Temui Luhut, ExxonMobil minta kontrak East Natuna diperbaiki
Presiden ExxonMobil Indonesia Daniel Wieczynski menyambangi kantor Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, hari ini. Dalam pertemuan tersebut, bos ExxonMobil melaporkan mengenai kemajuan proyek East Natuna. ExxonMobil sepakat untuk memproduksi minyak terlebih dahulu di East Natuna.
Presiden ExxonMobil Indonesia Daniel Wieczynski menyambangi kantor Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, hari ini. Dalam pertemuan tersebut, bos ExxonMobil melaporkan mengenai kemajuan proyek East Natuna.
Menteri Luhut mengatakan ExxonMobil sepakat untuk memproduksi minyak terlebih dahulu di East Natuna. Selain itu, perusahaan migas Amerika Serikat ini juga meminta perbaikan kontrak bagi hasil.
"Soal kontraknya, perbaikan di sana sini, untuk menguntungkan kedua belah pihak, sampai pada progres yang mereka lakukan, mereka akan mulai dengan yang ada minyaknya dulu, baru nanti yang ada gasnya, seperti itu," kata Luhut di kantornya, Jumat (6/1).
Terkait penerapan kontrak bagi hasil, katanya, saat ini masih dibicarakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Dalam kontrak tersebut, ExxonMobil juga menggandeng PT Pertamina (Persero) dan PTT EP Thailand. "Sudah. Lagi dibicarain sekarang dengan pak Arcandra (Wamen ESDM)," kata Luhut.
Lebih lanjut, Luhut menambahkan kontrak bagi hasil dalam proyek East Natuna akan saling menguntungkan, baik operator maupun pemerintah. Penandatanganan kontrak bagi hasil Blok East Natuna terus mundur lantaran belum adanya kesepakatan pemerintah dan konsorsium mengenai syarat dan ketentuan kontrak.
Konsorsium meminta agar syarat dan ketentuan dalam draf PSC atraktif secara ekonomi. Sayangnya, pengembangan gas masih terkendala teknologi dan risiko kerusakan pipa karena kadar karbon dioksida yang mencapai 72 persen.
"Yang jelas kita mau semua menguntugkan," pungkasnya.
Baca juga:
Avtur mengalami peningkatan konsumsi selama Natal dan Tahun Baru
ExxonMobil tunggu izin Amdal tingkatkan produksi Blok Cepu
Pertamina 'bajak' pegawai Total pengelola Blok Mahakam
Presiden Jokowi: Sangat berbahaya bila terus bergantung BBM impor
Produksi gas Subang Field 2016 capai 103 persen dari target
Raup Rp 40 T di 2016, Pertamina pertama kali kalahkan laba Petronas
Awal 2017, PT Pertamina EP ngebor 2 sumur baru