Traktor tangan bantu petani hemat biaya operasional hingga 80 persen
Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas memasok peralatan pertanian berupa traktor tangan untuk para petani yang berdekatan dengan perusahaan pemasokk bahan baku kertas, PT Finnantara Intiga di Kalimantan Barat. Selain itu, APP Sinar Mas juga ikut membina para petani untuk meningkatkan produktivitas.
Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas memasok peralatan pertanian berupa traktor tangan untuk para petani yang berdekatan dengan perusahaan pemasokk bahan baku kertas, PT Finnantara Intiga di Kalimantan Barat. Selain itu, APP Sinar Mas juga ikut membina para petani untuk meningkatkan produktivitas.
"Perusahaan memfasilitasi petani dengan menyediakan lahan sampai dengan peralatan serta pengetahuan seputar pertanian yang mendukung produktivitas," ujar Social & Security Departement Head PT Finnantara Intiga, Syamsul Fikar dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (25/7).
Salah satu petani binaan Program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) asal Desa Mengkiang, Kalimantan Barat bernama Lidat. Petani berusia 47 tahun ini menuturkan setelah panen padi sekitar dua bulan lalu, dia yakin bahwa praktik bertani yang kini dijalaninya memang menarik untuk diterapkan.
Peralatan yang sangat membantu Lidat dalam mengolah sawahnya adalah traktor tangan yang terbukti mampu menekan biaya produksi dalam membajak tanah sebelum penanaman padi. "Jauh sekali ongkosnya. Dulu kami harus mengeluarkan biaya Rp 2 juta lebih untuk membayar buruh cangkul," tegasnya.
Dengan menggunakan traktor tangan ini, Lidat mengaku biaya membajak sawah turun menjadi Rp 400.000. Dari segi produktivitas, juga terjadi kenaikan yang cukup signifikan.
Sebelumnya Lidat dapat memanen padi sebanyak 60 karung atau sekitar 4,5 ton, kini bisa mencapai 105 karung atau sekitar 7,8 ton melonjak sekitar 57 persen. Lidat pun bersemangat dan turut mengajak warga lain untuk menerapkan metode bertani yang serupa.
Lidat bukanlah satu-satunya petani asal Desa Mengkiang yang telah mengikuti program DMPA dan merasakan hasilnya. Dari dukuh Sungai Langer, seorang petani karet bernama Daniel juga tak kalah antusias menceritakan pengalamannya.
Daniel mengaku sangat terbantu dengan Program DMPA, terutama dengan disediakannya lahan, pupuk, serta ilmu baru dalam bercocok tanam. Serupa dengan Lidat, kini Daniel telah meninggalkan cara bertani lamanya dengan memilih untuk tidak berpindah ladang dan membakar lahan.
"Penghasilan sudah lumayan untuk sehari-hari. Kami juga tidak bergantung pada satu jenis tanaman saja," kata Daniel.
Desa Mengkiang merupakan satu dari beberapa desa yang menjadi fokus program DMPA di Kalimantan Barat. Syamsul Fikar berkisah bahwa desa ini memiliki riwayat kebakaran lahan sejak tahun 1980 sampai pertengahan 1997 akibat pembukaan lahan pertanian dengan cara membakar.
Syamsul menegaskan tujuan Program DMPA selain memberdayakan petani agar lebih sejahtera secara ekonomi, juga menekankan penerapan praktik bertani yang memerhartikan kelestarian lingkungan.
"Penyuluhan dan pembinaan mengenai tatacara pembukaan lahan yang lebih aman dan bertanggung jawab gencar kami lakukan, sehingga potensi terjadinya kebakaran di Desa Mengkiang dapat diredam," pungkas Syamsul.
Selain itu, PT. Finnantara Intiga juga memperkenalkan konsep berladang tanpa bakar dengan menggunakan handtractor dalam membuat jalur tanam tahunan, jalur tanam palawija, dan jalur tanam padi sehingga masyarakat bisa panen sepanjang tahun.
Bentuk dukungan terbaru APP terhadap masyarakat Kalbar adalah turut berpartisiasi dalam Kongres Dayak Internasional di Pontianak yang berlangsung sejak 23 hingga 27 Juli 2017. Kongres yang diselenggarakan bersamaan dengan pameran kebudayaan ini akan menghadirkan sejumlah stakeholder dan pemateri yang berkompeten di bidangnya, termasuk menteri Kabinet Kerja yang didapuk sebagai pembicara.
Baca juga:
Menengok dampak aturan lahan gambut ke industri kertas nasional
Pengusaha kuliner harap pengurusan sertifikasi halal tak jadi beban
Semester I-2017, Kobexindo Tractor bukukan laba Rp 10,7 miliar
Akhir Juli, seluruh komunitas game dunia kumpul di Jakarta
Ekonomi meroket dibanggakan Jokowi tak dirasakan masyarakat
Soal lahan gambut, Pekerja industri kehutanan terancam di-PHK massal
Pemerintah didorong naikkan harga eceran gula jadi Rp 14.000 per Kg