Turunkan harga beras, pemerintah bagikan 1.000 alat pengering Rp 1 T untuk petani
Kementan bekerja sama dengan Perum Bulog akan membagikan 1.000 dryer atau alat pengering gabah gratis kepada para petani. Itu dimaksudkan untuk mempermudah rantai pasok dan produksi, serta memperbaiki kualitas beras. Dengan seribu unit dryer, mentan menambahkan, bisa memenuhi kapasitas 10.000-15.000 ton beras per hari.
Kementerian Pertanian (Kementan) bekerja sama dengan Perum Bulog akan membagikan 1.000 dryer atau alat pengering gabah gratis kepada para petani. Itu dimaksudkan untuk mempermudah rantai pasok dan produksi, serta memperbaiki kualitas beras.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mengatakan Kementan dan Perum Bulog sudah mengevaluasi harga beras yang tak kunjung turun. Hasilnya, mereka berkesimpulan untuk memotong proses rantai pasok dan produksi dari gabah ke beras.
"Ini yang bisa menurunkan harga. Kita semua, termasuk Bulog ingin menyerap langsung gabah. Kita akan potong tahapan, dari sebelumnya lima step jadi dua, atau maksimal tiga step," kata dia di Jakarta, Rabu (9/5).
Atas perintah dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kementan merevisi anggaran untuk membeli 1.000 unit dryer menjadi Rp 1 triliun. Dengan seribu unit dryer itu, mentan menambahkan, bisa memenuhi kapasitas 10.000-15.000 ton beras per hari.
Selain itu, lanjutnya, keluhan perihal beras dengan kadar air tinggi pun bisa teratasi. Selain itu, dia pun memastikan bahwa ada tiga pihak yang nantinya akan diuntungkan, setelah rantai pasok beras ini dipermudah.
"Pertama, harga gabah serapan yang petani terima maksimal, pengusaha juga ikut untung. Lalu masyarakat sebagai konsumer pun bisa menikmati beras berkualitas dengan harga murah," pungkas dia.
Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com
Baca juga:
Lahan terbatas, importir keluhkan kebijakan tanam bawang putih
Pembangkit listrik limbah pertanian Rp 292,3 M pertama di Kalimantan beroperasi
Jangkau petani daerah, Charoen Pokphand ciptakan mobil pengering jagung
Indonesia-Papua Nugini bentuk pokja ekspor produk pertanian
Indonesia-Ghana sepakat lawan kampanye negatif kelapa sawit
Gandeng Universitas Sydney, Kementan ciptakan alat sensor canggih kesuburan tanah
Diduga ada pelanggaran, kebijakan wajib tanam bawang putih diminta diusut