Tahukah Anda? Chandra Asri Dukung Energi Bersih, Wujudkan Kota Hijau Berkelanjutan Lewat PLTS
Chandra Asri Group berkomitmen mendukung penyediaan energi bersih melalui pengembangan PLTS, langkah nyata wujudkan kota hijau berkelanjutan dan transisi energi nasional. Simak selengkapnya!
Chandra Asri Group, anak usaha Barito Pacific Group, menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung penyediaan energi bersih. Inisiatif ini diwujudkan melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai langkah konkret untuk mewujudkan kota hijau berkelanjutan yang ramah lingkungan.
Langkah strategis ini juga sejalan dengan upaya nasional dalam mendukung transisi energi dari sumber fosil ke energi terbarukan. Komitmen ini menegaskan peran penting sektor swasta dalam mencapai target keberlanjutan lingkungan dan energi di Indonesia.
Manajer Ekonomi Sirkular dan Kemitraan Chandra Asri Group, Nicko Setyabudi, menjelaskan bahwa sektor energi baru terbarukan (EBT) menjadi salah satu fokus utama bisnis perusahaan. Hal ini termasuk pengembangan fasilitas listrik yang lebih hijau, seperti yang dilakukan oleh anak usaha mereka, Krakatau Chandra Energy di Cilegon.
Peran Chandra Asri dalam Transisi Energi
Chandra Asri Group, sebagai bagian dari Barito Pacific, secara aktif berinvestasi pada sektor energi terbarukan. Anak usaha mereka, Krakatau Chandra Energy, berencana menghadirkan listrik yang lebih hijau menggunakan panel surya di Cilegon.
Nicko Setyabudi menegaskan bahwa Energi Baru Terbarukan (EBT), khususnya panel surya, akan menjadi tren masa depan dalam pengadaan listrik. Ini mengingat masih tingginya ketergantungan pada bahan bakar fosil yang berdampak pada lingkungan.
Pengembangan PLTS oleh Chandra Asri merupakan upaya nyata dalam mengurangi jejak karbon dan mendukung ketersediaan energi bersih. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi industri lain untuk beralih ke sumber energi yang lebih lestari.
Tantangan dan Solusi Transportasi Berkelanjutan
Topik energi bersih tidak hanya relevan untuk industri, tetapi juga krusial bagi sektor transportasi. Ketergantungan pada kendaraan pribadi berbahan bakar fosil menjadikan transportasi sebagai penyumbang utama polusi udara di perkotaan.
Direktur Operasional dan Keamanan PT Transjakarta, Daud Joseph, mengungkapkan upaya Transjakarta untuk beralih ke transportasi rendah emisi. Transjakarta menargetkan untuk menyediakan 300 bus listrik dan secara bertahap mengganti semua armadanya dengan bus listrik pada tahun 2030.
“Bus-bus kami semua akan beralih ke bus listrik. Sekarang, kami mengoperasikan 570 bus listrik dan akan bertambah terus 1.000 unit setiap tahun menjadi 10.000 unit pada 2030,” ujar Daud.
Namun, tantangan inklusivitas dalam sistem transportasi masih besar. Data dari Institute for Transportation & Development Policy (ITDP) Maret 2024 menunjukkan bahwa cakupan transportasi publik yang terintegrasi di Jabodetabek masih timpang:
- Jakarta menjangkau 78% wilayahnya.
- Kota-kota satelit di Bodetabek baru menjangkau antara 8% hingga 29%.
Keterbatasan akses ini memaksa banyak warga bergantung pada kendaraan pribadi, memperparah kemacetan dan kesenjangan mobilitas. Southeast Asia Director ITDP, Gonggomtua E. Sitanggang, menekankan bahwa penggunaan energi bersih, khususnya melalui kendaraan listrik, adalah kunci menuju transportasi ramah lingkungan dan inklusif. Hal ini penting untuk menciptakan kota yang lebih padat dan efisien.
Sumber: AntaraNews