LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Susi dibully, Susi membela diri

Penenggelaman tiga kapal nelayan Vietnam di Pulau Anambas menjadi pemicu. Kata orang itu bukan kapal melainkan perahu.

2014-12-09 09:30:41
Kapal Asing
Advertisement

Ini kisah tentang Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (lagi). Kali ini dia meradang sepak terjang menegakkan kedaulatan maritim Indonesia diolok-olok sebagian orang.

Penenggelaman tiga kapal nelayan Vietnam di Pulau Anambas menjadi pemicu. Kata orang itu bukan kapal melainkan perahu kayu. Ditambah lagi benda itu sudah menjadi rongsokan sejak dua tahun lalu.

"Saya tenggelamkan kapal Vietnam kemarin tiga dan sekarang diledek. Kenapa tidak kapal besar?" kata Susi dalam Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri (Rapimnas Kadin) Indonesia , Jakarta, kemarin.

Kata Susi, tiga kapal ditenggelamkan itu berukuran 70 gross tonnage (GT). Lumayan besar untuk ukuran kapal nelayan di Indonesia.

Jadi, siapa bilang tiga kapal ditenggelamkan kecil? "Jangan bulliying kami, itu ukurannya 70 GT. Mungkin kameramen ambil jauh, jadi kelihatan kecil," bela Susi

Berangkat dari kasus ini, Susi sadar, pintu olok-olok kian terbuka lebar. Namun, dia tak gentar menjalankan segala kebijakan sambil sesekali melakukan pembelaan.

Berikut adalah sedikit pembelaan Susi Pudjiastuti:

Bukan kebijakan hangat-hangat tahi ayam

Susi berulangkali mengungkapkan, pihaknya telah menjalankan moratorium atau penghentian sementara pemberian izin penangkapan ikan oleh kapal besar. Selain itu, ada juga pelarangan transhipment atau alih muatan di tengah laut.

Semua itu bertujuan menghilangkan aksi pencurian ikan Indonesia atau illegal fishing. Seiring itu, tak sedikit pihak memandang sebelah mata.

Mereka menduga Susi hanya akan "galak" di awal saja, setelah itu biasa saja atau bahkan melempem.

"Kami mendapat cibiran kalau kebijakan ini hangat-hangat tahi ayam, sudah capek nanti berhenti," kata Susi. "Tapi kami akan membuktikan tidak akan berhenti."

Advertisement

Sudah "kantongi" kapal besar asing ilegal

Susi Pudjiastuti menyadari penenggelaman tiga kapal nelayan kecil Vietnam di Pulau Anambas, Kepulauan Riau menjadi olok-olok sebagian masyarakat. Ini lantaran kapal berukuran 70 gross tonnage (GT) tersebut sejatinya sudah menjadi rongsokan sejak ditangkap pada 2012.

"Saya tenggelamkan kapal Vietnam kemarin tiga dan sekarang diledek. Kenapa tidak kapal besar?" kata Susi

Untuk itu, Susi sudah punya jawabannya. Dia mengaku sudah "mengantongi" kapal berukuran 300 GT asal Thailand.

"Yang gede, 200-300 GT, saya simpan. Apa salah saya, ndak tho?" katanya. "Sebetulnya kalau kita kasih tahu orang Thailand kan tidak bagus."

Susi juga mengungkapkan berhasil menangkap 22 kapal China berlayar ilegal di laut Arafuru. Kapal berukuran mencapai 300 gross tonnage (GT) itu kedapatan tak menggunakan sistem identifikasi otomatis (AIS), sesuatu diwajibkan selama berlayar di perairan Indonesia.

"Kami tangkap kemarin jam 3 sore. Hasil tangkapan akan di bawa ke Tiongkok," ucap Susi dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (8/11).

Namun, jawaban Susi masih menggantung. Dia tidak menegaskan, apakah kapal-kapal itu bakal ditenggelamkan?

"Saya juga sudah minta Menlu menghubungi dubes Tiongkok dan membicarakan ini. Kita pembicaraan hati ke hati. Komitmen bersama dunia atas pelarangan praktek ilegal fishing karena tidak ramah lingkungan."

Advertisement

Kebijakannya bikin harga ikan turun

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut komoditi perikanan menyumbang deflasi 0,02 persen pada November lalu. Itu lantaran terjadi penurunan harga ikan, terutama tenggiri dan bawal putih.

Susi Pudjiastuti mengklaim, itu buah keberhasilannya menjalankan moratorium penangkapan ikan dan melarang transhipment. Padahal, kebijakan itu baru dijalankan kurang dari satu bulan.

Untuk itu, Susi menuntut imbalan. Dia minta anggaran kementeriannya ditambah Rp 10 triliun.

"Saya kemarin sudah ke Menko Maritim dan Menko Perekonomian. Saya nyumbang deflasi, mana upahnya? Saya minta Rp 10 triliun," ujar Susi.

Uang sebesar itu, lanjutnya, bakal digunakan untuk membeli beberapa kapal nelayan. "Nah makanya tadi dipanggil, rupanya nanti saya kecipratan dana lebihan," ungkap Susi.

Ancamannya bikin gentar negara lain

Susi Pudjiastuti mengatakan ancaman penenggelaman membuat Malaysia memasang alat pendeteksi di kapal nelayan. Alat pendeteksi bakal berbunyi jika nelayan Malaysia memasuki perairan Indonesia.

Jika demikian, pemerintah negeri jiran tersebut bakal meminta nelayan untuk segera berbalik. "Mereka juga tidak mendukung bangsanya menjadi pencuri," kata Susi

Dia menegaskan, ancaman penenggelaman kapal tidak dirancang untuk merusakan hubungan baik Indonesia dengan negara lain. Untuk mencegah itu, dia sudah berkomunikasi terlebih dulu dengan perwakilan negara tetangga di Tanah Air.

"Duta besar Thailand sudah dua kali bertemu dan bicara. Bahkan mereka mendukung dan menyebut sudah mengumumkan ke semua nelayan mereka agar tidak memancing ke Indonesia lagi," ucap Susi.

(mdk/bim)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.