Tak laku di pasaran, daging sapi impor banyak lemak
"Daging baru datang suruh jual Rp 80.000, masyarakat tidak bodoh. Tapi kalau banyak lemak gimana?," ujar dia.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Ngadiran mengatakan kualitas daging sapi impor dan daging sapi lokal mempengaruhi tingkat beli masyarakat. Meski harga daging impor hanya sebesar Rp 80.000, namun kualitas daging yang dimiliki belum tentu lebih baik dari daging sapi lokal yang harganya bisa menembus Rp 120.000.
"Kalau yang lihat kualitasnya, daging impor beku kan banyak lemaknya. Jadi yang namanya daging baru malem motong dengan yang lima hari atau sebulan jelas beda," ujar Ngadiran di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Jumat (10/6).
Sehingga, meski pemerintah bisa membuat harga daging sapi lebih murah, namun hal tersebut belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat akan daging yang berkualitas.
"Daging baru datang suruh jual Rp 80.000, masyarakat tidak bodoh lah. Tapi kalau banyak lemak gimana? Memang laku, tapi kalau nanti dimasak alot, pemerintah tidak mikir. Kenikmatannya beda," jelas dia.
Sejumlah pedagang di Kota Bandarlampung menjual daging sapi dengan harga tinggi. Impor daging beku dari Australia dan Selandia Baru yang telah dipasarkan sama sekali tidak mempengaruhi harga.
"Harga daging segar sapi tetap berkisar Rp 120.000- Rp 130.000 per kg atau belum turun, karena banyak warga yang memilih daging segar dibandingkan daging beku meski harganya lebih murah," kata Andre, salah satu pedagang daging sapi di Pasar Lelang Bandarlampung, seperti dikutip dari Antara, Kamis (9/6).
Menurut Andre, harga daging sapi hasil penggemukan tetap tinggi karena harga sapi di feedloter atau penggemukan dan rumah potong hewan masih bertahan tinggi.
"Hari ini (Kamis) saya beli sapi seharga Rp 42.700 per kg, padahal sebelumnya Rp 42.500 per kg. Bahkan harga sapi sudah ada yang mencapai Rp 43.000 per kg. Penyebab utama tingginya harga daging sapi bukan di pengecer," pungkas dia.
(mdk/sau)