LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Virus Corona Buat Pendapatan Negara Turun 10 Persen

"Pertumbuhan pendapatan negara akan minus 10 persen, penerimaan pajak rasio juga akan rendah, bisa turun sangat dalam. Pendapatan non-pajak juga akan sangat defisit terlalu dalam."

2020-04-20 12:07:20
Virus Corona
Advertisement

Pandemi Corona covid-19 masih menyerang seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Pandemi ini membawa situasi dalam dua krisis sekaligus yaitu ekonomi dan kesehatan.

Oleh karenanya, pemerintah terus menggulirkan berbagai kebijakan sebagai upaya menekan risiko dari penyebaran Corona covid-19, sehingga dampak kesehatan dan ekonomi bisa diminimalisir.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Febrio Kacaribu memprediksi pertumbuhan pendapatan negara akan minus 10 persen akibat pandemi ini.

Advertisement

"Pertumbuhan pendapatan negara akan minus 10 persen, penerimaan pajak rasio juga akan rendah, bisa turun sangat dalam. Pendapatan non-pajak juga akan sangat defisit terlalu dalam," kata dia dalam video konferensi Indonesia Macroeconomy Update, Senin (20/4).

Adapun rinciannya, penerimaan pajak DJP tumbuh - (minus) 5,9 persen. Hal tersebut karena adanya penurunan pertumbuhan ekonomi dan perang harga minyak.

Selain itu, juga karena adanya fasilitas pajak insentif tahap II (PMK 23/2020), relaksasi pajak tambahan, pengurangan tarif PPh Badan menjadi 22 persen, serta potensi penundaan PPH deviden karena Omnibus Law.

Advertisement

Pendapatan bea dan cukai tumbuh -2,2 persen, dengan memperhitungkan dampak stimulus pembebasan bea masuk untuk 19 industri.

Kemudian, dalam paparan juga dirincikan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tumbuh -26,5 persen dengan memperhitungkan dampak migas yang turun karena perubahan asumsi ICP yang lebih rendah, dan SDA Non-migas yang turun karena penurunan harga batu bara.

Tekanan Luar Biasa pada APBN

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati melakukan pembahasan dengan Komisi XI DPR mengenai kondisi APBN akibat pandemi Covid-19 membuat pendapatan negara anjlok.

Dalam paparannya, Sri Mulyani menyatakan adanya tekanan yang luar biasa terhadap APBN 2020.

"APBN alami tekanan luar biasa, penerimaan turun banyak karena sejumlah sektor mengalami tekanan dalam. Outlook kita, APBN 2020, penerimaan akan kontraksi. Outlook hingga hari ini pendapatan negara hanya Rp 1.760,9 triliun," papar Sri Mulyani, Senin (6/4).

Dalam paparannya, Sri Mulyani membeberkan kondisi secara garis besar APBN 2020, di antaranya pendapatan negara turun Rp472,3 triliun dari target Rp2.233,2 triliun menjadi Rp1.760,9 triliun.

Belanja negara mengalami kenaikan, dari Rp2.540,4 triliun menjadi Rp2.613,8 triliun. Dari angka tersebut, maka defisit akan naik dari Rp307,2 triliun (1,76 persen dari PDB) menjadi Rp 853 triliun (5,07 persen dari PDB).

"Ini akibat langkah-langkah karena work from home (WFH) dan social distancing. Juga kebutuhan untuk melindungi dunia usaha, sebabkan kenaikan kebutuhan untuk mendorong dan melindungi dunia usaha baik dalam bentuk pajak maupun tambahan pemberian relaksasi," jelas Sri Mulyani.

(mdk/idr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.