Tidak boleh ada kelangkaan BBM lagi
Pemerintah meyakini, kuota subsidi BBM bakal over kuota lagi tahun ini.
Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi khususnya solar yang terjadi di beberapa daerah benar-benar membuat pemerintah harus berpikir ekstra keras untuk menyelesaikan persoalan ini. Terlebih, kelangkaan BBM bersubsidi berpotensi mengganggu kehidupan perekonomian daerah tersebut.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan, tidak boleh ada lagi kelangkaan BBM bersubsidi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengakui kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang ditetapkan sebanyak 46,01 juta kiloliter (KL) tidak akan mencukupi kebutuhan masyarakat. Hal tersebut membuat kelangkaan yang banyak terjadi di daerah-daerah.
"Ke depan tidak boleh ada kelangkaan BBM. tidak boleh ada kelangkaan sehingga transport kita terganggu," tegas Hatta di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (23/4).
Hatta menyadari bahwa kelangkaan solar di beberapa daerah tidak lepas dari terbatasnya kuota subsidi BBM khususnya solar, pada tahun ini. Kuota solar tahun ini sebesar 14,28 juta kl, lebih kecil dibandingkan dengan kuota solar subsidi tahun 2012 yang mencapai 15,56 juta kl.
Menurutnya, kuota itu tidak akan cukup. "Kuota BBM pasti terlampaui. Sementara kalau kuota diterapkan harian tentu akan menimbulkan antrean, itu menimbulkan cost logistik naik, implikasinya pada inflasi. Jadi memang enggak realistis 46 juta kl," katanya.
Hatta masih meyakini pengendalian konsumsi BBM yang efektif adalah menggunakan teknologi informasi.
Sebelumnya, berbagai spekulasi mengenai penyebab Kelangkaan BBM bersubsidi khususnya solar di beberapa daerah, mulai bermunculan. Pertamina melihat kelangkaan solar bukan terletak pada distribusi. Menteri BUMN Dahlan Iskan melihat kelangkaan solar akibat kuota yang dibatasi.
Kementerian ESDM punya pandangan sendiri. Kelangkaan solar di beberapa daerah terjadi akibat makin kencangnya isu mengenai kebijakan menjual premium dua harga yang rencananya mulai dijalankan bulan depan.
"Biasanya begini, kita beli katakanlah 40 liter, karena isu itu (dual prize) langsung beli 80 liter. Kan gitu. Kita lihat dulu deh," ujar Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Susilo Siswoutomo di Jakarta, Selasa (23/4).
Dia juga tidak segan menyebut ada pihak-pihak yang memanfaatkan kondisi yang ada saat ini. Salah satunya dengan menjual harga BBM bersubsidi di atas harga pasaran. "Masalahnya kan ada teman-teman yang punya pemikiran beda. Mereka pakai akal-akalan, seolah-olah kami merampas hak-hak mereka," ungkap Susilo.
(mdk/noe)