Wamen Arcandra beberkan alasan migas non konvensional jarang dilirik investor
migas non konvensional adalah minyak dan gas bumi yang diusahakan dari reservoir tempat terbentuknya minyak dan gas bumi dengan permeabilitas yang rendah (low permeability), antara lain shale oil, shale gas, tight sand gas, gas metana batu bara (coal bed methane), dan methane-hydrate.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengakui bahwa wilayah kerja (WK) minyak dan gas (migas) non konvensional sampai saat ini belum banyak dilirik oleh investor.
Hal tersebut dikarenakan para investor masih menunggu momen yang pas untuk dapat melakukan kontrak di antaranya kepastian harga minyak dunia. Meskipun sampai saat ini harga minyak dunia sudah mulai naik, namun hal itu dianggap belum prospektif.
"Dengan oil price yang masih rendah non konvensional banyak tantangan dari sisi keekonomian. Kedua success ratio selama ini belum menggembirakan," ungkapnya di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Jumat (29/12).
Dia berharap dengan adanya perbaikan harga minyak dunia, dapat mendorong investor untuk melirik WK non konvensional. "Kita tunggu dulu non konvensional seperti apa hasilnya nanti, kita percaya di tahun mendatang kalau membaik harganya non konvensional akan laku," imbuhnya.
Sebagai informasi, Menurut Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 05 Tahun 2012, migas non konvensional adalah minyak dan gas bumi yang diusahakan dari reservoir tempat terbentuknya minyak dan gas bumi dengan permeabilitas yang rendah (low permeability), antara lain shale oil, shale gas, tight sand gas, gas metana batu bara (coal bed methane), dan methane-hydrate.
Baca juga:
ESDM tetapkan pemenang lelang 5 wilayah kerja migas
Pilihan bijak pemerintah tidak menaikan TDL 3 bulan kedepan
Turunkan harga gas, pemerintah akan pangkas PNBP dari 77 perusahaan
Sejak 2016, ESDM catat dua smelter berhenti beroperasi
Tarif listrik hingga BBM tak naik hingga Maret 2018