Tak melulu buruk, ini daftar keuntungan dari rokok
Omzet bisnis industri tembakau nasional bisa mencapai bernilai triliunan Rupiah.
Bicara soal tembakau tak bisa dipisahkan dari sejarah kejayaan di zaman kolonial Belanda dan bisnis industri rokok era tradisional hingga modern. Budidaya tembakau mulai dilakukan Belanda ketika menjajah Indonesia. Direktorat Jenderal Bea Cukai mencatat hingga tahun lalu cukai rokok menyumbang penerimaan cukai terbesar. Di mana, per Januari 2015, penerimaan cukai sebesar Rp 144,6 triliun. Angka ini meningkat 22,2 persen dibanding periode sama tahun lalu. Pemerintah berencana menaikkan pajak pertambahan nilai (PPN) atas produk hasil tembakau (HT) atau rokok sebesar 0,3 persen. Pemerintah akan memberlakukan aturan ini mulai tahun depan. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), M Hanif Dhakiri mengatakan, melindungi tenaga kerja sektor tembakau adalah salah satu bentuk kehadiran negara. Menurutnya, tenaga kerja sektor tembakau jumlahnya jutaan orang dan tersebar dari hulu hingga hilir. Dilansir dari lifescience, merokok juga bermanfaat bagi kesehatan. Sejumlah manfaatnya ialah mengurangi risiko penyakit parkinson, cepat sembuh dari penyakit jantung, mencegah asma dan alergi, nikotin membunuh kuman penyebab TBC, dan menekan risiko obesitas.
Saat itu, Belanda sengaja menumbuhkembangkan tembakau Indonesia yang diakui punya kualitas nomor wahid untuk bahan baku rokok baik cigarette maupun cerutu. Terangkatlah nama Tembakau Deli hingga ke benua biru, Eropa.
Meskipun dalam perjalanannya mengalami pasang surut, industri tembakau lokal tetap bertahan. Kekuatannya terletak dari tingginya konsumsi rokok di masyarakat. Indonesia adalah negara ketiga konsumsi rokok terbesar dunia setelah China dan India. Tidak heran jika omzet bisnis industri tembakau nasional bisa mencapai bernilai triliunan Rupiah.
"Omzet bisa hampir Rp 500 triliun," ujar Wakil Ketua Asosiasi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Budidoyo saat berbincang dengan merdeka.com.
Menteri Perindustrian Saleh Husin mengakui cukai rokok adalah salah satu penyumbang devisa negara yang sangat besar. Oleh karena itu pihaknya akan tetap mencari jalan tengah bagaimana industri rokok ini tetap bisa berjalan dengan baik.
Menteri Saleh menegaskan bahwa industri rokok kretek ini menjadi heritage bangsa Indonesia. "Ini budaya nenek moyang yang usianya ratusan tahun yang harus dipertahankan," pungkasnya.
Lalu, apa lagi untung dari industri rokok? Berikut merdeka.com akan merangkumnya untuk pembaca.Sumbang penerimaan cukai
Dari total penerimaan cukai itu, rokok menjadi penyumbang terbesar yakni 96 persen atau Rp 139,5 triliun.
Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi mengatakan perlambatan ekonomi diperkirakan akan menurunkan angka penerimaan saat ini. Namun, pihaknya telah melakukan langkah antisipasi berupa intensifikasi pembeaan, berupa Nota Pembetulan (Notul), Penelitian Ulang (Penul), dan audit.Penyumbang pajak
Kepala Kepabeanan dan Cukai Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Nasrudin Joko Suryono, mengatakan saat ini PPN HT ialah sebesar 8,4 persen. Pemberlakuan kenaikan pajak ini akan membuat harga rokok kian mahal.
"Di tahun 2016 PPN hasil tembakau akan meningkat," ujarnya di Jakarta.
Dia menjelaskan kenaikan tarif PPN ini bertujuan untuk meningkatkan penerimaan negara. Secara umum, Indonesia merupakan produsen tembakau terbesar ketiga dunia. Di mana China berada di urutan pertama dan disusul Brazil di urutan kedua.Penyerap tenaga kerja besar
"Sampai saat ini produksi tembakau nasional masih bertumpu pada penyerapan industri nasional yang berupa produk kretek dan ini yang paling banyak menyerap tenaga kerja," kata M Hanif Dhakiri.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Agus Pamuji mengungkapkan fakta lain terkait penerimaan negara dari Industri Hasil Tembakau (IHT) juga tidak bisa disepelehkan. Selama ini IHT memberi sumbangsih besar terhadap pendapat negara.
"Di tahun 2015 IHT menyumbang pendapatan negara sebesar Rp 162,2 triliun," katanya.Rokok bermanfaat untuk kesehatan
Menurut penelitian, ibu hamil di Swedia yang merokok 15 batang per hari ternyata melahirkan bayi dengan risiko menderita asma dan alergi yang lebih rendah.
Selain itu, studi dalam jurnal Physicology and Behavior oleh peneliti dari Universitas Yale, mengungkapkan orang-orang yang berhenti merokok akan mengalami kenaikan berat badan drastis.