuasai China
Jika terjadi wanprestasi, dikhawatirkan akan terjadi akuisisi saham keempat BUMN tersebut.
Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra mengkritik rencana pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung. Melalui akun Twitternya, Yusril menanyakan apa pentingnya membangun kereta cepat. Soalnya, antara Jakarta Bandung sudah ada kereta api, jalan tol serta pesawat terbang.
Dalam proses pembangunan ini, Yusril mengkhawatirkan konsorsium BUMN yang terdiri dari PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT KAI (Persero), PT Perkebunan Nusantara VIII, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk bakal dikuasai China.
Kekhawatiran Yusril bermula dari pembangunan kereta cepat yang menggunakan utang dari China Development Bank. Dari total investasi Rp 70 hingga 80 triliun, BUMN dalam negeri hanya membiayai Rp 19 triliun, sedangkan sisanya dari utang.
"Kalau kontraktor itu lalai atau wanprestasi mengerjakan proyek kereta cepat itu, apa yang akan terjadi dengan pinjaman kepada konsorsium 4 BUMN itu," kicau Yusril dalam akun Twitternya @Yusrilihza_Mhd, Jumat (23/10).
"Yang namanya utang ya tetap utang yang harus dicicil utang pokok plus bunganya jika telah jatuh tempo," sambung Yusril.
Yusril menduga, dalam proyek ini China tak akan mau ambil pusing jika ada kelalaian kontraktor dalam pengerjaan. Sengaja atau tidak, utang BUMN ke China harus tetap dibayar.
"China tidak akan mau pusing dengan kelalaian kontraktornya sendiri, sengaja atau tidak sengaja, yang namanya utang ya harus bayar."
"Kalau tak mampu bayar bukan mustahil China akan akuisisi saham ke 4 konsorsium BUMN tersebut. Maka China mulai kuasai BUMN kita," tegas Yusril.
Dalam pembangunan kereta cepat, konsorsium China dipercayakan kepada China Railways Construction Corporation Limited dan konsorsium BUMN digawangi oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dengan anggota PT KAI (Persero), PT Perkebunan Nusantara VIII, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk.
"Sekarang lagi negosiasi, yang diputuskan juga adalah ini konsorsium dari BUMN. Saat ini, kami sedang melakukan joint venture agreement dengan BUMN dari China," ucap Menteri BUMN, Rini Soemarno beberapa waktu lalu.
"Total nilai proyek masih dihitung dan kami minta kecepatan kereta cepat 250-300 kilometer per jam, sebab di proposal mereka 350 km per jam, sehingga biaya proyek bisa turun dan finalisasi keseluruhannya diharapkan bisa bulan ini," jelas dia.
Rini memperkirakan total investasi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung sekitar Rp 70 triliun hingga Rp 80 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen atau Rp 56 triliun akan dibiayai oleh China Development Bank (CDB).
"CDB menawarkan jatuh tempo pinjaman 40 tahun, di mana 10 tahun masa tenggang dan 30 tahun pengembalian. Bunga yang dibebaskan fix 2 persen untuk 4 tahun (untuk komponen dolar), sedangkan berapa persen untuk Renmimbi," ungkapnya.
(mdk/idr)