LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

VIVA cari cara lunasi utang Rp 2,6 triliun ke Credit Suisse

Salah satu caranya dengan right issue. Cara lain, melepas 10 persen saham anak usaha yakni PT Intermedia Capital Tbk.

2014-07-04 09:04:01
Bakrie and Brothers
Advertisement

PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) akan  menambah modal melalui right issue sebesar USD 105 juta. Langkah ini diambil untuk melunasi utang perusahaan sebesar USD 220 juta atau Rp 2,6 triliun kepada Credit Suisse.

Selain itu, untuk menutup utang perseroan juga bakal melepas 10 persen saham anak usaha yakni PT Intermedia Capital Tbk (MDIA). 

"Tentu kami tidak mau lepas terlalu banyak saham Intermedia. Saat ini kepemilikan kami masih di atas 90 persen," ujar wakil presiden VIVA, Robertus Bismakara di Jakarta, semalam.

Advertisement

Pihaknya juga berencana menawarkan saham Intermedia Capital kepada sejumlah investor asing, khususnya dari wilayah Asia dan Eropa. "Kami akan roadshow ke Negara-negara Eropa dan mungkin beberapa Negara Asia pada Oktober mendatang," katanya.

Pada April 2014, VIVA telah mendivestasikan 2,5 persen saham miliknya melalui initial public offering (IPO) di Intermedia Capital dengan nilai Rp 130,2 miliar. Hasil divestasi saham Intermedia digunakan untuk membayar sebagian utang kepada Credit Suisse. 

Utang senilai Rp 2,6 triliun diperoleh dari Credit Suisse sejak 1 November 2013, dengan tingkat suku bunga sebesar Libor + 7,75 persen per tahun.

Advertisement

Robert menuturkan, sisa sebesar USD 104,5 juta atau 50 persen dari total utang pokok kepada Credit Suisse akan dilunasi melalui refinancing atau pembayaran kembali. Untuk itu perseroan juga tengah mempertimbangkan skema pendanaan domestik maupun penerbitan obligasi rupiah. 

"Yang pasti, kami ingin utang baru nanti dalam bentuk Rupiah dan bukan lagi berdenominasi dolar AS. Skemanya sedang kami pelajari sesuai kondisi pasar, antara pinjaman domestik atau surat utang," ucapnya.

(mdk/noe)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.