Terungkap! Okupansi Hotel Lombok Melonjak 93% Jelang MotoGP Mandalika 2025, Isu Sepi Penonton Terbantahkan
Okupansi hotel di Lombok melonjak hingga 93% jelang MotoGP Mandalika 2025, membantah kekhawatiran sepinya penonton. Simak bagaimana event ini menggerakkan ekonomi lokal!
Tingkat keterisian kamar hotel atau okupansi di berbagai wilayah di Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), melonjak tajam menjelang gelaran MotoGP Indonesia di Sirkuit Mandalika pada 3-5 Oktober 2025. Fenomena ini menjadi sorotan utama mengingat adanya kekhawatiran awal mengenai potensi sepinya penonton pada event balap motor bergengsi tersebut.
Lonjakan okupansi hotel ini telah terasa sejak awal pekan balapan, menyebar merata di sejumlah destinasi utama seperti Kota Mataram, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah, dan Senggigi, Lombok Barat. Hal ini secara langsung menunjukkan antusiasme tinggi dari para penonton dan wisatawan yang ingin menyaksikan langsung ajang balap internasional tersebut.
Kepala Dinas Pariwisata NTB, Ahmad Nur Aulia, mengonfirmasi bahwa rata-rata hunian hotel di Lombok kini mencapai angka 93 persen, menjadikannya salah satu rekor tertinggi selama penyelenggaraan MotoGP di Sirkuit Mandalika. Capaian ini sekaligus membuktikan bahwa event MotoGP Mandalika 2025 mampu menarik minat kunjungan yang luar biasa.
Kekhawatiran Terbantahkan, Sektor Perhotelan Bergairah
Sebelum event MotoGP Mandalika 2025 dimulai, sempat beredar isu mengenai penjualan tiket yang tidak seramai sebelumnya, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha perhotelan. Namun, situasi berbalik drastis menjelang hari-H balapan, di mana kamar-kamar hotel dari Mataram hingga Mandalika habis dipesan.
Ahmad Nur Aulia menyatakan, "Dari hasil pantauan tim kami, okupansi di Kota Mataram sudah mencapai 90 persen, sedangkan di kawasan Mandalika malah penuh 100 persen." Angka ini secara tegas membantah isu sepinya penonton dan menunjukkan daya tarik kuat MotoGP Mandalika.
Kawasan wisata Senggigi juga turut merasakan dampak positif dengan tingkat keterisian kamar lebih dari 80 persen, melengkapi gambaran keseluruhan lonjakan okupansi. "Awalnya banyak yang khawatir karena kabar tiket belum habis terjual. Tapi menjelang balapan, situasinya berbalik cepat. Hotel penuh, jalanan ramai, dan atmosfer-nya luar biasa," tegas Aulia.
Lonjakan ini menjadi sinyal positif bagi pelaku usaha perhotelan setelah beberapa tahun menghadapi fluktuasi pariwisata. Keberhasilan ini juga menunjukkan resiliensi sektor pariwisata Lombok dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan momentum event internasional.
Promosi Lintas Sektor dan Dampak Ekonomi Luas
Keberhasilan melonjaknya okupansi hotel jelang MotoGP Mandalika 2025 tidak lepas dari kerja sama lintas sektor yang solid. Pemerintah daerah bersama pelaku industri wisata gencar melakukan promosi di berbagai platform digital, termasuk mendorong paket wisata terpadu yang menarik minat penonton dari luar daerah.
"Promosi yang dilakukan semua pihak membuahkan hasil luar biasa. Dari H-1 MotoGP, hotel-hotel di Mataram sudah melonjak ke angka 90 persen okupansi," ungkap Ahmad Nur Aulia. Strategi promosi yang efektif ini berhasil menarik perhatian wisatawan dan mengisi penuh akomodasi yang tersedia.
Dampak positif MotoGP Mandalika kali ini bahkan dirasakan hingga ke sektor pendukung lainnya, seperti transportasi, kuliner, dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang ikut menikmati derasnya arus wisatawan. "Event internasional seperti MotoGP ini bukan hanya mengangkat nama NTB, tapi juga menghidupkan semua lini ekonomi. Dari hotel besar hingga pedagang kecil, semuanya merasakan manfaatnya," tegas Aulia.
Aulia optimistis momentum MotoGP Mandalika akan memperkuat posisi Lombok sebagai destinasi unggulan pariwisata nasional. Ia berharap dampak positif ini tidak hanya berhenti pada gelaran tahun ini, tetapi terus berlanjut ke berbagai event mendatang, menjadikan MotoGP sebagai motor penggerak ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews